"Orang bersedia mati demi uang dan cinta. Tapi orang tak siap mati untuk kedamaian. Tak sehebat efek sihir uang dan cinta, rasa damai belum banyak menelan korbannya. Itu artinya, orang bisa mendapatkan rasa damainya dengan mudah, tak susah. Tak perlu mati-matian, apalagi menjual diri. Orang setengah hati, setengah jalan, sambil lalu, malah bisa saja menemukan rasa damainya. Justru, rasa damai yang dikejar-kejar melalui jalur jabatan, kekuasaan, uang dan kemapanan, malah pergi menjauh. Di dalam kemewahan, damai pergi. Di dalam penolakan, stress menghampiri. Rasa damai itu dimana-mana karena sumbernya adalah kesederhanaan dan penerimaan. Di kantor, di super-block megapolitan, di desa terpencil, di gunung, di hutan, di rumah, di jalan, di pasar, di rumah sakit, di lapangan futsal, di kantin, di apartemen, di ruang pengadilan, di penjara, di kamar mandi, di tempat ibadah, semua ada rasa damai. Untuk mengejar damai, tak harus lari camping ke gunung atau meninggalkan pekerjaan sekuler, lalu menjadi hamba Tuhan. Di gunung, jika berteman dengan dukun, percuma. Di mimbar, jika hanya jualan janji, percuma. Investasinya murah, kesederhanaan dan penerimaan. Justru, yang sederhana dan sikap menerima, sering dibuat "complicated" oleh kehidupan orang yang ruwet. Kehidupan harus dibuat sesederhana mungkin. Segala keadaan harus diterima dulu. Setelah segala sesuatu menjadi mudah dijalani, enak diterima dan dibagikan, maka siapa saja, dimana saja, akan mendapatkan rasa damai dan rasa bahagianya. Kedamaian, selangkah diatas sukses dan itulah satu-satunya jalan menuju bahagia."
Seorang kawan, bercerita tentang keyahudian agamanya : "Apa saja yang kau benci, jangan kau lakukan pada sesamamu. Itulah keseluruhan taurat, sisanya hanya penjelasan." Semua agama, mirip itu, dari sisi yang baik. Kawan lainnya, ia berbagi tentang Zoroaster : "Jiwa yang baik, hanyalah jiwa yang tidak melakukan pada sesamanya, apa yang tidak baik bagi dirinya sendiri." Kawan satu lagi, tidak mau kalah, "Tidak seorang pun diantaramu adalah seorang mukmin, kecuali dia menginginkan bagi saudaranya, apa yang diinginkannya bagi dirinya sendiri. Kawan dari Bahai, "Berbahagialah dia yang lebih mendahulukan saudaranya, dari pada dirinya sendiri." Setiap jalan dimana saja dan kapan saja, sudah membagikan jalan damai dan bahagianya. Tinggal, manusia menjalaninya. Ada yang melakukan terobosan hidup. Ada pula yang biasa-biasa saja. Ada juga yang spektakuler, membunuh dirinya sendiri atau membunuhi orang lain.
Di jalan yang biasa-biasa saja, ada kawan yang malah menemukan masa "keemasannya" setelah pensiun kerja di TV swasta. Di kawasan rumahnya sendiri ia menemukan rasa damai yang dalam, tanpa melalui "hingar-bingar" jalanan, tipu sana-tipu sini dan dunia gemerlap. Dengan "mendekat kembali" ke keluarga inti, ia telah menikmati hidupnya kembali. Di halaman rumahnya sendiri itulah, ia merasakan banyak damai yang ia dengar cantik via kotbah sorga dari mimbar dan seminar. Di meja makan dan di dapurnya, ia bisa mendengarkan kembali lantunan nyanyian dan celotehan sang istri. Burung-burung yang ia pelihara, telah dirawatnya kembali, setelah ia tinggalkan via tukang kebun. Ia melihat anak-anaknya sudah besar. Namun, baru sebentar ia merasakan nikmatnya kehidupan, sang istri tiba-tiba dipanggil Tuhan. Ia telah belajar menerima.
Kawan yang lainnya lagi, menemukan damainya saat sudah "selesai" dengan tugas hidup. Ada yang kerjaannya hanya olah raga setiap hari. Ada yang rajin sholat tiap waktu tanpa absen. Ada yang terus beramal dan bersosialisasi. Ada yang momong cucu dengan gembira, setiap hari. Ada lagi yang tinggal berkebun sepanjang hari dan beribadah. Tapi ada juga yang masih mencari kerjaan baru dan bisnis baru, meski sudah pensiun. Ada yang malah sibuk mencari jabatan wakil rakyat, setelah purna tugas. Semua jalan, memberi rasa damainya masing-masing. Selama jalan yang dipilihnya, tidak membuatnya menderita. Tetap sederhana, mau menerima dan masih bisa berbagi kasih sayang.
Tapi bukan seperti kisah fantastis, penemuan kedamaian yang palsu dari kisah nyata "into the wild." Christopher McCandless petualang muda mati lemas keracunan makanan hutan di dalam camping-van, di hutan rimba Alaska, sendirian, awal tahun 1992. Alaska, land of the midnight sun, the great land, state terbesar, pantai terpanjang, yang paling jarang dihuni, sepi dan dibeli dari Rusia oleh Amerika, tahun 1867. Hutan Alaska adalah kawasan hutan liar di utara Amerika, dekat Canada dan Rusia. Kisahnya ditulis dalam kisah novel non-fiksi oleh Jon Krakauer tahun 1996. Di filmkan oleh Sean Penn dan masuk box office. Filmnya bagus dan dinominasikan di 2 Golden globes dan di 2 Academy awards. Di catatan buku dairynya terakhir menjelang mati, Christopher menulis: "...ternyata bahagia itu "bukan" hidup menyendiri di hutan, menjauhi keramaian, tetapi into the family. Aku baru sadar, berbahagia itu berbagi kehidupan dengan orang lain..."
Namun ia terlambat menyadarinya. Dua minggu kemudian, mayatnya di dalam "sleeping bag," ditemukan oleh pemburu hutan. Jenasah abunya dibawa oleh Carine, adiknya, ke orang tua mereka di Virginia. Rasa damai itu dimana-mana saja, ketika kita berusaha "membantu" mahluk lain. Dan ketika tidak bisa membantu, paling tidak kita tidak menyakitinya. Disitulah bermuara pencerahan sempurna setiap ciptaan, termasuk bagi Christopher. Di tengah keramaian, orang sering kesepian setengah mati. Di tengah hiruk pikuk dan kejar tayang, orang pun bisa bahagia setengah mati. Tapi, di kesunyian, orang bisa juga depresi dan bunuh diri. Jika mau damai, jangan pilih lokasi. Itulah lesson lernt mahal dari "into the wild."
"Jika mau damai, jangan memilih lokasi atau harus beragama tertentu. Karena banyak yang beragama, tapi tidak berTuhan perilakunya. Juga jangan memilih, harus hidup dengan seseorang. Karena seseorang yang kita ingini itu, sering tak memberi rasa bahagia. Belajarlah menerima. Lalu mengurusi diri agar menemukan damainya sendiri. Urusan damai, bukan urusan orang lain atau hidup di zaman tertentu, atau di lokasi tertentu atau di setting tertentu. You can be peaceful every where."
Seperti banyak penemu rasa damai lainnya, mereka mengambil rute jalan ramainya masing-masing, dimana "banyak perjuangan diri" dan masalah hidup yang dihadapi. Mereka-mereka yang "tak" lari dari kehidupan riil itu, seperti misalnya: John Locke, Pierre Bayle, Voltaire, Montesquieu, Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, Thich Naht Hanh, Dalai Lama, Martin Luther King Jnr, Nelson Mandela, Mother Theresa, Rabindranath Tagore, Jimmy Carter dll. Mereka menemukan rasa damai di mana saja di sepanjang kehidupan mereka. Tak harus retreat di Plum Village Perancis atau meditasi di Ubud Bali atau ikut ritual spiritual gaib. Tetapi damai itu hadir di setiap kepercayaan, di setiap interaksi, di
setiap agama dan di setiap suku bangsa dan di setiap geografi. Damai juga kapan saja, tak harus menunggu tua, seperti para pensiunan.
Kedamaian harus ditemukan oleh setiap individu yang rindu dan ingin terus berjuang untuk menemukan sendiri rasa damainya [naturally felt]. Kita harus mengalaminya sendiri di rumah kita masing-masing, di corak jalan kehidupan kita dan di takdir kita masing-masing. Di situlah rasa damai itu tersedia, seperti kata bijak tua: "Tuhan ada dimana-mana juga di dalam hati." Kita juga bisa mengambil jalan etika yang umum dan klasik, dengan menghadirkan yang baik dan mengusir yang jahat. Karena yang jahat, merampas hati kita untuk berbagi. Yang jahat musuh rasa damai, juga memanjakan banyak orang egosentris dan mencintai diri sendiri melebihi untuk Tuhan. Kejahatan itu membius dan mempesona. Yang baik, tidak. Orang yang filantrofis, cenderung tidak marketable dan tidak populer. Namun, orang yang sukses dengan jalan jahat, ramai dikerumuni orang. Berbuat baik terus saja, meski tidak untuk dikerumuni orang atau diliput media. Karena jalan itulah yang namanya jalan damai dan bahagia. Rasa damai itu, bukan dicurahkan, bukan dihadiahkan, bukan pula ditularkan atau manis dikotbahkan. Damai itu bukan non-sense.
Kedamaian harus ditemukan oleh setiap individu yang rindu dan ingin terus berjuang untuk menemukan sendiri rasa damainya [naturally felt]. Kita harus mengalaminya sendiri di rumah kita masing-masing, di corak jalan kehidupan kita dan di takdir kita masing-masing. Di situlah rasa damai itu tersedia, seperti kata bijak tua: "Tuhan ada dimana-mana juga di dalam hati." Kita juga bisa mengambil jalan etika yang umum dan klasik, dengan menghadirkan yang baik dan mengusir yang jahat. Karena yang jahat, merampas hati kita untuk berbagi. Yang jahat musuh rasa damai, juga memanjakan banyak orang egosentris dan mencintai diri sendiri melebihi untuk Tuhan. Kejahatan itu membius dan mempesona. Yang baik, tidak. Orang yang filantrofis, cenderung tidak marketable dan tidak populer. Namun, orang yang sukses dengan jalan jahat, ramai dikerumuni orang. Berbuat baik terus saja, meski tidak untuk dikerumuni orang atau diliput media. Karena jalan itulah yang namanya jalan damai dan bahagia. Rasa damai itu, bukan dicurahkan, bukan dihadiahkan, bukan pula ditularkan atau manis dikotbahkan. Damai itu bukan non-sense.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar