Astanga Yoga
[sumber: http://www.tejasurya.com/artikel-spiritual/filsafat/88-astanga-yoga.html]by Penuntun: Wayan Eka, Jl. Kenyeri, Gang Kemuning III, No. 4, Denpasar - Bali ( Sebelah Selatan SD Saraswati ) Mobile : +62 878 6022 0312, +62 85792640996
sumber gambar: http://thechalkboardmag.com/mantra-monday-the-yamas
Sekitar 100 SM, Tantra dibagi menjadi delapan cabang atau tahapan oleh Patanjali, selanjutnya diberi nama Astangga Yoga. Yoga mengedepankan kontrol atas aktivitas-aktivitas tubuh, indra, dan pikiran. Ia tidak ingin membunuh tubuh, pada sisi lain, ia merekomendasikan penyempurnaannya. Pikiran yang baik, memerlukan tubuh yang baik pula. Keduanya harus dirawat dan dikendalikan agar mampu mengantarkan kita menuju cita-cita hidup tertinggi.
Sekitar 100 SM, Tantra dibagi menjadi delapan cabang atau tahapan oleh Patanjali, selanjutnya diberi nama Astangga Yoga. Yoga mengedepankan kontrol atas aktivitas-aktivitas tubuh, indra, dan pikiran. Ia tidak ingin membunuh tubuh, pada sisi lain, ia merekomendasikan penyempurnaannya. Pikiran yang baik, memerlukan tubuh yang baik pula. Keduanya harus dirawat dan dikendalikan agar mampu mengantarkan kita menuju cita-cita hidup tertinggi.
Kemelekatan pada objek-objek duniawi
membuyarkan perhatian tubuh dan pikiran. Untuk mengatasi masalah ini,
Yoga memberikan delapan tahapan berjenjang untuk mendisiplinkan tubuh
dan pikiran.
Delapan tangga / tahapan tersebut disebut Astangga Yoga, yaitu :
(1) Yama, (2) Niyama, (3) Asana, (4) Pranayama, (5) Prathyahara, (6)
Dharana, (7) Dhyana, dan (8) Samadhi. Dua yang pertama, yaitu Yama
dan Niyama dipandang sebagai etika Yoga yang harus dilaksanakan sebelum
menginjak tahapan berikutnya.
1)
Yama, artinya pantangan yang mencakup pantang menyakiti makhluk lain
baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan (ahimsa), pantang berbuat
salah (satya), pantang mencuri (asteya), pantang mengumbar nafsu
(brahmacharya), dan pantang memiliki hak orang lain (aprigraha).
2)
Niyama, artinya pembudayaan diri dan termasuk penyucian (sauca)
eksternal dan internal, kedamaian (santosa), bertapa (tapa), belajar
(svadhyaya) dan pemujaan kehadapan Tuhan (Isvharapranidhana).
3)
Asanas secara harfiah berarti “sikap tubuh yang nyaman”. Selama dalam
gerakan yang nyaman ini tubuh tetap dalam keadaan yang sangat rileks
dan pernafasan yang sangat dalam yang secara alamiah menyertai sikap
tubuh ini, membawa sejumlah besar oksigen diserap ke dalam aliran
darah. Selama asanas energi dikumpulkan tidak dikeluarkan. Asanas
memberi efek pada setiap aspek dari fisik. Menyeimbangkan sekresi
kelenjar, mengendurkan dan memperbaiki sistim syaraf dan otot,
merangsang sirkulasi, meregangkan tendon, melenturkan persendian,
memijat organ-organ dalam dan menenangkan serta mengkonsentrasikan
pikiran. (Asanas akan mengontrol kelenjar, kelenjar akan mengontrol
sekresi/produksi hormon dan sekresi hormon akan mengontrol kecendrungan
pikiran). Kehidupan modern membuat kita selalu berpacu dengan waktu.
Tekanan pekerjaan dan peningkatan emosional akan menyebabkan depresi
yang meluas bahkan mungkin beberapa penyakit kejiwaan yang disebabkan
oleh pikiran. Kita telah kehilangan kedamaian mental kita. Yoga adalah
solusi yang jelas. Postur-postur dalam yoga akan menyeimbangkan
kelenjar endokrin yang dapat menenangkan dan mengontrol emosi kita.
Pernafasan yang dalam selama asanas akan menenangkan dan memberikan
energi yang banyak pada pikiran.
4)
Mengendalikan Energi vital (Pranayama). Hidup adalah suatu energi
(prana) dalam tubuh. Energi atau kekuatan ini menjaga fungsi-fungsi
tubuh dengan cara menggetarkan sel-sel, saraf, organ, dan lain-lain.
Getaran ini didapatkan dari denyut prana (kekuatan hidup) yang
berulang-ulang. Jika seseorang yogi mengarahkan pikirannya menuju
lapisan intuisi terhalus, maka ia harus membuat tubuhnya dalam keadaan
damai dengan cara mengendalikan denyut prana yakni dengan pranayama,
artinya mengontrol nafas dan berkaitan dengan pengaturan-pengaturan
nafas ke dalam, menahan nafas dan nafas ke luar. Ini sangat berguna
bagi kesehatan dan sangat kondusif bagi konsentrasi pikiran.
5)
Prathyahara, artinya mengontrol indra-indra dan terdiri atas penarikan
indra-indra dari objek-objeknya. Indra-indra kita mempunyai
kecendrungan yang besar bergerak ke luar untuk memenuhi keinginannya.
Indra-indra tersebut harus selalu dicek dan diarahkan agar bergerak ke
dalam, revolusi ke dalam. Ini merupakan proses introversi diri.
6)
Dharana, artinya memusatkan pikiran pada satu objek meditasi seperti
ujung hidung atau tengah-tengah jidat atau bayangan suatu deva, dan
sebagainya. Pikiran harus ditegakkan, kuat dan terfokus, seperti nyala
lilin. Ia tenang, tegak, tak tergoyahkan oleh fluktuasi-fluktuasinya.
7)
Dhyana, artinya meditasi dan terdiri atas aliran yang tak terganggu
pikiran di sekitar objek meditasi (prtyayaika-tanaka). Ini adalah
kontemplasi teguh tanpa adanya istirahat.
8)
Samadhi, artinya konsentrasi. Ini merupakan tahapan terakhir di dalam
sistem yoga. Di sini pikiran benar-benar diserap di dalam objek
meditasi. Di dalam dhyana tindakan meditasi dan objek meditasi tinggal
terpisah. Tetapi di sini mereka menjadi "satu." Ini merupakan alat bantu
tertinggi untuk merealisasikan penghilangan modifikasi-modifikasi
mental yang merupakan tujuannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar