Senin, 14 April 2014

8 Tahapan Yoga

Astanga Yoga   

[sumber: http://www.tejasurya.com/artikel-spiritual/filsafat/88-astanga-yoga.html] 
by Penuntun: Wayan Eka, Jl. Kenyeri, Gang Kemuning III, No. 4, Denpasar - Bali ( Sebelah Selatan SD Saraswati ) Mobile : +62 878 6022 0312, +62 85792640996


 

sumber gambar:  http://thechalkboardmag.com/mantra-monday-the-yamas

Sekitar 100 SM, Tantra dibagi menjadi  delapan cabang  atau tahapan oleh Patanjali, selanjutnya diberi nama Astangga Yoga. Yoga mengedepankan  kontrol atas aktivitas-aktivitas  tubuh, indra, dan  pikiran. Ia tidak ingin membunuh tubuh, pada sisi lain, ia merekomendasikan penyempurnaannya. Pikiran yang baik, memerlukan tubuh yang baik pula. Keduanya harus dirawat dan  dikendalikan  agar mampu mengantarkan kita menuju cita-cita hidup tertinggi. 

Kemelekatan pada objek-objek duniawi membuyarkan  perhatian tubuh dan pikiran. Untuk mengatasi masalah ini, Yoga  memberikan delapan tahapan berjenjang untuk mendisiplinkan  tubuh dan pikiran. 

Delapan tangga / tahapan tersebut  disebut Astangga Yoga, yaitu :   (1) Yama, (2) Niyama, (3) Asana,  (4) Pranayama,  (5) Prathyahara, (6) Dharana,  (7) Dhyana,  dan  (8) Samadhi.  Dua yang pertama, yaitu Yama  dan Niyama dipandang sebagai etika Yoga yang harus dilaksanakan sebelum menginjak  tahapan berikutnya.

1)    Yama, artinya  pantangan yang mencakup pantang menyakiti makhluk lain baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan (ahimsa), pantang berbuat salah (satya),  pantang mencuri (asteya), pantang mengumbar nafsu (brahmacharya), dan pantang memiliki  hak orang lain (aprigraha).

2)    Niyama, artinya pembudayaan diri  dan termasuk penyucian (sauca) eksternal dan internal, kedamaian (santosa), bertapa (tapa), belajar (svadhyaya) dan pemujaan kehadapan Tuhan (Isvharapranidhana).

3)    Asanas secara  harfiah berarti “sikap tubuh yang nyaman”. Selama dalam gerakan yang  nyaman ini tubuh tetap  dalam keadaan yang sangat rileks dan pernafasan yang sangat dalam yang secara alamiah menyertai  sikap tubuh ini, membawa sejumlah  besar oksigen diserap ke dalam aliran darah. Selama asanas energi  dikumpulkan tidak dikeluarkan. Asanas memberi  efek pada  setiap aspek  dari fisik. Menyeimbangkan sekresi kelenjar, mengendurkan dan memperbaiki sistim syaraf dan otot, merangsang sirkulasi, meregangkan tendon,  melenturkan persendian,  memijat organ-organ  dalam dan menenangkan serta  mengkonsentrasikan pikiran. (Asanas akan  mengontrol kelenjar, kelenjar  akan mengontrol sekresi/produksi hormon dan sekresi hormon akan mengontrol kecendrungan pikiran). Kehidupan modern membuat  kita selalu  berpacu dengan waktu. Tekanan pekerjaan dan peningkatan emosional  akan menyebabkan  depresi yang meluas bahkan mungkin beberapa penyakit kejiwaan  yang disebabkan  oleh pikiran. Kita telah  kehilangan  kedamaian mental kita. Yoga adalah solusi  yang jelas. Postur-postur  dalam yoga akan  menyeimbangkan kelenjar endokrin yang dapat menenangkan  dan mengontrol emosi kita. Pernafasan yang dalam  selama asanas akan menenangkan dan memberikan  energi yang banyak pada pikiran.

4)    Mengendalikan Energi vital (Pranayama). Hidup adalah suatu energi (prana) dalam tubuh. Energi atau kekuatan ini menjaga fungsi-fungsi tubuh dengan cara menggetarkan sel-sel, saraf, organ, dan lain-lain. Getaran ini didapatkan dari denyut  prana (kekuatan hidup) yang berulang-ulang. Jika seseorang yogi mengarahkan pikirannya menuju  lapisan intuisi terhalus, maka ia harus  membuat tubuhnya dalam keadaan damai dengan cara mengendalikan  denyut prana yakni dengan pranayama, artinya mengontrol nafas dan berkaitan dengan pengaturan-pengaturan nafas  ke dalam, menahan nafas dan nafas ke luar. Ini sangat berguna bagi kesehatan dan sangat kondusif bagi konsentrasi pikiran.

5)    Prathyahara, artinya mengontrol indra-indra dan terdiri atas penarikan  indra-indra  dari objek-objeknya. Indra-indra kita mempunyai  kecendrungan yang besar bergerak ke luar untuk memenuhi  keinginannya. Indra-indra tersebut harus selalu dicek dan diarahkan  agar bergerak ke dalam, revolusi ke dalam. Ini merupakan proses introversi diri.

6)    Dharana, artinya memusatkan pikiran pada satu objek meditasi seperti ujung hidung atau tengah-tengah jidat atau bayangan suatu deva, dan sebagainya. Pikiran harus  ditegakkan, kuat dan terfokus, seperti  nyala lilin. Ia tenang, tegak, tak tergoyahkan  oleh fluktuasi-fluktuasinya.

7)    Dhyana, artinya meditasi dan terdiri atas aliran yang tak terganggu  pikiran di sekitar objek meditasi (prtyayaika-tanaka). Ini adalah  kontemplasi  teguh tanpa  adanya istirahat.

8)    Samadhi, artinya konsentrasi. Ini merupakan  tahapan terakhir di dalam sistem yoga. Di sini pikiran  benar-benar  diserap di dalam objek meditasi. Di dalam dhyana  tindakan meditasi dan objek meditasi tinggal terpisah. Tetapi  di sini mereka menjadi "satu." Ini merupakan alat bantu tertinggi untuk merealisasikan penghilangan modifikasi-modifikasi  mental yang merupakan tujuannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar