
Life check
Bersyukur kita masih
diberi kemewahan untuk general check-up luar & dalam diri kita. Self
engine check-up cukup mudah, di
momen tenang sejenak kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri. Apakah hari-hari
ini, kita cenderung terhanyut, terhilang atau terlena dalam keseluruhan
kehidupan? [lost in connectedness, not
knowing then not going anywhere?]. Apakah kita sulit mengenali dimana
kita berada saat ini, in terms of
our life journey? Apakah suhu
tubuh meningkat karena cemas, gelisah, khawatir, tegang dan amarah yang lebih banyak hadir
dari pada rasa tenang, nyaman dan damai? Sudahkah kita melakukan
segala sesuatu dengan makna? [atau sekedar lewat atau sekadar sampai atau sekedar kejar tayang?]. Yakinkah bahwa wisdom, selain agama dan ilmu pengetahuan, selalu dapat menolong kita menemukan jalan
kembali untuk recharge “burning so
bright?” [Sehingga kita bisa tidur lebih
enak dan makan lebih nikmat dari kemarin?]. “Life-check” hanyalah salah satu jalan kesadaran
untuk mengundang lebih banyak datangnya hal-hal baik memasuki
kehidupan. Worth it in the end.
Mindfulness
Jika kita by-far masih merasa “on the right track,” bersyukurlah.
Jika get lost sedikit atau get lost
banyak, bersyukurlah, paling tidak kita masih dapat mereview kembali kebiasaan-kebiasaan
kita saat ini juga. Apakah kita sudah
melakukan satu [1] hal “at a time”
dengan senikmat-nikmatnya dan
sesadar-sadarnya? Jika belum, tetaplah bersyukur, kita hanya mungkin belum "be mindful" dalam keseharian.
Tepatnya mesin hidup kita sedang menderu-deru dalam hutan ketergesaan
dan keterburuan, meski untuk hal-hal yang rutin dan sepele. Mandi terburu-buru. Makan terburu-buru. Bicarapun buru-buru. Di jalan juga balapan. Kerja buru-buru. Ketika malam tiba, tidak bisa buru-buru tidur karena masih diburu tugas. Kita mungkin sedang "unconnected"
dengan apa yang kita lakukan? Kita
sangat mungkin tidak menikmatinya? Pedal
pikiran kita hanya tertuju kepada sang hasil
[scoreboard di dinding, target atasan/Cabang, kejar tayang, rekening deposito,
menambah logam mulia, membeli mobil baru, menambah apartemen lagi, membangun
pabrik baru atau menunggu pinjaman bank
dst]. Itulah mengapa barangkali ketenangan,
kenyamanan dan kedamaian lambat laun menjauh dari “dash-board” hidup? Kita mungkin membutuhkan “mindfulness.” Karena jika kita “kehilangan” saat ini,
sesungguhnya kita sedang “get lost”
nanti. By cultivating the new wisdom to feel what we are doing moment by
moment, minute by minute, second by second at present moment, we could be back
at present moment fully. Bersyukurlah, dengan mindfulness, tanpa harus meminta
resep dokter , kita menemukan kembali keindahan, kesegaran & kesembuhan
hidup saat ini juga.
Gratefulness
Kedua, apakah kita sudah
melakukan 1 hal “at a time” tsb dengan
penuh rasa syukur yang tulus kepada Tuhan? Bisa
juga ungkapan syukur itu kita lontarkan sebatas ritual,
bukan ? Jika tidak, bersyukurlah, kita
masih di zona "living with gratitude." Di kehidupan
yang lain, meski sudah memiliki sangat
banyak, mereka "kehilangan" apa artinya cukup. Mereka
sedang tidak mensyukuri
apa yang sudah
banyak. Argometer di kepala mereka lebih fokus kepada tangga berikutnya. Apa saja itu?
Hidung lebih mancung, kulit lebih putih, rambut lebih lurus dan
hitam, penampilan lebih muda, badan lebih langsing, pikiran lebih fresh,
kerja lebih semangat, gaji lebih besar, pabrik lebih banyak, perusahaan
lebih banyak, rumah besar & mewah. pakaian lebih banyak & up to date, halaman lebih luas, penjaga rumah lebih banyak, anjing piaraan banyak, tabungan lebih besar dan pencapaian
lebih baik, anak lebih manis dst dst. Mengejar tangga berikutnya sama sekali
tidaklah keliru, bukan? Tuhan sangat menghendaki hidup manusia makmur dan berkecukupan,
sehingga bisa membantu orang lain.
Tinggal mereka mampu menjaga keseimbangannya saja.
Live a good life
Bersyukurlah, jika itu
rapor diantara kita, mungkin ada yang mau re-start computernya. Kita mungkin saja terpanggil secara sadar
& sistematis lebih menyeimbangkan kehidupan. Jika itu dibutuhkan, 2 little wisdom berikut ini semoga membantu.
Yang pertama,
"be mindful" [sadar penuh]. Ia
adalah sumber ketenangan pikiran. Ketenangan
dapat ditemukan didalam kesadaran ketika melakukan hal-hal kecil biasa. Misalkan melakukan "1" hal saja,
makan siang, “at a time” dengan senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya. Justru melakukan 1 hal kecil makan misalnya
dengan nikmat, sebenarnya keseluruhan
gambar hidup sedang ditata-ulang tanpa kita mampu menyadarinya. Wisdom tua, telah membantu kita menyadari
bahwa kualitas seringkali lebih baik dari kuantitas. Khusus untuk jenis pekerjaan yang multi-tasking, membutuhkan seni lebih tinggi
untuk menatanya.
Mandi tak lagi terburu-buru.
Makan dan minum kini menjadi lebih santai,
lebih terasa nikmat. Bicara lebih relaks dan lebih dimengerti. Di jalan tidak lagi balapan. Kerja
lebih teliti dan nikmat.
Akibatnya malam benar-benar terasa malam. Lalu ia berhasil mengantarkan tubuh &
pikiran untuk tidur lebih lelap, tanpa
menelan obat penenang. Latihan “be mindful” yang berulang-ulang, membuat keseluruhan hidup berjalan lebih
melambat & lebih perlahan. Segala
yang lambat & perlahan biasanya disertai
rasa tenang, lebih kalem dan penyabar terhadap segala sesuatu. Melalui itu, kita sedang membangun jembatan ke saat ini ["reconnected"]
dengan apa yang kita sedang lakukan “moment by moment.” Tanpa
disadari lagi, “present moment” benar-benar telah menjadi milik hidup hari ini.
Praktek “mindfulness”
yang lain, seperti misalnya: jalan melambat, nafas melambat dan teratur, latihan fokus/konsentrasi melalui meditasi
mindfulness, yoga dengan pose tertentu
dst, hanya butuh komitmen
yang lebih tinggi.
Yang kedua, "be
grateful" [bersyukur penuh]. Ia sangat
dikenal di dunia sebagai sumber utama kedamaian, kelegaan dan kenyamanan
batin. Soal syukur ini, kita semua bukan pemula. Lakukan "1" hal diatas, tetap
dengan “be mindful” [sadar penuh], namun kini dapat ditambahkan 1 soft-gel herbal yang bernama syukur penuh.
Mandi lebih terasa nikmat karena
disertai rasa syukur. Makan dan minum lebih terasa nikmat karena
disertai syukur. Bicarapun lebih nikmat
karena hadirnya syukur. Bicara menjadi
hanya seperlunya dan lebih terasa maknanya.
Di jalan selain tidak lagi
buru-buru, juga lebih nikmat karena disertai syukur baik macet maupun lancar. Kerja lebih
terasa nikmat karena disertai syukur.
Akibatnya tidur malam lebih nikmat /berkualitas. Rumah hidup kini berwarna lebih cerah karena
hadirnya warna syukur dari mulai genteng, atap, pintu, jendela dan lantainya. Nafas jadi lebih ringan & lega. Denyut
jantung lebih teratur. Tensi lebih
normal. Stress yang menekan lalu pergi
dan membuat pikiran plong. Langkah
terasa lebih enteng. Semua beban terasa
ringan. Solusi lalu datang tanpa kita
meminta dan mengejarnya. Hidup
benar-benar bahagia dan damai. Jika semua hal dilakukan ketika jiwa sudah
bahagia dan damai, maka hasilnya akan berbeda pula, bukan?
Latihan “gratitude”
lainnya seperti, membuat
jurnal/kartu give thanks harian, menulis
surat kepada seseorang kepadanya kita bersyukur/berterima kasih, menulis buku syukur, fokus hanya kepada berkat bukan kepada
masalah/kesulitan, mengucapkan syukur terima
kasih 100x sehari, bersyukur di bawah
matahari, latihan sentuhan/massage, dst.
namun itu memerlukan komitmen extra.
Repeat practice
Kata-kata yang indah,
quotation yang manis belumlah cukup.
Berjanji akan berubah juga belum cukup.
Apa yang membuatnya cukup, adalah
karena wisdom upgrade ini, jika dilakukan secara konsisten setiap saat,
ia akan menghasilkan better "peace
of mind." Semakin hari semakin mensyukuri, semakin naik tingkat.
Minggu ini penuh syukur, bulan ini penuh syukur, tak terasa berkat latihan, satu tahun telah berjalan
dengan syukur sebagai kendaraannya.
Akhirnya rasa syukur telah menjadi
kendaraan seumur hidup, karena hidup tak
membutuhkan kendaraan mewah selamanya, bukan?
Jika better "peace of mind" ditingkatkan
kadarnya secara terus-menerus [menanjak] melalui latihan demi latihan, maka ia
akan menetap/mengakar menjadi kebiasaan baru. Karena memang kebiasaan kita selalu bisa
diubah. Kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan memang untuk diasah dan
ditumbuhkan. Lihatlah,
rasa syukur kini telah menjadi diri kita.
Terlebih lagi, jika
hasil kerja perubahan itu dihargai oleh diri sendiri dan lingkungan, maka ia
akan berlipat ganda dampaknya terhadap pencapaian hidup [prestasi, passion dan
kepuasan]. Hasil “repeat practice” ini adalah level ketenangan, kenyamanan dan kedamaian
menjadi jauh lebih besar dari pada semua kesedihan, kegelisahan dan
kekhawatiran. Lalu dimana pressure & stress berada? Mereka tetaplah berada di depan rumah kita. Kita
tinggal menjaga pintu rumah agar mereka tak masuk.
Upgrade little wisdom
ini, dapatlah kita menyebutnya dengan "rest in a lot" atau
"peace in a lot." Kini jiwa kita mampu duduk dalam
keheningan, berdiri dalam kesederhanaan
dan rebah dalam kerendahan. Kita telah membuatnya riil, bukan lagi wacana/keinginan/ilmu
pengetahuan.
Beberapa benefit yang
dapat segera kita observe dari wisdom upgrade tsb. adalah:
1. Kebahagiaan meningkat
[positive emotions, life satisfaction, vitality, optimism and lower levels of
depression and stress].
2. Lebih sosial [more
empathic, generous and helpful]. Interaksi dan engagement kita dengan orang
lain lebih baik,
3. Spiritualitas membaik
[a better belief in the interconnectedness of all life and commitment and
responsibility to others].
4. Materialisme
termanaged [less importance on material goods, less likely to judge own and
others success in terms of possessions accumulated; less envious of wealthy
persons, and are more likely to share possessions with others].
[Robert A. Emmons,
University of California, Davis dan Michael E. McCullough, University of Miami,
"Counting blessings vs burdens, an experimental investigation of gratitude
and subjective well-being in daily life," 2003].
Tak
terasa, kita telah memberikan "hadiah yang baik"
buat diri sendiri, yaitu menjadi lebih dewasa,
lebih matang dan lebih bijak. Ketika dilimpahi
dengan materi yang
lebih banyak, kita tak kehilangan
makna.
Have a blessed
Christmas 2014
Let’s be
wise
Harry purnama
@ Mature Leadership Center [MLC],
harry.uncommon@yahoo.co.id



