Entahlah, aku tak tahu...
Padahal, semua hidup pasti ada akhirnya, not an open-end, not an open-ticket, bukan tiket yang tanpa tanggal lalu bisa dipakai semaunya. Hidup selalu berlabel tanggal datang dan tanggal pergi, tanggal produksi dan tanggal expired. Tanggal akhirnya entahlah, aku tak tahu...! Entah esok, entah hari ini.. entah nanti malam, entah 50 tahun lagi...? Aku serba tak tahu apa-apa, but I'm fine at all, mirip syair "all of me" dari John Legend, ".....my head's under water...but I'm breathing fine..." Banyak orang percaya, meski hidup dan kematian begitu besarnya dan begitu misteriusnya, tetapi hidup kita fine-fine saja, nampak dari luar. Bagaimana penampakan dari dalamnya? Apakah Anda sudah menyiapkan kematian Anda?" Untuk bicara kesenangan hidup kita punya banyak kawan, tapi bicara kematian kita tak punya teman. " Kehidupan memang tak seimbang sejak semula. Ia sudah "disihir" sedemikian rupa, sehingga kesedihan dan kekurangan manusia, adalah 2 hal yang orang tak mau membahasnya. Topiknya tidak sensual. Bicara tentang kematian diantara suami-istri atau diantara orang tua dan anak, pasti akan ditabukan, dihindari, terlarang dan dianggap melanggar norma-norma hidup, bisa-bisa tak senonoh dan membahayakan nyawa orang-orang yang membicarakannya. Tak banyak buku-buku atau ayat-ayat suci dari Kitab Suci yang membahas misteri kematian dan kesedihan. Sorga dan neraka letaknya dimana, orang tak tahu? Tanda-tanya besar hingga nanti. Mati adalah misteri, membicarakannya berarti membicarakan ketidak-tahuan yang maha besar, percuma, bodoh, buang-buang waktu. Bukan news-angel, tak laku dijual. Ia juga serem menakutkan, padahal sebuah kepastian yang sudah pasti, sedangkan hidup sebuah kepastian yang belum pasti, bukan? Selagi hidup, dilarang bicara tentang kematian. Itulah sihir yang aku tak tahu siapa yang menyihir manusia sehingga menjadi "tumpul" dan "tertutup" jika bicara tentang kesedihan dan kematian. Tetapi akan selalu ramai terang benderang nan gemerlap, jika manusia bersenang-senang pergi ke sorga liburan atau jalan-jalan ke mall. Di tempat ini lebih lagi, tak akan ditemukan kesedihan dan kematian. Sihir bekerja lebih kuatnya. Itulah kenapa, orang kaya yang jatuh miskin segera dilupakan orang, hampir semua makam dilupakan orang. Itulah kenapa, orang yang sudah mati, dilupakan. I am not perfect, I am human. Inikah letak telaknya sisi ketidaksempurnaan manusia? Tak bisa mengurusi banyak hal dalam hidup secara seimbang, dunia dan akhirat, duka dan bahagia, lahir dan batin, sorga dan neraka. Maunya manusia hanya yang senang-senang dan enak-enak saja. "Sehingga proses mati tak pernah akan disiapkan dengan baik, karena dihindari dan ditabukan. Banyak kematian menjadi hal yang mengejutkan dan serba dadakan yang membuat shock dan super panik hampir semua orang, termasuk para ulama dan tokoh agamanya sendiri...." I am not perfect, I am human.
Kita tak punya "great mind" seperti yang difilosofikan para filsuf, pemikir yang suka menghayal dan bermimpi besar. Toh manusia tak bisa terbang seperti burung elang melewati macet dan materi. Juga tak bisa jalan dengan kepala di bawah atau ke samping bagai akrobatik terlatih. Tak bisa hidup bagai kapal selam di air lebih dari 5 menit tanpa alat bantu. Juga tak bisa hidup di dalam tanah, bagai semut dan tikus. Atau tak akan bisa mengerti seluruh alam semesta dan Penciptanya. Entahlah, aku tak tahu...aku semakin tak tahu saja kenapa ada manusia yang tak mau mengakui ketidak-sempurnaannya, malahan menyombongkan dirinya...! Siapakah yang benar-benar bodoh? Siapalah yang benar-benar pandai?
Albert Einstein mengatakan ketak-tahuannya : "Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I'm not sure about the former."
Nicky minaj mengatakan: " When you're a girl, you have to be everything, You have to be dope at what you do, but you have to be super sweet, and you have to be sexy, and you have to be this and you have to be that and you have to be nice, and you have to - it's like, I can't be all of those things at once. I'm a human being."
Queen Latifah menuliskan: "I made decisions that I regret, and I took them as learning experiences... I'm human, not perfect, like anybody else."
Ada kehidupan yang tak adil, yang terus tak bisa berubah karena cacat bawaan dan dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat. Mereka-mereka ini yang ketika mati, keluarganyalah yang justru minta dikremasi lalu abunya dibuang ke laut. Keluarganya tak ingin melihat makam dan batu nisan mereka, apalagi merawatnya. Kehidupan mereka benar-benar tak diingini orang. Mereka ingin cepat-cepat dilupakan bahwa mereka pernah ada. Mereka dianggap beban karena tak normal. Nampaknya kehidupan sejak awal baginya sudah sadis dan memilukan. Bagi mereka dunia sangat tak adil. Kisah kehidupan yang seperti ini sudah "didisain" sejak awal dunia diciptakan hingga hari ini. Entah mengapa Tuhan menciptakan ketidaksempurnaan? Entah mengapa Tuhan membiarkan keluarganya membencinya?
Beberapa kehidupan sejak awal sudah dilupakan, tertolak, cacat atau sakit. Sejak awal mereka tidak diterima dengan baik oleh keluarganya. Tertolak karena cacat atau tidak sempurna atau tidak dianggap normal seperti yang lainnya. Tertolak karena kehamilannya tak diingini sejak awal, tak direncanakan dan tak ingin ada bekasnya. Gagal diaborsi, maka lahirlah kehidupan-kehidupan yang tertolak itu, yang sebenarnya telah dikehendaki oleh Tuhan. Meski ibunya sendiri melupakannya, saudaranya melupakannya, keluarga menganggapnya tak berarti, namun Tuhan tetap menyayanginya. Mereka besar karena murni kasih sayang Tuhan. TanganNya yang memelihara kehidupan mereka. Namun mereka tak menyalahkan Tuhan yang menghendakinya. Mereka belajar hidup dalam keadaan tak diperlakukan adil. Bagi dunia, mereka dianggap tak normal, tak dianggap ada. Jadi sama-sama tak adil dan tak normal.
Wajah dunia, sejak awal sudah kusam karena ada yang tak adil dan ada yang tak normal. Dunia tak sempurna. Ada yang menganggap, dalam keseluruhan kehidupan yang tak sempurna, semuanya serba kesia-siaan. Hidup manusiapun dianggap sebuah kesia-siaan. Ada juga yang beranggapan, meski sia-sia tetapi telah berusaha mendekati Tuhan. Biarkan Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Apakah yang tak adil dan tak normal itu baik adanya? Ada juga kehidupan yang mikir sendiri, hidup sendiri, ketawa sendiri, senang sendiri atau masuk rumah sakit jiwa sendiri.. Lalu manusia merasa besar sendiri atau kecil sendiri. Di dalam kesendirian seperti itu, biarkanlah juga Tuhan yang menilainya. Karena kita serba tak sempurna, manusia adalah pekerjaan yang diciptakan. Pekerjaan yang akan selesai.
Entah besar atau kecil, kehidupan manusia memang tak jauh dari makan, tidur, beranak dan bekerja, hampir mirip hewan di pinggiran, bukan?. Anak bayi merengek meronta, orang tua spontan menyusuinya, sama dengan kucing dan anjing. Ketika anak sakit, orang tua heboh dan panik. Bedanya dengan kucing dan anjing, mereka hanya diam untuk "self-healing" sendiri, tanpa dokter dan USG. Manusia dan kucing sama, bisa sakit lalu mati. Kehidupannya sama-sama akan selesai. Hanya kucing tidak bisa menulis buku tentang "story of my life " dan tidak menciptakan handphone dan tablet. Ujung dari penemuan manusia tentang kedokteranpun, tetap saja manusia makin tak tahu apa-apa. Sampai hari ini kanker, diabetes, darah tinggi, gagal ginjal dan HIV/AIDS belum ada obat penyembuhnya, bukan? Apalagi membalikkan cacat bawaan? Lalu manusia merasa hampa. Urusan nuklir, perbatasan, terorisme, pemilihan presiden dan harga diri, bisa saling perang. Setelah perang, jatuh korban sia-sia. Lalu manusia semakin merasa tak berarti. Sakit saja manusia sudah gelagapan dan memusingkan dunia. Beberapa lelaki bertato, malah takut jarum suntik. Beberapa ayah malah pingsan ketika melihat darah di tubuh anaknya. Beberapa wanita langsung lemas pingsan jika disuruh parkir mundur, dst. We are not perfect, we are human. We are a result of a work.
Otak manusia berhenti, jika ia mati, sama seperyi kucing dan anjing. Sebagai hasil dari "pekerjaan," manusia dan mesin hanya akan bergerak jika ada yang menginginkannya, tidak seperti matahari dan bulan. Sama-sama termakan usia, mesin mercy 300 Sc tahun 1950-an akan menua seperti manusia, lalu mati tak bergerak. Matahari dan bulan memiliki takdir dan peradaban berbeda dengan manusia. Karena mereka mati tetapi hidup, hidup tetapi mati, entah sampai kapan? Meski mereka adalah ciptaan, hasil dari "pekerjaan." Karena manusia tak mungkin bisa menginjakkan kakinya di matahari atau tingaal 1 tahun di bulan, meskipun ingin, bukan? Merekapun tak punya keinginan dan nafsu seperti manusia. They are NOT human. We are human. Entah mengapa, Tuhan menghasilkan pekerjaan yang tak sempurna dan nampak tak tuntas ? Selena Gomez mengatakan: " I'm human, I'm not perfect. I make mistakes all the time, but I guess my job is to keep those mistakes to myself, which I'm already fine doing and just try to be the best I can be for those kids." David Millar bertutur: "People do make mistakes and I think they should be punished. But they should be forgiven and given the opportunity for a second chance. We are human beings."
Stephen Hawking berpendapat: "While physics and mathematics may tell us how the universe began, they are not much use in predicting human behavior because there are far too many equations to solve. I'm no better than anyone else at understanding what makes people tick, particularly women."
" I am only human, " tulis Christina Perri di akhir tahun 2013, barangkali menjadi trending topic "we are only human." Saya adalah hasil karya yang tak sempurna. Saya bisa pura-pura tersenyum, saya bisa memaksakan bergembira, saya bisa menjadi nomor satu, saya bisa sukses, saya bisa buta, saya bisa sangat bersemangat, saya bisa lemas, saya bisa menyerah, saya bisa tak sabar, saya bisa stres dan depresi, saya bisa hilang harapan, saya bisa gagal, saya bisa sakit parah, saya bisa egois, saya bisa sakit hati, saya bisa sangat iri, saya bisa membenci, saya bisa jatuh, saya bisa salah dan akhirnya saya bisa mati. Tak heran lagi, "we are only human," seperti Michael Jackson, Whitney Houston, Robbin Williams, dst. Akan ada lagi yang menyusul, bukan? Tak perlu terheran-heran, orang kelewat sukses, juga kelewat depressed. "We are not perfect, we are only human." Semakin lari, semakin kita dekat dengan realita bahwa kita 100% manusia biasa. Mencintai manusiawi, dicintai manusiawi, kesendirian manusiawi, sengsara manusiawi, serakah manusiawi, sakit manusiawi, stress manusiawi, senang manusiawi, susah manusiawi, takut manusiawi, berbohong manusiawi, matipun manusiawi. Apapun yang terjadi dan menimpa diri kita, semuanya manusiawi. Apa yang tidak lagi manusiawi? Jika ada orang yang mengklaim dirinya sakti, sempurna, kebal peluru, kebal sakit dan tak bisa mati. Keseluruhan " story of our life " adalah sekumpulan suka dan sekumpulan duka atau sesuatu diantara suka dan duka.
Dunia semakin yakin bahwa semakin pikiran dan hati sakit, semakin raga juga menjadi sakit dan sebaliknya. Mengapa setiap orang yang sakit, pasti yakin dirinya telah melakukan kesalahan sekecil apapun. Kenapa pikiran dan hati bisa lemah, padahal keinginan kita sebaliknya? Karena we are not perfect, we are only human. Filosofi dasar ini dipakai banyak orang baik untuk menyucikan pikiran dan hati, agar raga menjadi tidak sakit [sehat]. Meditasi adalah jalan menjadi baik secara spiritual dan mental agar raga sehat dan lebih panjang umur. Meditasi mampu meringankan penderitaan pikiran, hati dan raga. Namun, akhirnya orang yang bermeditasi maupun yang tidak, akan sakit dan mati. Lalu apa gunanya kebaikan dan meditasi? Ia meringangkan dan ia mendamaikan ketika kita masih hidup. Meski tak sempurna, kita masih bisa merasakan ketenangan ketika menghadapi penyakit dan kematian. Lebih baik rest in peace dari pada rest in trouble, bukan?
Mengapa orang baik cepat meninggal, orang jahat malah panjang umur? Karena yang kita lihat baik belum tentu baik, yang kita lihat jahat belum tentu jahat. Jangan-jangan mata kita yang sakit? Akhirnya orang yang kita pandang baik dan kita pandang jahat, meninggal semua. Yang kita cintaipun mati dan pergi... Mati menjadi kepastian. " We are not perfect, we are only human. " Raga akan selesai, roh yang akan tinggal tetap. Tapi sebelum mati, sekecil apapun, kita pasti ingin jadi orang baik, bukan sebaliknya. Inilah dasar filosofi bahwa setiap orang bisa menjadi lebih baik, luar dan dalam. Lalu logika ini dipakai sebagai keyakinan untuk menjadi penyembuh bagi diri sendiri [self-healing]. Ketika kapan? Ketika kita mulai berkomitmen menabung semakin banyak kebaikan dan pemurnian jiwa milik kita. Jika pikiran dan hati dibersihkan dari kekotoran, raga juga dibersihkan dari penyakit dan kelemahan. Setelah sembuh, lalu seseorang mulai berani menyembuhkan orang lain, dst. " Transfer of healing " adalah manusiasi sama seperti "transfer of knowledge " dan " transfer of wealth. " Lalu ia membuka dirinya untuk menyembuhkan semakin banyak orang lagi di seluruh dunia. Tak perlu heran. Mekanismenya sangat sederhana. Sehingga semua orang bisa menjadi penyembuh bagi dirinya sendiri. Kemudian meditasi kesehatan menjadi partner untuk pengobatan kedokteran modern. Berbarengan dengan munculnya berbagai-bagai olah tubuh untuk healing, terapi herbal, olah nafas healing dst..." Saya sakit kanker hati, bisakah saya sembuh dengan meditasi kesehatan? " " Saya kena kanker usus, bisakah saya meditasi sendiri? " " Saya cuci darah, bisakah saya bebas dari petaka ini? " Meditasi yang kita percayai, apapun yang kita yakini, akan bekerja sama kuat dengan obat dokter yang diresepkan. Jika kita tak percaya dengan obat dokter, ia tak akan efektif, bukan? Tergantung pada diri kita sendiri, bukan? Hanya kita tak bisa apa-apa dengan yang namanya takdir. Yang mati tak akan bisa mendengar kita dan tak akan bangkit lagi, kecuali atas mujizat Tuhan.
Tak semua sakit akan sembuh bukan? Tak semua kehidupan akan diterima, bukan? Tak semua hasil karya sempurna, bukan? Toh semua kehidupan akan "lewat" dalam ketidaksempurnaannya, kenapa harus serius mempertanyakannya? Jika kita tak sembuh dan mati, terimalah. Jika kita sukses dan gagal, terimalah. Jika kita dipenuhi duka, terimalah. Jika kita bergermbira dalam kehidupan, terimalah. Jika diperlakukan tak adil, terimalah. Toh semua kehidupan akan "lewat." "We are not perfect, we are human, a result of a work."
Inilah dasar filosofi mengapa orang yang semakin spiritual, semakin pasrah sempurna. Semakin menerima bahwa kehidupan ya memang isinya gembira dan duka jadi satu. Jika berduka dan bersedih hati, jangan lama-lama, jangan serius-serius amat. Sebaliknya, kalau bergembira, jangan lama-lama juga. Toh dalam kegembiraan itu, penyakit akan datang juga. Toh kelemahan pikiran akan datang juga. Toh sakit hati akan datang setelah hati yang gembira pergi. Kita tak dapat menolaknya, bukan? Ia akan datang sesukanya. Cara kita memaknai hidup, toh tak bisa lari dari itu. Lebih baik menerima apa adanya atas apa yang "didisain" dari pekerjaan itu, dari pada berlarian terus. Meditasi adalah jalan untuk menerima, berdiam diri, tak lari dari kehidupan. Menerima, lewat media meditasi adalah langkah paling bijak dari manusia, bukan?
Cara kita memaknainya, ada dua. Pertama, akhirnya lebih baik menerima apa saja yang datang dengan besar jiwa, entah baik, entah kelemahan, entah rejeki, entah tantangan, entah duka, entah kekalahan. dari pada semakin membenci kelemahan, duka, kesialan dan kekalahan. Kita akan berbahagia, ketika kita menerima. Kita akan merasa damai, ketika kita hanya menerima, apa saja itu. Anggap saja semuanya, adalah hadiah dari kehidupan. Inilah dasar spiritual, mengapa menerima hadiah itu jauh terlebih baik dari pada menolak. Apa adanya lebih baik dari pada mengingkari.
Kedua, forget and forgive, let it go, biarkan semua hanya lewat, all will pass, too. Semua toh akan hanya lewat saja. Maka biarkanlah semua akan lewat demi waktu. Maka terimalah, janganlah membenci diri, ketika ia melakukan kesalahan. Janganlah menyalahkan diri jika hidung kita tak mancung, kulit kita tak putih, rambut kita tak lurus, mata kita tak belok atau jika kita tak bisa seperti yang diharapkan orang yang kita cintai, dst. Terimalah, maklumilah, maafkanlah, toh semuanya itu akan lewat dihadapan kita juga. Jangan menahannya segala yang lewat di depan kita. Biarkanlah mereka lewat. Dengan begitu, masalah sebesar apapun tak akan menimbulkan stress berlebihan dan duka mendalam. Maka siapa tahu batin dan jiwa kita semakin disegarkan dan raga semakin disehatkan dengan sikap spiritual menerima. Sekali lagi, melawan adalah melawan, tak ada ketenteraman jiwa di dalamnya, sama dengan uang dan materi. "We are not perfect, we are human, a result of a work. "
I make mistakes, I know I'm not perfect. That's why I'm thankful for the true friends who stick by me knowing how I am. [unknown quotes]
"Human", Christina Perri
I can hold my breath
I can bite my tongue
I can stay awake for days
If that's what you want
Be your number one
I can fake a smile
I can force a laugh
I can dance and play the part
If that's what you ask
Give you all I am
I can do it
I can do it
I can do it
But I'm only human
And I bleed when I fall down
I'm only human
And I crash and I break down
Your words in my head, knives in my heart
You build me up and then I fall apart
'Cause I'm only human
I can turn it on
Be a good machine
I can hold the weight of worlds
If that's what you need
Be your everything
I can do it
I can do it
I'll get through it
But I'm only human
And I bleed when I fall down
I'm only human
And I crash and I break down
Your words in my head, knives in my heart
You build me up and then I fall apart
'Cause I'm only human
I'm only human
I'm only human
Just a little human
I can take so much
'Til I've had enough
harry purnama






