Minggu, 21 Desember 2014

Kesadaran akhir tahun: Rest in a lot








Life check
Bersyukur kita masih diberi kemewahan untuk  general check-up  luar & dalam diri kita.  Self  engine check-up cukup mudah,  di momen tenang sejenak kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri. Apakah hari-hari ini, kita cenderung terhanyut, terhilang atau terlena dalam keseluruhan kehidupan? [lost in connectedness, not knowing then not going anywhere?].  Apakah kita sulit mengenali dimana kita berada saat ini,  in terms of  our life journey?  Apakah suhu tubuh meningkat karena  cemas, gelisah, khawatir,  tegang dan amarah yang lebih banyak hadir dari pada rasa tenang, nyaman dan damai?  Sudahkah kita melakukan segala sesuatu dengan makna?  [atau sekedar lewat atau sekadar  sampai atau sekedar kejar tayang?].  Yakinkah bahwa  wisdom, selain agama dan ilmu pengetahuan,  selalu dapat menolong kita menemukan jalan kembali untuk recharge  “burning so bright?” [Sehingga kita bisa tidur lebih enak dan makan lebih nikmat dari kemarin?].  “Life-check” hanyalah salah satu jalan kesadaran untuk  mengundang  lebih banyak datangnya hal-hal baik memasuki kehidupan.  Worth it in the end.


Mindfulness
Jika kita by-far masih merasa  “on the right track,”  bersyukurlah.  Jika  get lost sedikit atau get lost banyak, bersyukurlah, paling tidak kita masih dapat mereview kembali kebiasaan-kebiasaan kita saat ini juga.  Apakah kita sudah melakukan satu [1] hal  “at a time” dengan senikmat-nikmatnya  dan sesadar-sadarnya?    Jika  belum, tetaplah bersyukur,  kita hanya mungkin  belum "be mindful" dalam keseharian.  Tepatnya mesin hidup kita  sedang menderu-deru dalam hutan ketergesaan dan keterburuan, meski untuk hal-hal yang rutin dan sepele.  Mandi terburu-buru.  Makan terburu-buru.  Bicarapun buru-buru.  Di jalan juga balapan.  Kerja buru-buru.  Ketika malam tiba, tidak bisa buru-buru tidur  karena masih diburu tugas.  Kita mungkin sedang "unconnected" dengan apa yang kita lakukan?  Kita sangat mungkin tidak menikmatinya?  Pedal  pikiran kita hanya tertuju kepada sang hasil [scoreboard di dinding, target atasan/Cabang, kejar tayang, rekening deposito, menambah logam mulia, membeli mobil baru, menambah apartemen lagi, membangun pabrik baru  atau menunggu pinjaman bank dst].  Itulah mengapa barangkali ketenangan, kenyamanan dan kedamaian lambat laun menjauh dari  “dash-board” hidup?  Kita mungkin  membutuhkan  “mindfulness.”   Karena jika kita “kehilangan” saat ini, sesungguhnya kita sedang  “get lost” nanti.  By cultivating the new wisdom to feel what we are doing moment by moment, minute by minute, second by second at present moment, we could be back at present moment fully. Bersyukurlah, dengan mindfulness, tanpa harus meminta resep dokter , kita menemukan kembali keindahan, kesegaran & kesembuhan hidup saat ini juga.

Gratefulness
Kedua, apakah kita sudah  melakukan 1 hal  “at a time” tsb dengan penuh rasa syukur yang tulus kepada Tuhan? Bisa  juga  ungkapan  syukur itu kita lontarkan sebatas ritual, bukan ?  Jika tidak, bersyukurlah, kita masih di zona "living with gratitude."  Di kehidupan  yang lain,  meski sudah memiliki sangat banyak,  mereka  "kehilangan"  apa artinya  cukup.  Mereka sedang  tidak  mensyukuri  apa  yang  sudah  banyak.  Argometer  di kepala mereka  lebih fokus kepada tangga berikutnya.  Apa saja itu?  Hidung lebih mancung, kulit lebih putih, rambut lebih lurus dan hitam,  penampilan lebih muda, badan lebih langsing, pikiran lebih fresh, kerja lebih semangat, gaji lebih besar,  pabrik lebih banyak, perusahaan lebih banyak,  rumah besar & mewah.  pakaian lebih banyak & up to date,  halaman lebih luas,  penjaga rumah lebih banyak,  anjing piaraan  banyak, tabungan lebih besar dan pencapaian lebih baik, anak lebih manis dst dst.  Mengejar tangga berikutnya sama sekali tidaklah keliru, bukan?  Tuhan  sangat menghendaki  hidup manusia makmur dan berkecukupan, sehingga bisa membantu orang lain.  Tinggal mereka mampu menjaga keseimbangannya saja. 

Live a good life
Bersyukurlah, jika itu rapor diantara kita, mungkin ada yang mau re-start computernya.  Kita mungkin saja terpanggil secara sadar & sistematis lebih menyeimbangkan kehidupan.  Jika itu dibutuhkan,  2 little wisdom berikut ini semoga membantu.  

Yang pertama,  "be mindful" [sadar penuh].  Ia adalah sumber ketenangan pikiran.  Ketenangan dapat ditemukan didalam kesadaran ketika melakukan hal-hal kecil biasa.  Misalkan melakukan "1" hal saja, makan siang,  “at a time” dengan  senikmat-nikmatnya dan sesadar-sadarnya.   Justru melakukan 1 hal kecil makan misalnya dengan nikmat,  sebenarnya keseluruhan gambar hidup sedang ditata-ulang tanpa kita mampu menyadarinya.   Wisdom tua, telah membantu kita menyadari bahwa kualitas seringkali lebih baik dari kuantitas.  Khusus untuk jenis pekerjaan yang  multi-tasking, membutuhkan seni lebih tinggi untuk menatanya.    
Mandi tak lagi terburu-buru.  Makan dan minum kini menjadi lebih santai, lebih terasa nikmat.  Bicara  lebih relaks dan lebih dimengerti.  Di jalan tidak lagi balapan.  Kerja  lebih teliti dan nikmat.  Akibatnya malam benar-benar terasa malam.  Lalu ia berhasil mengantarkan tubuh & pikiran untuk  tidur lebih lelap, tanpa menelan obat penenang.  Latihan  “be mindful” yang berulang-ulang,  membuat keseluruhan hidup berjalan lebih melambat &  lebih perlahan. Segala yang lambat & perlahan biasanya  disertai rasa tenang, lebih kalem dan penyabar terhadap segala sesuatu.  Melalui itu, kita  sedang  membangun jembatan ke saat ini ["reconnected"] dengan apa yang kita sedang lakukan “moment by moment.”   Tanpa disadari lagi, “present moment” benar-benar telah menjadi milik hidup  hari ini.  
Praktek “mindfulness” yang lain,   seperti  misalnya: jalan melambat,  nafas melambat dan teratur,  latihan fokus/konsentrasi melalui meditasi mindfulness,  yoga dengan pose tertentu dst, hanya  butuh  komitmen  yang  lebih  tinggi.


Yang kedua, "be grateful" [bersyukur penuh].   Ia  sangat dikenal di dunia sebagai sumber utama kedamaian, kelegaan dan kenyamanan batin.   Soal syukur ini, kita semua bukan pemula.   Lakukan "1" hal diatas, tetap dengan “be mindful” [sadar penuh], namun kini dapat ditambahkan  1 soft-gel herbal yang bernama  syukur penuh.   Mandi lebih terasa  nikmat  karena  disertai rasa  syukur.  Makan dan minum lebih terasa nikmat karena disertai syukur.  Bicarapun lebih nikmat karena hadirnya syukur.  Bicara menjadi hanya seperlunya dan lebih terasa maknanya.   Di jalan selain tidak lagi buru-buru, juga lebih nikmat karena disertai syukur baik macet maupun lancar.   Kerja lebih terasa nikmat karena disertai syukur.  Akibatnya tidur malam lebih nikmat /berkualitas.  Rumah hidup kini berwarna lebih cerah karena hadirnya warna syukur dari mulai genteng, atap, pintu, jendela dan lantainya.  Nafas jadi lebih ringan & lega. Denyut jantung lebih teratur.  Tensi lebih normal.  Stress yang menekan lalu pergi dan membuat pikiran plong.  Langkah terasa lebih enteng.  Semua beban terasa ringan.  Solusi lalu datang tanpa kita meminta dan mengejarnya.  Hidup benar-benar  bahagia dan damai.  Jika semua hal dilakukan ketika jiwa sudah bahagia dan damai, maka hasilnya akan berbeda pula, bukan?  
Latihan  “gratitude”  lainnya seperti,  membuat jurnal/kartu give thanks harian,  menulis surat kepada seseorang kepadanya kita bersyukur/berterima kasih,  menulis buku syukur,  fokus hanya kepada berkat bukan kepada masalah/kesulitan,  mengucapkan syukur terima kasih 100x sehari,  bersyukur di bawah matahari,  latihan sentuhan/massage, dst. namun itu memerlukan  komitmen extra.

Repeat practice
Kata-kata yang indah, quotation yang manis belumlah cukup.  Berjanji akan berubah juga belum cukup.  Apa yang membuatnya cukup, adalah  karena wisdom upgrade ini, jika dilakukan secara konsisten setiap saat, ia akan menghasilkan  better "peace of mind."  Semakin  hari semakin mensyukuri, semakin naik tingkat.  Minggu ini penuh syukur,  bulan ini penuh syukur,  tak terasa berkat latihan, satu tahun telah berjalan dengan syukur sebagai kendaraannya.  Akhirnya  rasa syukur  telah  menjadi kendaraan  seumur hidup, karena hidup tak membutuhkan kendaraan mewah selamanya, bukan? 

Jika  better "peace of mind" ditingkatkan kadarnya secara terus-menerus [menanjak] melalui latihan demi latihan, maka ia akan menetap/mengakar menjadi kebiasaan baru.  Karena memang kebiasaan kita selalu bisa diubah. Kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan memang untuk diasah dan ditumbuhkan.    Lihatlah,  rasa syukur kini telah menjadi diri kita.   

Terlebih lagi, jika hasil kerja perubahan itu dihargai oleh diri sendiri dan lingkungan, maka ia akan berlipat ganda dampaknya terhadap pencapaian hidup [prestasi, passion dan kepuasan].  Hasil  “repeat practice” ini adalah  level ketenangan, kenyamanan dan kedamaian menjadi jauh lebih besar dari pada semua kesedihan, kegelisahan dan kekhawatiran.  Lalu dimana pressure & stress berada?  Mereka tetaplah berada di depan rumah kita. Kita tinggal menjaga pintu rumah agar mereka tak masuk. 






Peace in a lot
Upgrade little wisdom ini, dapatlah kita menyebutnya dengan "rest in a lot"  atau "peace in a lot."  Kini jiwa kita mampu duduk dalam keheningan,  berdiri dalam kesederhanaan dan rebah dalam kerendahan.  Kita telah membuatnya  riil, bukan lagi wacana/keinginan/ilmu pengetahuan.
   
Beberapa benefit yang dapat segera kita observe dari wisdom upgrade tsb. adalah:
1. Kebahagiaan meningkat [positive emotions, life satisfaction, vitality, optimism and lower levels of depression and stress].
2. Lebih sosial  [more empathic, generous and helpful]. Interaksi dan engagement kita dengan orang lain lebih baik,
3. Spiritualitas membaik [a better belief in the interconnectedness of all life and commitment and responsibility to others].
4. Materialisme termanaged [less importance on material goods, less likely to judge own and others success in terms of possessions accumulated; less envious of wealthy persons, and are more likely to share possessions with others]. 

[Robert A. Emmons, University of California, Davis dan Michael E. McCullough, University of Miami, "Counting blessings vs burdens, an experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life," 2003].

Tak terasa,  kita telah memberikan  "hadiah yang baik"  buat diri sendiri,  yaitu   menjadi  lebih  dewasa, lebih matang  dan  lebih bijak. Ketika  dilimpahi  dengan  materi  yang  lebih  banyak, kita tak kehilangan makna.

Have a blessed Christmas 2014  
Let’s be wise
Harry purnama @ Mature Leadership Center [MLC],  harry.uncommon@yahoo.co.id