Ia terobsesi naik ke puncak tinggi, karena selama hidupnya beribadah di rumah ibadah [dibawah], ia tak menemukan dan merasa dekat dengan Tuhan. Ceramah dan kotbah tokoh agama lewat mimbar hanya muter-muter disitu saja, tidak mencerahkan dan mengangkat. Siapa tahu disana ia bisa mendekati Tuhan, sebelum terlambat, mati. Ia mulai belajar mendaki kecil-kecilan dari sisa fisiknya sebagai pensiunan guru.
Si Ketoprak tinggi langsing, berteman dekat dengan Sate, lelaki gemuk pendek sejak mereka bertemu di pemakaman seorang tokoh, tahun 1996. Ketoprak, penganut gaya hidup sederhana dan murah seperti halnya orang-orang maju, tinggal di rumah kampung sederhana. Rumahnya dekat sebuah kampus, berjarak 5 kilometer dari rumah sahabatnya, Sate. Kemana-mana, si Ketoprak pergi naik mobil tua, Toyota starlet tahun 1995 warna putih, yang ia peroleh dengan kredit. Si Ketoprak sebenarnya ingin sekali memiliki mobil asli Indonesia, tetapi tidak ada, terpaksa ia beli yang impor, Toyota. Ia faham betul, itu hanya membuat Jepang tambah kaya. Apa boleh buat, Indonesia belum bisa buat mobil sendiri, bisanya baru impor.
Sate, juga berambisi naik lebih tinggi lagi dengan menambah konglomerasi perusahaannya yang sudah beromzet 12 digit. Sate boleh bangga karena ia berhasil membangun konglomerasinya dari titik nol, modal dengkul. Di ruang tamu rumahnya, ia pajang beberapa bingkai besar saat berfoto dengan seorang presiden. Piagam penghargaan berjejer di bawahnya. Dua lantai rumahnya, 500 meter2, semua dilapisi karpet abu-abu, warna favoritnya. Di basement rumahnya berjajar mobil mewah warna putih, minimum seharga 1M. Semua plat nomornya bertuliskan B 8888 XX, sama dengan jumlah perusahaannya yang semuanya 88. Puncak tertinggi bagi Sate adalah bisnisnya lebih maju lagi.
Setiap pagi, Ketoprak yang bersahaja hidupnya, memberi makan ikan-ikan di belakang rumahnya, menyirami tanaman di halaman, memberi makan kucing kesayangan anaknya lalu menyapu rumah. Diakhiri dengan jalan pagi dan sarapan bersama istri di meja makan mereka. Setiap sore sebelum mandi, ia meditasi ringan 10-15 menit. Tak banyak masalah yang ia pikul " setelah " pensiun, hanya mengurusi anak cucu dan kost-kostan warisan orang tuanya. Saat ini, relatif ia tak banyak menemui badai dalam hidupnya dan karenanya less-stress. Dunia akhirat sudah komplete [ "clear balance " ]. " Deep cleansing " luar-dalam sudah ia lakukan dengan sangat baik. Sehat sudah, umur panjang akan, keluarga ada, secara ekonomi cukup, ia pikir mau apalagi? Ketoprak sudah mengalami 3E seperti yang diimpikan banyak orang di negerinya saat ini, tidur Enak, makan Enak dan sex Enak. Sebenarnya apalagi yang ia cari? Semuanya sudah cukup. Hidup di atas, tak ada lagi yang dikejar dan mengejar [ " living peacefully " ].
Sate lain lagi, ia sulit tidur enak, meski sudah makan enak dan sex enak, karena hatinya dangkal. Setiap lihat saingannya lebih maju, hatinya tak senang. Maka siasat licikpun ia pakai. Ia masuk ke bisnis pencetakan uang palsu, mengakali pajak, main dengan pejabat dan monopoli. Rutinitas paginya, membuka laptop mengintip saldo rekeningnya lalu mengikuti pergerakan saham dan valuta asing. Setelah itu, menelepon salah satu eksekutifnya untuk meeting malam hari. Setiap sore ia harus menyempatkan main golf untuk weight loss, karena obesitas berat. Belum lagi kolesterol dan asam uratnya tinggi. Rasanya semuanya belum cukup.
Sate sudah lama terjebak dalam rutinitas " facial scrub. " Pembersihan diri sebelah "luar " lewat terlalu banyak ritual keagamaan belaka. Ia tak sadar bahwa agama hanya membuatnya semakin jauh dari pembersihan diri di bagian dalam. Ritual agamanya selama ini, baru menyentuh kulit luarnya [rohani lahiriah]. Hidup di bawah, masih banyak yang harus dikejar dan mengejar, mirip adegan " fast & furious " atau " death warrant. " Baginya hidup selalu meresahkan dan menggelisahkan. Tak membuatnya nyaman dan tenang hidup [ " living restlessly " ].
Keduanya suatu hari berhasil meraih apa yang mereka inginkan masing-masing. Sate menjadi "tycoon " kaya raya, " Big fatty rich Sate. " Hanya kebahagiaan Sate berbeda jauh dengan Ketoprak. Meski secara materi Sate jauh di puncak tangga, bergelimang harta dan wanita. Namun tidur enak saja, ia sulit dapatkan. Mondar-mandir di bawah tangga, pasti hanya menemukan kebisingan dan hingar bingar kehidupan. Semua serba pernak-perniknya. Ia tak menemukan " esensi " hidup yang sesungguhnya. Kebahagiaan semu yang ada di bawah.. Ia sadari betul, ia lupa yang terpenting. " Peace of mind " yang ia sering baca di literatur luar negeri, menjauh dari pikirannya. Boleh dikatakan ia hanya " half " sukses. Kehidupan jenis ini dijalani oleh mayoritas, boleh dikatakan 80-90% populasi hari ini. Materi menjadi serba jadi ukuran kesuksesan. Padahal tak ada kebahagiaan di dalamnya. Banyak orang " tertipu " oleh sihirnya.
Ketoprak naik ke puncak gunung tertinggi. Benar-benar tertinggi luar-dalam. Di luarnya Ketoprak tetaplah khas Ketoprak. Penampilannya kurus kering, mirip tahu goreng dan toge rebus murahan. Namun, di bagian dalam, tersembunyi emas berlian sorgawi.
Sedikit sekali orang menemukan kepuasan atau " life achievement " seperti Ketoprak. Jangan melihat namanya, tidak keren sama sekali. Kurang meyakinkan. Namun, kualitas kedalamannya mengagumkan, bukan? Ia tidak mau hidup di permukaan seperti Sate. Sekali hidup, harus berarti.
Sepulang dari " long-journey-going-into high spot, " Ketoprak sharing kepada sahabatnya sesuatu yang ia cari selama ini. " Ketika siang hari, langit terasa lebih dekat, sinar matahari lebih hangat. Jika langit mendung, ia lebih gelap dari pada di bawah. Ketika malam, bintang di langit seolah lebih banyak. Taburannya seperti dinding-dinding sorga yang menyala permanen. Dan yang paling mengesankan, tak ada suara sama sekali di atas. Semua diam dan sepi. Yang terdengar hanya suara gunung, seakan itu suara Tuhan yang berceritera. Di malam hari ketika tertidur, sinar bulan menemani bagai lilin di kakiku. Tak ada music, internet dan film televisi. Yang aku lihat hanya bayang-bayang pesawat luar angkasa sedang mengorbit bumi dengan perlahan... Aku seperti mimpi...terbius oleh betapa dekatnya diriku dengan Tuhan..."Sate mendengarkan pengalaman baru itu dengan penuh antusias: " Apakah kamu rindu makan enak dan mall...? " Ketoprak tersenyum dan menjawabnya dengan mantap, " Sama sekali yang aku alami bukan hal-hal jasmani lagi, teman..." " Lalu hal apa...? " sekarang Sate penasaran. "Aku merasakan Tuhan...! Aku telah menghirup aroma sorga yang wangi, tidak seperti yang dikotbahkan di mimbar-mimbar. Di atas sana, aku lupa bagaimana bersedih, tak merasa kesepian, lupa beban, tak ada basa-basi hidup, tak ada tetek-bengek, tak ada yang menipu dan ditipu, tak ada rasa takut, kata salam tidak diperlukan, semuanya hanya senyuman kedamaian... Seakan aku tidak merasakan apa-apa... terasa damai sekali....! "
Suatu hari Sate sakit berat karena kanker paru-parunya sudah menyebar ke otak. Jauh sebelum Sate meninggal, mereka berdua pernah berdiskusi lama, dengan cara apa nanti mereka dimakamkan.
Sate ingin dikremasi. Semua abunya ingin ditebarkan oleh Ketoprak dan keluarganya di lautan Pacific dengan kapal pesiar milik Sate. Sate menuliskan surat wasiatnya 5 tahun sebelum ia meninggal di usia 70 tahun.
Di dalam suratnya, ia menulis, "...Papa mewariskan semua harta ke anak cucu papa dengan rata, setelah dipotong semua hutang-hutang usaha. Setiap cucu, papa bagikan masing-masing satu perusahaan. Setelah papa tiada dan akuntan papa melakukan tugasnya, papa ingin nanti dilahirkan kembali sebagai malaikat. Jika tak ada malaikat di kamus reinkarnasi, papa ingin sekali menjadi bunga...Papa ingin menjadi hal-hal baik di kehidupan kedua nanti....Papa ingin menebus semua kekurangan papa saat ini. Maafkan papa dan selamat tinggal semua anak cucuku...Love you all...."
Setelah 20 tahun, tak ada malaikat terlahir dari rahim manusia. Ketoprak terus menunggu keajaiban dari Sate. Tetap tak ada kabar malaikat telah lahir. Yang ia dengar justru banyak tokoh meninggal dengan kesedihan dan air mata penyesalan. Semua berita di tv dan koran, menjual tontonan biasa dan bayi lahir tetap sebagai bayi dengan tangisannya yang sama. " No angel promised. "
Lalu Ketoprakpun meninggal dunia sebagai orang biasa di usia 95 tahun. Ia dimakamkan dekat kedua orang tuanya di kampung halaman, jauh dari kota. Makamnya sangat sederhana, hanya nisan dari batu bata dan gundukan rumput dengan gambar berbentuk " kunci. " Kerabatnya dan teman-temannya banyak yang ziarah kesana. Ia meninggalkan seluruh kebaikannya dengan lega dan lapang dada.
Di detik-detik terakhir sebelum ia meninggal, bibirnya selalu tersenyum, wajahnya cerah bersinar. Di usianya yang mendekati 100 tahun, tak nampak kerutan kesedihan sama sekali. Ia menatap kematian dengan kegembiraan dan suka cita. layaknya seorang ibu yang baru melahirkan anak pertamanya. Ia meninggal dengan penuh kedamaian. Tak ada hutang, tak ada musuh, tak ada istri muda, tak ada peliputan berita dan tak ada penyesalan. " a real-happy ending " kata banyak kerabat. Hidupnya sudah bermakna! Tak seperti yang diteorikan motivator, dijalaninya langsung lewat kesulitan dan tantangan. Ia matang pohon dan buahnya sangat lebat.
Ia menulis juga surat wasiat seperti Sate. "... Aku mewariskan tabunganku yang tak seberapa kepada anakku. Rukunlah satu sama lain. Uruslah kost-kostan yang aku tinggalkan secara bergantian dan hasilnya kamu bagi rata untuk semua cucu-cucu, buyutku dan anak yatim yang aku besarkan. Lalu makamkan aku dan taburlah bunga dengan penuh senyuman. Jangan menangis dan bersedih. Aku pulang ke gunung oase dan bertemu Tuhan disana.....Knocking on heaven's door. "
Setiap kali bunga ditaburkan di atas makam Ketoprak, Sate telah melakukan kebaikan yang ia tebus dari kehidupannya yang pertama. Bunga-bunga itu berwarna putih, kuning dan merah membentuk angka : "DUA"... Huruf D semua bunganya berwarna putih. Huruf U bunga kuning dan huruf A bunga merah...! Tradisi bunga berhuruf DUA itu lalu dilestarikan di makam ketoprak persis dibawah gambar "kunci" di gundukan rumputnya.
Ketoprak pergi ke tempat tinggi dengan "double smile," bertemu dengan Tuhan semasa hidupnya.
Kedua, " big smily in heaven. "
Sate pergi dengan satu senyuman, ketika menjadi bunga.
Satu pintu sorga untuk Sate dan satu pintu di sebelahnya untuk Ketoprak.
Kedua sahabat itu malah bertetangga lebih dekat di sana.
Sama-sama memegang kunci sorga.
"Two real smile, not faked smile..."
Sate telah mendapat "life smile" dari hidupnya ketoprak dan menjadi bunga bagi makam Ketoprak.
Ketoprak mendapat smile-back dari Sate, dengan keyakinan tambah kuat bahwa
"happiness is not what you have, but what you... and not something outside.."
....Lanjutkan sendiri...
note:
Dalam dunia kuliner, Ketoprak adalah makanan gerobak rakyat Jakarta dsk. Utamanya karbohidrat tinggi, potongan lontong, tahu goreng sedikit dipotong, toge rebus dan bumbu gula ulek pakai bawang putih dan cabe, ditaburi kerupuk, cocok untuk makan siang, orang jalanan atau mangkal di komplek perumahan. Dijajakan bersamaan dengan gado-gado, hanya ditambahi potongan tempe goreng, kentang rebus, sayuran & emping. Ketoprak & gado-gado rata-rata Rp 12.000/piring. Sate, sebagai makanan, semua sudah jelas, self-explanatory. Sate ayam bisa Rp 15.000 / 10 tusuk, Sate kambing Rp 18-20.000/ 10 tusuk.
Kebanyakan orang mengikuti jejaknya Sate.
Tak semua jalan sama dengan yang dilalui si Ketoprak.
Jangan meniru naik gunung yang tinggi, sangat berbahaya.
Namun, benar jalan menuju sorga itu sempit.
Sedangkan jalan ke neraka lebar sekali.
Laluilah prinsip-prinsipnya.
Sehingga Anda menemukannya sendiri, original ala Anda sendiri.
Lalu bagikanlah dan berbahagialah.
enjoy & pray