http://filsafat.kompasiana.com/2014/02/04/peaceful-life-631060.html
" Betapa nikmatnya dan “peacefulnya,” jika
kota yang kita diami, semua orang naik sepeda yang melambat. Kota
menjadi sepi dari klakson dan lampu dim.
Tak ada lagi hidup yang tergesa-gesa,
diburu-buru waktu dan dikejar-kejar harapan sendiri. Sepeda, alunan otot kaki musik alami, tanpa bising, tanpa motor, tanpa bbm. Tak ada yang dikejar dan mengejar.
Lelaki diukur dari apa yang ia pegang. Karena hidup tak memiliki apa-apa lagi, tak memegang apa-apa lagi, lalu apa yang dikhawatirkan lagi? Tak ada. Sama sekali, tak ada kehilangan dan kekecewaan, kecuali nanti nyawa pergi kembali.
Perempuan diukur dari apa yang ia lepaskan, bukan dari apa yang ia kenakan. Hidup manusia menjadi lebih tenang, tak ada musuh, tak ada persaingan, jauh dari angka-angka.
Anak ke sekolah, tak mengejar nilai. Papa mama ke kantor atau bekerja sendiri, tak menumpuk harta. Semua sama, ingin menikmati hidup berdampingan tanpa perebutan dan perselisihan.
Gowes-gowes lalu tak lama menuju pinggiran pantai, seperti di Kuta dan Jogya. Maksimum,
orang hanya naik becak dan jika terpaksa mengeluarkan sepeda motornya
dari garasi.
Orang tak lagi membeli mobil dan rumah mewah. Yoga dan meditasi bukan untuk berotot, tapi berotak sehat.
Tak harus hidup di tengah sawah atau di hutan atau di mobil caravan. Tetaplah disitu.
Disitu, yang ada gazebo dari bambu bukan batu marmer, tempatnya jiwa yang lelah duduk-duduk di
sore hari, sambil menanti maghrib. Kopi dan teh hangat disajikan dengan
ubi rebus, paling banter pisang goreng, bukan black-forest atau
chicken-nugget atau KFC. Starbucks tak punya tempat disitu.
Dunia semakin tidak mahal. Walikota dan gubernur tak pusing membangun jalan tol, fly-over dan monorail. Anggaran kota menjadi murah. Tak ada pajak STNK mobil yang membuat kening berkerut.
Uang yang ada dipindahkan ke rumah-rumah sehat di pinggiran kota, mendidik warga, menyehatkan umat, membangun mental negarawan sejati sambil menghargai pahlawan negeri sendiri.
Pejabat
tak perlu korupsi, karena semua orang bersepeda.
Nilai-nilai
tradisional Indonesia hidup kembali. Warga saling menolong dan bergotong-royong.
Membangun negeri tanpa menyakiti. Walau tetap ramai, tetapi ada damai.
Life is so simple.”






Tidak ada komentar:
Posting Komentar