Kamis, 12 Maret 2015

life begins at 40, slows down at 50 and then stops whenever...














"Atheist says life begins at 40, slows down at 50 and then stops at my own destiny."   Agnostic says life begins at 40, slows down at 50 and then stops whenever it has to stop.   Believer believes that life begins at 40, slows down at 50 and then stops whenever God wants it."  

Semua kehidupan apapun itu pilihannya, selalu dimulai dan harus diakhiri.  Kehidupan itu sendiri adalah sekeranjang belanjaan pilihan-pilihan.   Ada mentega, ada telur, ada beras, ada buah mangga dan ada sayur bayam.  Menjadi mentega ataupun menjadi seperi bayam, itu hanya aneka barang belanjaan.   Keranjang adalah pembatas ruang gerak kehidupan, itulah yang kita sebut sebagai aturan atau etika bersama untuk hidup bersama. Menjadi  mentega  akan berakhir ketika ia disajikan untuk disantap.  Namun akan ada  mentega-mentega baru lainnya yang terus dibuat setiap hari [kehidupan baru yang dilahirkan].  Esoknya berakhir di meja makan, begitu terus.  

Menjadi atheist adalah pilihan pribadi. Menjadi agnostic adalah pilihan pribadi.  Menjadi believer [orang percaya] juga pilihan pribadi.  Orang beriman [monotheism atau henotheism] mengatakan: "....God is great, God is good..."  Orang yang memilih untuk atheist atau agnostic, akan berkata: " Ya, whateverlah..."  Semuanya itu adalah keranjang dari kehidupan.   Sehingga sejak semula,  pilihan hidup adalah hak azasi manusia yang melekat personal.  Sebenarnya tak boleh ada pihak manapun yang memaksakan seseorang untuk menjadi seperti mentega, jika ia memilih menjadi bayam.  Pilihan seseorang untuk menjadi seperti apa, adalah kemerdekaan hidup. Pada akhirnya,  semuanya hanya sebuah kehidupan,  mirip sebuah keranjang belanjaan. 

Pilihan itu sendiri bersifat terbuka dan bebas.  Sehingga hidup selalu bebas untuk memilih apa saja dan kapan saja.   Kematianpun, meski tak punya daya untuk memilih, namun ada sekelompok orang yang  suka "memaksakan" peristiwa kematiannya sendiri atau kematian orang lain.  Keduanya ini sama-sama "no choice" atau hilangnya kemerdekaan untuk terus hidup.  "Enough" adalah judul film drama-thriller America tahun 2002 yang dibintangi Jennifer Lopez sebagai Slim, istri yang mengalami  "physical abuse" dan "unfair affair" oleh suaminya, Mitch. Mitch memaksakan "open marriage" dengan memiliki "affair" diluar dan pada akhirnya ia "memaksakan" kematian untuk istrinya sendiri. Slim melawan dengan belajar "self-defense" dan berhasil mengakhiri kebrutalan suaminya, sebagai upaya "self-defense," menurut laporan kepolisian Los Angeles. Slim dan Gracie melanjutkan hak hidupnya di Seattle. Tentu plot film yang diambil dari novel laris "Black and blue" tahun 1998 ini sesungguhnya "nyata" dalam kehidupan manusia zaman ini.  Seseorang sengaja dengan niat jahatnya memaksakan kematian kepada orang lain. Dan karena "everyone has a limit," maka akan ada arus deras perlawanan atas segala bentuk pemaksaan kehendak, sampai tuntas, seperti dalam "Enough."  

Kita semua faham, setiap pilihan diikuti resiko. Kita akan dikenal oleh orang lain karena cara kita memilih sesuatu.  Jika kita memilih untuk atheist ataupun agnostic, maka kita dikenal oleh kerabat sebagai orang yang berbeda dari mainstream. Memang orang yang berbeda, tak banyak. Di dunia ini lebih banyak kita mengenal orang lain sebagai orang yang "mempercayai" adanya iman dan Tuhan, yang kurang lebih proporsinya 88% [the world factbook, 2010]. Populasi diluar mainstream kurang lebih 12% masuk sebagai "non-religious dan atheist" dari  total populasi 7 miliar penduduk.   Meski  "percaya" kepada Tuhan itu beragam interpretasi dan variasinya dalam keyakinan.  Lalu dunia ini penuh warna, karena aneka pilihan bebasnya. Ada yang menyebut Tuhan dengan Aten, He who is, I am that I am, Allah, Yahwe, Jehovah, Elohim, Adonai, Al-Elah, Brahman, Krishna, Baha, Waheguru, Ahura Mazda, dst. Lalu menciptakan agamanya dan beribadah kepada Tuhan yang diimaninya. Dunia menjadi penuh.             

Jika orang masih bisa memilih untuk mati, namun satu-satunya yang tak bisa dipilih adalah kelahiran. Kelahiran menjadi pembatas untuk memilih bebas.  Kapan dilahirkan, dari orang tua mana dan dimana dilahirkan, sepenuhnya manusia tak punya pilihan, bukan? Kelahiran telah melahirkan bangsa-bangsa yang beragam.  Cara manusia hidup di zaman tertentu melahirkan banyak kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Pada akhirnya, semuanya itu adalah bumi yang hidup.    

Atheist dan agnostic percaya bahwa kehidupan ini sepenuhnya adalah pilihan sendiri. Jika bisa sukses itu karena dirinya sendiri.  Dan jika gagal,  itu juga karena diri sendiri. Keduanya,  cenderung tak menghitung atau menyalahkan pihak-pihak lain.  Hidup adalah "murni" kebebasan dan kemandiririan diri sendiri.  Semua kesuksesan dan kegagalan karena kebebasannya sendiri. Dan itu mandiri, karena "tidak" bergantung sama sekali oleh adanya iman percaya kepada Tuhan. Tuhan bukan pihak lain yang menentukan sukses atau gagalnya. Menjadi bebas penuh dan full mandiri adalah resiko langsung dari jalan hidupnya. Sehingga ketika hidup harus diakhiri, keduanya percaya bahwa kematian adalah takdir dan memang harus berhenti.  Oleh siapa itu dihentikan?  Mereka percaya oleh hidup itu sendiri, bukan oleh Tuhan dan bukan oleh kerja alam semesta.
 

Sebaliknya,  seorang believer tidak sepenuhnya bebas dan tidak sepenuhnya mandiri.  Gerakan hidupnya ada yang membatasi, yaitu aturan Tuhan dan aturan yang dibuat manusia.  Mau tak mau, hidupnya diikat oleh aturan dan tata tertib pihak lain sesuai kepercayaannya.

Ia juga tidak seratus persen mandiri, karena sangat bergantung kepada campur tangan Tuhan [keterlibatan pihak lain, yaitu Tuhan].  Hidupnya ia gantungkan pada deity, the supreme being atau Godliness.
Inilah resiko langsung menjadi orang percaya akan adanya Tuhan.

Believer, percaya bahwa semua kehidupan berasal dari  Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Karenanya hidup adalah  "gabungan" antara pilihan sendiri dan rencanaNya.  Oleh karena itu, hidup tidak murni bebas dan tidak sepenuhnya mandiri.  Ia harus dikelola sedemikian rupa, sehingga serasi selaras dengan pathwaynya Tuhan.


Ada kemungkinan jika orang beriman sukses [bertabur black-forrest cakes], itu karena faktor gabungan usahanya dan pertolonganNya [campur tangan Tuhan].  Orang percaya yang sombong, bisa terperangkap bahwa jika sukses, murni karena jerih payahnya sendiri, dalam hal ini bisa mirip atheist dan agnostic.

Orang beriman yang gagal [banyak menyimpan anti-depressant pilss], percaya bahwa karena Tuhan belum merestuinya atau belum waktuNya. Namun orang percaya yang "kurang" percaya [kurang yakin], jika gagal, bisa-bisa ia menyalahkan pihak lain. Yang terdekat adalah Tuhannya.  Mengapa sudah bertekun dalam doa dan berusaha keras, masih gagal juga? Ia lupa bahwa Tuhan turut serta dalam segala hal hidupnya, baik maupun tidak baik.   Mengapa demikian? Karena ia tidak sepenuhnya bebas dan tidak sepenuhnya mandiri. Ia harus hidup sesuai rencana besar Tuhan. Bagaimana ia bisa tahu rencana Tuhan? Tentu dengan komunikasi intens dengan Tuhan, sesuai cara masing-masing.

Secara alami kehidupan memiliki siklus atau gelombang.  Ada kelahiran, menjadi besar, kemudian mengecil lalu mati.  Pada umumnya faham "life begins at forty" sejak tahun 1930-an di Amerika, masih "relevan" hingga hari ini, bukan?  Umumnya hidup beranjak sukses di usia 40-an tahun keatas, beberapa orang mulai di usia lebih muda 20/30 tahun sudah menjadi CEO dan memiliki perusahaan sendiri.  Beberapa orang mulai bersinar diatas 50 tahunan.  Pada umumnya kehidupan mulai menurun setelah 50/60 tahun, namun ada yang baru di usia 70-80 tahun.  Perkecualian yang dunia ketahui adalah Ronald Wilson Reagen dari Illinois, lahir 1911 dan menjadi Presiden Amerika ke 40 tahun 1981, pas di usia tua 70 tahun. Ia pernah menjadi gubernur California ke 33 tahun 1967 sampai 1975 di usianya yang ke 56-64 tahun. Reagen,  baru meninggal di usia sangat tua 93 tahun, di tahun 2004 di Los Angeles, meninggalkan 5 anak yang bahagia. Dunia ingin meniru Reagen seakan-akan tetap mau berjaya terus sampai tua, tapi sangat sedikit yang bisa meraihnya.  Reagen, salah satu exception dunia. Exception lainnya masih banyak sekali, baru di wisuda S-1 lalu meninggal, baru lahir sudah selesai, dst.

"The other side of equation"  akan mengatakan “life does not begin at forty…, it just slows down”  justru menurun mulai usia 40.  Penelitian terbaru dalam jurnal Neurobiology of Ageing, tahun 2008, menurut Dr George Bartzokis, profesor psikiatri di Semel Institute for Neuroscience dan Perilaku Manusia di UCLA, otak kita tumbuh tercepat sampai usia 39, setelah itu  menurun “pada tingkat percepatan.” 

Itu berarti bahwa reaksi juga melambat.  Hilangnya kulit lemak [sarung pelindung, protective sheaths], yang melapisi sel-sel saraf, yang disebut neuron, selama usia pertengahan menyebabkan proses perlambatan [ageing].  Lapisan sarung pelindung bertindak sebagai isolasi, mirip plastik yang menutupi kabel listrik, yang memungkinkan semburan cepat sinyal terjadi di sekitar tubuh dan otak.   Ketika sarung selubung memburuk, sinyal di sepanjang neuron akan melambat,  ini berarti waktu reaksi dalam tubuh juga melambat.  Ilmuwan di University of California, Los Angeles,  menemukan bahwa setelah usia 40 tubuh “kehilangan pertempuran” untuk memperbaiki sarung pelindung.


Mereka  menguji seberapa cepat laki-laki berusia 23-80 tahun bisa menekan jari telunjuk mereka dalam sepuluh detik.  Semakin cepat jari mampu menekan,  frekuensi muatan listrik semakin cepat pula. Inilah yang disebut sebagai proses potensial aksi dari neuron syaraf di otak (neuronal action potential atau AP).  Pengukuran integritas selubung myelin di lobus frontal otak, menggunakan scan MRI.   Hasilnya mencolok, semakin tua, kita mulai kalah dalam pertempuran perbaikan. Itu berarti rata-rata kinerja jaringan secara bertahap mengalami penurunan seiring dengan usia,  pada tingkat percepatan, an accelerating rate.
Proses kerusakan myelin tsb dimulai pada usia pertengahan dan “perlahan-lahan” mengikis kemampuan myelin untuk mendukung  frekuensi AP.  Itulah mengapa semua orang tua bergerak lebih lambat dibandingkan saat mereka masih muda.  Penelitian juga menunjukkan kerusakan myelin juga mengurangi fungsi otak lainnya yang membutuhkan koneksi cepat, seperti memori.  

Intinya, pada akhirnya semua kehidupan toh secara  perlahan, pasti meredup seperti lampu kehilangan cahayanya.  Ia terus “mengecil” baik dari sisi produktifitas maupun kontribusinya.  Lalu pada akhirnya toh mati juga.  Selesai sudah, game-over.

Lalu yang menjadi penting adalah apa yang sudah dilakukan dan belum sempat dilakukan semasa hidup.   Disitulah legacy masing-masing kehidupan akan dikenang oleh sejarah dan dituliskan, tak hanya meninggalkan batu nisan dan abu jenasah.  Semua kehidupan apapun itu pilihannya, selalu dimulai dan akan  diakhiri.  Ketika dimulai, dirayakan dan ketika diakhiri, juga dirayakan, apapun itu warna pilihannya.      


Sumber gambar: dailymail.co.ud & wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar