Lebih banyak orang suka main-main dari pada hidup serius, lebih suka tanpa aturan dari pada lurus pakai sistem disiplin, lebih suka njelimet dan muter-muter dari pada yang simple dan gampang, lebih suka kaya raya dari pada hidup cukup, lebih suka mengalir dari pada hidup dengan tujuan. Mereka seolah-olah telah menghabiskan umurnya dengan percuma dan sia-sia. Masih bersyukur mereka tidak terlibat bisnis "drug lord" dan mafia penyelundup kelas berat. Masih bersyukur mereka tidak berurusan dengan pasukan delta force, FBI, DEA agent atau KPK. Masih bersyukur mereka tidak jadi pesakitan tahanan polisi atau kejaksaan. Masih bersyukur mereka bukan napi kasus narkoba. Masih bersyukur, anak perempuannya bukan korban "kecelakaan," tembak lari lelaki liar atau pelaku "business-online." Masih bersyukur, suaminya bukan bandar judi. Masih bersyukur istrinya bukan jenis pelarian dengan lelaki lain. Hidup adalah pilihan, bagaimana kita hidup, menentukan cara kita mati, bukan? Perjalanan juga pilihan, kemana kita pergi, menentukan kita sampai dimana, bukan?
Di level yang lebih ringan, ada lebih banyak orang suka berjalan-jalan dari pada tinggal di rumah. Ada anak kecil 8 tahun teriak lugu dari luar rumahnya: " Mama, dede muter-muter sepedaan ya, bosan di rumah..!" Anak kecil saja sudah bosan. Ada istri yang kerjaannya kelayapan. Ada anak lelaki yang pemberontak. Ada anak gadis yang gelisah. Ada orang tua muda yang gila golf sampai kambuh jantungnya dan tewas seketika. Ada suami yang hobinya selingkuh di tiap tikungan. Banyak istri yang suka gonta-ganti gadget dan tas dari pada ngurus rumah tangga. Setelah diselidiki, ternyata mereka kesepian di rumah, tidak dikasihi oleh pasangannya, patah hati, tertolak, frustrasi, kecewa dan tidak punya tujuan hidup. Inilah jenis traveler pejalan kehidupan yang kesepian ditengah keramaian, yang bosan ditengah kesibukan, yang ngap di ruang AC. Ada berapa banyak model yang begini? Anda yang simpulkan saja.Manusia badani suka menyenangkan hawa nafsu dan keinginannya dengan berjalan-jalan jauh, hingga ke alam liar dan bahkan extreme gila-gilaan. Ada yang suka ke mall atau pantai. Ada yang suka ke luar negeri dan melihat peradaban lain. Ada yang fanatik suka gunung dan lembah-lembah serta gurun pasir eksotis. Tapi tak jarang, banyak suami yang lebih betah di rumah dengan anak-anak. Kita menyebutnya orang rumahan. Seorang pilot adalah traveler sepanjang waktu. Tapi itu sejauh panggilan tugas. Sesampai di rumah, ia bisa jadi 100% orang rumahan, lebih senang bermain dengan anak-anak.
Baik orang jalanan, orang yang hidupnya kesepian dan sia-sia maupun orang rumahan, semuanya disebut para traveler. Toh semuanya akan pulang juga ke rumah, bukan? Karena rumah adalah tempat dimana cinta sejati dibuktikan, bukan di perjalanan, bukan? Karena rumah adalah tempat bertemu. Tuhanpun tinggal di sebuah rumah nan indah. Itulah mengapa para "homeless" dianggap sebagai traveler sejati. Beberapa orang atau sekte tak berniat punya rumah. Mereka feel at home dengan tinggal di kontrakan atau di caravan atau going into the wild camping di hutan. Rumah di bumi hanya sementara, "numpang minum, numpang ngombe" kata orang Jawa. Toh pada akhirnya semuanya "pulang" kembali ke "basic origins," the Almighty God, our Holy Creator. At the very end, teman, saudara dan sahabat akan berdoa: "Bye..bye..bye.. selamat jalan saudaraku, temanku, sahabatku yang kukasihi... Semoga jalanmu mudah lurus, menuju Sorga yang indah dan kekal, Amin." Hanya itu saja, doa terakhir bagi semua traveler.
Tuhan memang tidak menciptakan rumah bagi manusia, tetapi Dia menciptakan manusia, si pembuat rumah, si pembuat tujuan. Rumah macam apa saja, ia adalah tujuan perjalanan. Bumi dan planet lain sama-sama sebagai rumah bagi kehidupan. Sorga, juga dipercayai sebagai rumah diatas rumah kehidupan.Perjalanan melewati ruang dan waktu, akan menuju ke suatu titik, rumah. Pohon kamboja, nyamuk, kecoa, laba-laba, kucing dan anjing juga punya rumah. Bahkan tupai dan burung kutilang juga berumah di pohon-pohon. Penjara adalah rumah. Sekolah adalah rumah. Tempat bekerja adalah rumah. Jalan raya adalah rumah. Rumah sakit adalah rumah. Mansion adalah rumah.
Perjalanan yang biasa, adalah perjalanan keluar rumah. Ia hanya berpindah dari satu titik ke titik berikutnya. Itu sudah biasa dan jamak. Pulang jalan-jalan, biasanya badan capek dan psikis stress karena tagihan datang. Orang demikian hidup dengan 100% badaniah. Sifat badani antara lain, sehat, segar, fit, cepat capek, lelah, pegal dan stress. Sifat psikis, antara lain, senang, gembira, antusias, sedih dan muram. Jenis traveller biasa, mereka hidup untuk berjalan-jalan di berbagai ruangan. Traveler jenis ini pasti akan haus untuk pergi ke tempat-tempat suci di tempat yang jauh. Semakin jauh, mahal dan sulit, semakin sakral.
Ini mungkin yang disebut "physical traveler." Jenis traveler ini percaya sekali jika sudah pergi ke tempat suci beberapa kali, pasti masuk Sorga. Jenis traveler ini tak mungkin bertahan jika ada ancaman fisik yang berat, seperti: tubuh terbakar, disiksa, divonis hukuman mati atau suami/istri tercinta meninggal, dst.
Sedangkan perjalanan yang tidak biasa adalah perjalanan tetap di tempat, tidak keluar rumah atau meninggalkan lokasi tertentu. Manusia rohani kita lebih suka diam dan tenang. Kesukaannya adalah menyembah, memuji, membaca Firman Tuhan dan melakukannya. Itu makanan roh, makanan rohani, pemuas dahaga rohani. Itulah rumah rohani.
Pertapa dan meditator, silent rider, rohnya berjalan-jalan dalam ruang waktu, badaninya tetap diam tak bergerak. Enam puluh tahun, 70 tahun, 80 tahun, 90 tahun, 100 tahun, waktu yang bisa memerangkap badani. Namun jiwa, roh, spirit, being, awareness, tetap akan mengembara dalam alam roh yang tak terbatas, bukan? Bagi pertapa, badannya tak lelah. Namun ia mengalami kepuasan rohani yang tak terkatakan dengan bahasa bumi. Orang demikian hidup dengan 50% badani dan 50% rohani. Ia tak butuh pergi ke tempat-tempat suci. Karena dimana ia hidup saat ini, adalah tempat suci.
Semakin hidup manusia ke arah suci, semakin ia menanggalkan keinginan dagingnya. Maka ia hidup dengan sesedikit mungkin kekuatan jasad ragawinya. Ia akan bertahan hidup dengan lebih banyak tubuh rohaninya. Lama kelamaan, tubuh imannya menjadi kuat. Ia bisa saja mendekati keadaan 100% rohani. Dan pada suatu titik nanti, ia benar-benar akan 100% rohani penuh, roh adanya. Kapan? Ketika badan jasmaninya mati, selesai. Ini yang disebut orang, meninggal dunia. Yang meninggal hanya raganya. Rohnya tidak sama sekali. Rohnya akan terus melakukan perjalanan yang belum selesai. Kemana itu? Misteri adanya.
Jasad memang ditinggalkan di bumi. Ia berhenti dibumi, tapi rohnya terus hidup dalam ruang yang berbeda dan dimensi waktu yang tak berbatas. Ini mungkin yang disebut "spiritual traveler" atau silent traveler. Jenis traveler ini mampu melihat ke dalam dan menemukan cahaya keindahan bersama Tuhan Allah. Mereka mampu melewati batasan tempat.
Doa-doa tokoh agama, menyebutnya " jadilah kehendakMu di bumi seperti di dalam Sorga. " Tanpa berjalan-jalan jauh, roh bisa merasakan dan mencapai Sorga. Dalam hitungan detik dan menit, roh mencapai state of heaven. Kita sering mendengar orang yang koma, mati suri, si aladin atau orang sakti, dalam kedipan mata atau second, sudah ada di kampung halamannya yang sangat jauh atau berada di Sorga. Jangan-jangan Sorga itu memang sudah ada disini, hanya kita tak bisa melihatnya dengan mata badaniah.
Alam Sorga bisa jadi alam yang sama yang dipakai badan dan tubuh di bumi. Saat ini juga disini, ada Sorga dan Neraka. Itulah mengapa penjahat yang rohnya bertobat, saat itu juga ia berpindah dari Neraka ke Sorga. Perjalanan roh bisa jadi adalah perjalanan di bumi ini, bukan ke galaksi lain.
Sebagian orang atau sekte berpendapat Sorga bukan "locality" atau menunjuk ke suatu tempat. Ada juga yang tak bisa percaya adanya Sorga dan Neraka, jika itu sebagai " tempat. "
Badan Andrew Chan [kini priest] dan Myuran Sukumaran [kini artist] dari Sydney, boleh dihukum mati dengan sadis dan shocking pada 29 April 2015 di Nusakambangan. Namun rohnya tetaplah akan terus berjalan-jalan menuju roh Allah Yang Maha Besar. Sebuah destiny baru, boleh dibilang dunia baru. Orang media, mengatakan dunia lain. Hukuman mati hanya bisa "membatasi" hidup badani, tetapi tidak berkuasa atas roh. Dunia lain itu tak bisa dihukum mati. Perangkat hukumnya tentu berbeda. Itulah menjelaskan, mengapa Andrew dan Myu berani menghadapi kematian badani dengan gagah perkasa. Karena yang perkasa adalah badan rohaninya, yang lebih besar dari pada badan ragawinya. Itulah mengapa, semua pejuang 300 Sparta tak takut mati, karena mereka tak hidup dengan 100% badan ragawi. Ketika rohani lebih utama dari yang badani, mereka tak gentar oleh apapun, kecuali kepada Tuhan.
Dimana manusia roh sebelum dilahirkan? Apakah kehidupan roh baru dimulai setelah dilahirkan oleh raga badani? Jangan-jangan kita semua sudah ada sebelum dilahirkan, dalam bentuk pejalan roh. Hidup di alam roh yang tak nampak oleh mata, karena tak memakai jasad badani. Karena tak bisa dilihat, apakah itu berarti tak ada? Tuhan juga tak nampak, apakah berarti juga tak ada? Ternyata ada. Tuhan dalam bentuk Roh Yang Maha Tinggi.
Selama dipenjara 10 tahun, ke dua tubuh Andrew dan Myu boleh tak berubah, kecuali bertambah dewasa. Roh telah berubah dari penjahat menjadi roh yang bertobat. Mereka kembali kepada Jalan Tuhan yang benar. Dan kini roh mereka telah bebas menang menuju perjalanan selanjutnya. Keluarganya, politikus, media massa, akitivis hak azasi manusia, jaksa dan hakim, sipir penjara dan dunia yang mendoakannya, hanya tahu mereka berdua kini berjalan diantar Malaikat-Malaikat di alam roh. Manusia pandai menggambarkan rupa Malaikat. Malaikat itulah yang menyambut dengan gembira ke 2 roh kembali pulang kepada Tuhan yang membuat mereka berubah. Perjalanan mereka masih panjang, demikian juga kita.
Namanya Gado-gado. Ia adalah tokoh lelaki senior 70 tahun yang menurut kita pastilah ia sudah matang pohon. Benar ia jenis " spiritual traveler " yang sudah melewati fase " bodily or physical traveler. " Ia tinggal bersama istrinya sedikit lebih tua, tante Kolak, orang Korea. Sebagai orang Kawanua yang hidupnya seharusnya mewah, tapi ia memilih tidak sama sekali.
Om Gado-gado mengambil rute perjalanan berbeda dengan mainstream. Ia memilih jalan sederhana di rumah lamanya. Sudah 50 tahun mereka tinggal di kota itu dengan aman dan damai. Mereka tidak ingin ke tanah suci. Belum pernah berdua ke Amerika atau keliling Eropa, layaknya pensiunan swasta. Apakah mereka berbahagia? Jawabnya, ya.
Bagi mereka, tanah mereka tinggal adalah tanah suci. Air dimana mereka minum adalah air suci. Waktu dimana mereka hidup saat ini [the now, the present moment] adalah waktu yang suci/ sakral. Yang mereka sadari sungguh-sungguh adalah bahwa waktu sekarang adalah penggalan dari "eternity" [kekekalan]. Jika mereka hidup dengan benar & bijaksana sekarang, sebenarnya mereka sudah menikmati "sorga" seperti yang dikotbahkan oleh orang yang mereka pikir lebih tahu. Tak disangka, para spiritual traveler ini ternyata sedang mengirimkan "bahan" bangunan anti karat untuk membangun rumah mereka di Sorga. Malaikat bertugas membangun rumah-rumah baru bagi mereka.
Celakanya yang lebih tahu, ternyata belum tentu lebih benar, bukan ? Om Gado-gado dan tante Kolak, jenis manusia pelaku Firman, bukan jenis orang pintar berbicara. Dan ternyata benar, banyak pengkotbah dan tokoh agama, hidupnya berantakan. Dekat-dekat bergaul dengan mereka hawanya terasa panas. Spiritual traveler menyebut mereka jauh dari Sorga yang dingin dan sejuk.
Sebenarnya, kota mereka kini sudah teramat ramai bagi seusia mereka, yang ber-KTP seumur hidup. Pendatang berbagai suku dan agama tiap tahun datang berjubelan menghimpit penduduk asli. Tujuan pendatang cuma satu, cari hidup. Bukan berarti pendatang susah hidup. Rata-rata mereka sudah punya kompetensi minimal, baik sebagai tukang, pekerja dan pembantu. Penduduk asli kerap tersingkir oleh mulai berkuasanya pendatang.
Karena sikap awalnya sudah berbeda dengan para pendatang. Maka bagi om Gado-gado dan tante Kolak tinggal di kota itu bukan lagi dipandang sebagai masalah. Mereka tak lagi mencari hidup. Hiduplah yang datang mencari mereka. Kegembiraan hati mereka sudah jadi obat paling murah, paling efektif. Ketenangan jiwanya sudah sama dengan suhu Kungfu dari Cina yang berlatih puluhan tahun. Om Gado-gado dan tante Kolak sendiri sebenarnya, sudah beres. Mereka hanya ingin hidup tenang di usia seniornya, sampai Tuhan, the almighty being, memanggil pulang. Semua ciptaan toh akan kembali pulang [coming back to the origins].
Salah satu doa mereka, adalah mendoakan kota. Dahulu, kota mereka sangat nyaman dan aman, meski minim fasilitas. Kini, kota jadi semrawut tak karuan. " Local traveler " pendatang, menguasai mayoritas perekonomian kota dengan gaya hidup dan budaya yang heterogen. Walikota dan aparat kota umumnya dikuasai warga traveller. Di dunia pendatang, memang mereka dapat membuat ekonomi satu daerah tidak jenuh dan maju. Namun sayangnya di kota om Gado-gado dan tante Kolak, hidup jadi tak nyaman dan tak aman lagi. Bagi manusia pendatang, cara paling mudah cari uang adalah membangun banyak mall, ruko dan apartmen. Namun, mall membuat hedonisme bertambah dan jalanan macet. Bangunan ruko membuat gersang karena hutan kota berubah jadi blok-blok semen. Apartmen membuat kota jadi padat manusia. Kota menjadi terlalu banyak manusia. Persaingan yang tadinya alami, kini mengeras. Gesekan sosial jadi lebih sensitif tersulut. Kriminalitas gampang meningkat. Meski rumah ibadah terus dibangun juga. Ia tak menjamin warganya hidup damai dan sejahtera. Karena kedamaian dan kesejahteraan tak bergantung jumlah bangunan, bukan?
Kampung kota yang mereka tempati, kini tak nyaman lagi. Apakah itu yang disebut pembangunan? Tentu bukan, hanya salah kaprah. Kota, tanpa manajemen tata ruang, tumbuh suka-suka, sesuka keinginan warga kotanya. Apartemen, komplek perumahan, sekolah, rumah sakit dan mall berjamur tak karuan. Ruko, pabrik dan rumah semua jadi satu di wilayah yang sama. AC mobil berkurang dinginnya. Baju cepat bau karena udara kota kotor. Terminal semrawut, stasiunnya gelap dan jorok, angkotnya tak beraturan, sampah berserakan dimana-mana, kriminalnya melonjak dan jalanan rusak, Air PAM dan listrik sering " byar-pet " semaunya. Plus warga miskinnya sulit bisa sekolah dan berobat dengan layak. Mereka berdua belum pernah merasakan kehebatan "medicare system" seperti di Amerika, Eropa atau Australia, negeri-negeri maju. Tapi, radar mereka menangkap sinyal, ada yang keliru dengan cara manusia, pemimpin, membangun kota. Warga miskin tertinggal jauh sendirian.
Menurut om Gado-gado dan tante Kolak, mall, ruko dan apartmen tidak dibutuhkan oleh kota kecil ini. Common-sense mereka mengatakan, hei pemimpin, yang lebih dibutuhkan adalah pelebaran jalan, perbaikan fasilitas umum seperti jalan, jembatan, penyeberangan jalan, trotoar, jalur motor/ sepeda, terminal, stasiun, pasar, angkot, sekolah, rumah sakit daerah, puskesmas yang lebih layak dst. Benahi saja yang sudah ada. Dibuat bagus dan nyaman bagi siapa saja. Arah pembangunan kota om Gado-gado dan tante Kolak sudah melenceng, suka-suka investor saja. Pemimpin harusnya punya visi memperbaiki kesejahteraan warganya, bukan membangun gedung-gedung baru. Tapi, suara mereka hanya suara pinggiran. Namun, doa mereka bukan doa pinggiran.
.
Di kota itu, hebatnya, hampir semua warganya, pegang handphone, yang seolah sudah jadi " nyawa " kedua. Kualitas pendidikan jangan ditanya, semua kejar tayang asal lulus dan angka bagus. Anak dididik mengejar jumlah, bukan nilai-nilai kebaikan. Keluar malam sudah tak aman dengan begal membegal. Rumah kost dan apartmen sudah menjadi ajang "business on-line." Tekanan hidup semakin keras. Namun pesta dansa sampai mabuk juga banyak. Anak mudanya senang main futsal, tapi rokok jalan terus. Jika tak punya uang, orang tak segan-segan nekat. Motor dikunci, hilang. Itu sudah langganan. Mau hutang tapi tak mau bayar, juga sudah membudaya. Rumah petak kontrakan saling berhimpitan di gang-gang sempit. Anak-anak kecil main bola di jalan raya, juga pemandangan biasa. Yang jahat bertambah jahat. Yang baik ikut-ikutan tak baik. Inilah " broken city " di negeri miskin [ " culture of human poverty " ]. Pemimpin kota dan investor pikir, jika membangun lebih banyak mall dan ruko, itu artinya sudah maju. Keliru bukan?
Namun si Gado-gado dan si Kolak tak pusing dengan ulah pemimpinnya. Mereka cukup "enjoy" dengan kondisi mereka. Faktanya, mereka beranak-cucu di rumah tua itu. Dan memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dan di kota itu, meski kampung kini terasa pengap dan sesak. Adaptasi genetikalah yang membuat mereka pada akhirnya, jadi terbiasa. Saking sudah biasa, masalah tak lagi dirasa masalah. Hidup yang tak enak "as usual, " dengan radar imannya, mereka sanggup melihat banyak " amazing grace " yang tak terlihat mata biasa. Setiap hari adalah kemenangan dan hadiah adanya. Itulah hidup bahagia mereka. Enak bukan? Apakah mereka egois? Tidak. Mereka "gerah" dengan kekeliruan kota, makanya mereka mendoakan kota dengan tekun. Malahan, mereka punya "komunitas doa" yang sudah berjalan 10 tahun belakangan ini mendoakan kota. Hanya perjalanan doa mereka masih panjang, sepanjang kekeliruan yang terus dibuat.
Sekadar mengingat-ngingat saja. Dahulu ketika si Gado-gado masih aktif sebagai bodily traveler, ia sering dinas ke luar negeri, tentu sendiri, tanpa istri. Ia menjelajahi kota dan negeri yang enak untuk dihuni. Ia sudah pernah tinggal paling tidak satu minggu di negeri-negeri yang income per capitanya di atas USD 10,000. Human Development Indexnya [HDI] sudah tinggi diatas 0.8 seperti Australia, Canada, Inggris, Jerman, Swiss, Perancis, Italy, Amerika, Jepang, Singapura dan Korea Selatan. Tour agency panen tiap tahun membuat produk jalan-jalan ke luar negeri yang laris manis sampai hari ini. Jika teringat negeri-negeri nyaman itu, banyak orang ingin tinggal disana dan tak mau balik. Mengapa mereka betah? Disana, hal-hal yang sulit dan rumit, dibuat mudah dan simple. Namun si Gado-gado toh tetap mencintai negerinya sendiri. Ciri utama di negerinya sendiri, hal-hal mudah, justru dibuat sulit dan rumit. Dari modus ini, orang-orang jahat bisa menghasilkan banyak uang untuk dinikmati keluarganya, bukan? Kita namakan saja, proyek akal-akalan.
Salah satu "escape plan," justru mereka "tidak" mau pergi jauh atau melarikan diri dari " broken city " mereka. Yang masih bisa diperbaiki, mereka perbaiki. Yang masih bisa didoakan, mereka doakan. Yang sudah tak ada harapan, mereka terima dan nikmati saja. " Acceptancenya " sudah terlatih tinggi. Jam terbang kesabarannya banyak. Hidup dengan kecerdasan spiritual yang sudah di frekuensi tinggi. Kesadarannya diatas rata-rata warga kota, tapi tak sombong. Buat apa sombong?
Ia dan istrinya setia "merendahkan diri" untuk selalu datang kepada Tuhan. Setiap pagi dan malam, mereka berdiri memandang ke langit sambil berdoa. Rutinitas orang sederhana yang tahu siapa dirinya [ who am I ? ]. Mereka tekun berjalan di belakangnya Tuhan. Jalan teraman yang diambil adalah berjalan-jalan dengan Tuhan [" traveling with God not with travel agent"]. Perjalanan mereka kadang jauh, kadang dekat. Tergantung dompet iman. Setiap hari bersimpuh di kakiNYA. Rajin bersyukur adalah nafas keduanya, bukan hanya berdoa. Segala persoalan kota mereka bawa ke hadiratNya. Saking dekatnya, mereka bisa mendengarkan suara Allah Maha Besar yang indah. Sambil terus menjalin kasih sayang dengan semua anak cucu dan tetangga mereka.
Bagi mereka menambah kawan di jalan jauh lebih baik, dari pada memaki 1 orang. Hidupnya sudah terbebas dari hutang bank [terlepas dari jeratan keinginan]. Apalagi, mereka tak punya rencana besar untuk mencari uang. Buat apa lagi? Mereka sudah selamat dunia dan akhirat. Jaminan keselamatan sudah di tangan, buat apa lagi cari non-sorga. Tak banyak orang yang hidupnya terus berpelukan erat dengan "jalan" Tuhan. Maka, ada tertulis, "jalan ke Sorga sungguhlah sempit. Dan lebarlah jalan ke dalam api." Mereka sadar, bukan Tuhan, bukan malaikat dan bukan jin. Hanya kesatuan body, mind & being yang sudah berjalan masuk ke Sorga ketika masih di dunia [ a spiritual traveler ]. Maaf, mereka jenis traveler yang tak mempan lagi dengan jurus 10 tips atau 7 tips untuk hidup bahagia. Merekalah pelakunya, ahlinya.
Mereka sekali lagi, bukan sufi, tak punya gelar atau julukan the saint. Hanya orang biasa dengan cara hidup yang tak biasa. Manusia aneh dari Sorga. Setiap memandang ke atas, selalu ada awan dan langit atapnya Sorga. Melihat ke depan, selalu ada " travelling Guide " di depan mereka. Ketika melihat ke bawah, ada pelita yang menunjuk arah jalan. Ketika menoleh ke samping, selalu ada teman dan kawan-kawan yang baik. Hidup mereka rasanya sudah amat cukup dan sempurna, bukan?
Ternyata belum... Kita belum mendengar apa yang belum mereka lakukan lagi di sisa hidupnya...
Tak ada yang namanya "sempurna." Masih banyak yang mereka belum lakukan. Salah satunya, ingin melihat Sorga dan Neraka sendiri, lalu berceritera kepada teman-temannya. Diperkirakan oleh om Gado-gado sendiri, mungkin sebanyak kurang lebih 25% orang di bumi ini [ termasuk 12% atheis/ no religions, the World Factbook, 2013 ] yang bahkan " tidak " percaya Sorga dan neraka. Bagi yang tidak percaya, alasannya dua tempat itu hanya "state of mind, bukan locality or a place." Dan hidup itu kekal dari kekal, tanpa ada hari penghakiman atau akhirnya. Tapi Om Gado-gado sangat percaya, bahkan percaya adanya kiamat. Bagi om Gado-gado, ia terutama penasaran apa dan dimana Sorga dan Neraka itu? Ia ingin sekali tahu, dimana orang tuanya setelah meninggal ? Ia ingin berjumpa mereka. Dengan berjumpa mereka, ia pasti tahu seperti apa 2 tempat misterius itu? Puaslah ia, jika sudah tahu.
Tapi.... Ia toh belum pernah merasakan bagaimana sesungguhnya mati dan hidup lagi? Tanda tanya besar ? Ia tak ragu sama sekali dengan imannya. Hanya tak ada tokoh agama yang mampu menjelaskan dimana dua tempat itu berada? Seperti apa mereka? Tapi, ia cukup puas, paling tidak sudah menemukan " siapa jati dirinya dihadapan Tuhan ? " Karena masih banyak orang yang belum tahu siapa dirinya?
Ada orang tertentu yang beruntung. Mereka tidak sempurna dan tidak layak, tapi dianugerahi kemurahan untuk bertemu malaikat atau Tuhan, ketika mereka koma atau mati suri. Seperti ada beberapa orang yang dalam matinya itu, beruntung diantar malaikat atau Tuhan untuk berjalan-jalan melihat dua tempat maha misterius itu.
Kata kerja yang dipilih mereka untuk menggambarkan dua tempat itu, adalah "terbang" seperti mimpi. Lalu dalam hitungan detik, sudah sampai ke Sorga dan Neraka. Semuanya sangat indah untuk Sorga dan semuanya siksaan untuk Neraka.
Nampaknya ada "kesamaan" dari begitu banyak kesaksian orang yang berbeda-beda, yang pernah mati suri dan melihat Sorga dan Neraka. Sejauh ini tak ada yang tidak konsisten. Semua kesaksian itu mirip-mirip saja. Kesimpulan sementara om Gado-gado, " heaven and hell are so real, not deceit. "
Setelah mereka kembali dari perjalanan mistrius itu, mereka melukiskannya dalam buku atau kesaksian-kesakian hidup. Om Gado-gado tahu itu dari membaca buku-buku yang sudah beredar dan atau mendengar dari mulut ke mulut.
Namun sampai hari ini, itu semua pengalaman orang lain, bukan dirinya sendiri. Ia masih sangat ingin merasakan sendiri, tapi waktuNya belum tiba. Saking penasarannya, ia bahkan berdoa siang malam, untuk meminta kado spesial itu. Entah kenapa, ia begitu penasaran ?
Sayangnya, belum sempat, ia sudah dipanggil pulang. Tinggallah tanda tanya besar hingga hari ini. Tante Kolak pikir, ya sudahlah barangkali suaminya kini "sudah" bertemu Malaikat, Tuhan, Sorga dan Neraka sendiri. Ia relakan suaminya pergi dalam perjalanan ke-kekal-an . Kini terjawab sudah semua penasarannya. Semoga ia berbahagia sebagai spiritual traveler. Makamnya masih dikunjungi anak cucunya hingga hari ini.
Perjalanan om Gado-gado meninggalkan penggalan pertanyaan bagi kita, " life is still a mystery journey ? " Little people knows a little about it. Sebagian orang sudah tahu. Lebih banyak orang belum tahu. Sebagian pemikir bilang, eternity adalah juga melewati hari ini, the now. Lalu setelah itu ke arah mana? dimana, kemana? bagaimana? tetap tak ada yang sesungguhnya telah tahu semua. Buku-buku tentang kematianpun baru sedikit. Dan jika Anda membacanya, pada umumnya baru perkiraan penulisnya, bukan kisah nyata si penulis.
Kitab Sucipun menyisakan pertanyaan-pertanyaan itu bagi kita. Para spiritual travelerlah yang kini bisa menjawabnya untuk kita. Itupun hanya sebagian pertanyaan. Tetap suburlah profesi penasehat spiritual, paranormal, orang pintar dan segala perdukunan. Hanya pura-pura bisa menjelaskan semua tanda-tanya. Yang paling baik adalah bertanya langsung kepada Tuhan Allah. Apakah Anda ingin menjadi spiritual traveler atau bodily or physical traveler?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar