“Listening will keep us alive. Listening is 100% attitude and 100% skill to live”
© “Mendengarkan pertama-tama adalah 100% sikap, lalu 100% keterampilan hidup.”Mendengarkan itu teramat sulit meski kita punya 2 telinga dan 1 mulut. Tapi kebanyakan orang lebih suka bicara. Kalau bicara orang suka. Kalau mendengar kotbah, orang memilih topik dan pembicara. Mendengar nasehat, bikin orang jenuh, bosan dan tertidur (sleeping medicine). Kalau bicara gosip, betah sampai larut malam, malah ber-episode. Untung Tuhan menciptakan hanya 1 mulut, bagaimana jika 2 mulut dan 1 telinga? Dunia ini bisa sangat bising dan gemuruh dengan suara orang. Dengan 1 mulut saja, orang sulit mendengarkan suara Tuhan. Ada pemikir dan pendengar yang bijak, berkata: “Kita ini suka memaki dengan suara amat lantang terhadap kejahatan dan setan, jangan-jangan diam-diam kita berkawan baik dengan kejahatan dan setan-setan?” Mengapa? Karena orang dididik untuk “pandai berbicara” (pandai berdebat) sejak di bangku sekolah dan dari rumah. Banyak orang tidak dididik (dibentuk) untuk menjadi pendengar yang baik ( a good dan wise listener). Tak heran, orang awam lebih terkagum-kagum kepada ada orang yang pandai bicara (communicator), pandai meyakinkan orang (marketer), pandai berdebat (pengacara), ketimbang kepada orang yang tidak pandai bicara, tapi sabar mendengarkan. Inilah anomali dunia komunikasi dimana saja kita pergi.
Karena dengan sikap (an attitude), orang mendengar (listening, humility), bukan dengan telinga saja (hearing, ears to sound). Apalagi jika Anda merasa lebih senior dari pada si pembicara. Banyak pembicara senior merasa frustrasi dan jengkel, ketika berbicara kepada anak buah atau anaknya sendiri, tidak ada yang mau mendengarkannya. Masih lebih baik berbicara kepada tembok, kata seorang komunikator gagal. Penyebabnya, tunggal. Ia belum menjadi pendengar yang baik. Ketika anak buah dan anaknya sedang berbicara kepadanya, ia juga tak mau mendengarkan mereka. Ia sibuk sendiri menerima panggilan telp atau menjawab WA atau sering melihat ke jendela/atap (pura-pura sibuk). Ia merasa sudah tahu semua apa yang ingin dibicarakan, maka komunikasi mandeg total (buntu). Ia kini menerima upahnya.
Komunikasi atau berbicara (speaking atau public) sejatinya adalah sebuah keterampilan. Tapi mendengarkan (listening) adalah 100% sikap, baru 100% skill. Istilah “hearing” (dengar pendapat) bagi anggota dewan, mungkin bagi para linguist Indonesia kurang pas/ kurang setuju dan terjemahannya perlu diubah dengan “listening” (dengar pendapat juga). Karena seringkali hasil “hearing” tidak/kurang bermakna bagi perubahan/ kinerja dewan, bukan?
© “Jika Anda mau didengarkan, dengarkanlah terlebih dahulu.”Mendengarkan pertama-tama tak butuh jam terbang, tapi jam kesadaran. Dengan sikap (mau mendengarkan), orang mendengar pesan. Karena orang tuli bisa mendengarkan pesan dengan jelas dan tidak miss-komunikasi, dengan bahasa isyarat (gesture, mimik, gerakan, tanda) asalkan dengan perhatian total, fokus total, atau kesadaran penuh. Pendekar buta dari goa hantu, bisa mengalahkan musuh dengan telinganya. Kita juga masih bisa mengerti jalan cerita film kartun Tom & Jerry zaman dahulu (gerakan tanpa suara sama sekali). Karena gerakan mengisyarakatkan pesan-pesan (non-verbal commnication). Memang jarang orang tuli 100%, kecuali pendengar buruk.
Dengan dua telinga (mampu mendengar), orang mendengar suara saja, bisa jadi bukan pesannya. Contohnya, telinga mendengar iklan tv atau radio sambil lalu, telinga mendengar orang sedang berbicara di kereta, dengan telinga orang mendengar suara pintu dibuka atau ditutup, dengan telinga orang mendengar suara mangga jatuh, dengan telinga pula orang mendengar jeritan atau tembakan pistol di sebuah rumah, mendengar news/ berita, mendengar gosip atau rumor, dst. Ditambah indera lainnya, seperti: mata, sensor perasa, sensor peraba, feeling (multi-senses), barulah orang bisa menjadi pendengar yang baik ( a good listener).
Semakin bijak seseorang, ia tak membantah atau menyela ketika orang lain sedang berbicara kepadanya. Ia mendengarkan untuk mengerti, bukan untuk membantah atau melawan (Stephen R. Covey, penulis terkenal the 8th Habit). Menjadi bijak sebagai pendengar yang baik, hanya membutuhkan kedewasaan dan kematangan. Masalahnya, tak semua pendengar (komunikator dan pemimpin) dewasa dan matang. Menjadi komunikator dewasa dan matang, tak harus menunggu tua dan sukses. Suami dewasa dan matang, ia sungguh bersabar mendengarkan celoteh dan curhat istrinya yang itu-itu saja.
Bertambahnya umur suami tak otomatis membuatnya mudah untuk mendengarkan istrinya apalagi anaknya. Miskonsepsi listening adalah semakin tua (katanya) semakin bisa mendengarkan, nyatanya tidak. Miskonsepsi lainnya, perempuan (katanya) lebih bisa diajak ngobrol dengan nyaman, ketimbang pria, nyatanya juga tidak.
Miskonsepsi komunikasi berikutnya, motivator, trainer, coach, konselor dan dokter (katanya) lebih bisa mendengarkan pasiennya atau kliennya dari pada orang awam, nyatanya tidak. Masih banyak coach, konselor dan dokter menutup telinga dan matanya terhadap keluhan. Mereka serba terburu-buru menutup pembicaraan dan langsung menuliskan solusi, rencana terapi atau resep. Mereka hanya butuh perbaikan sikap fundamental untuk menjadi teman bicara yang enak nyaman, agar tidak kehilangan pelanggannya. Problem dengan listening, bisa jadi penyebab menurunnya jumlah pelanggan. Karena slogan “kami melayani dengan hati,” tidak serta-merta menjadi solusi jitu untuk mengembalikan pelanggan yang sudah kabur. Jangan-jangan kita sendiri yang “keras-kepala” atau arogan? Itu pasti pernah terjadi pada diri Anda sendiri bukan? Ketika Anda berobat ke dokter jantung atau dokter internis, misalnya, ia sama-sekali tak melihat ke wajah Anda. Sudah 3 kali Anda ke dokter tsb., ia sama-sekali tak pernah melihat wajah Anda. Ia hanya memegang pulpennya dan mengambil buku resepnya, sambil telinganya mendengarkan keluhan Anda, namun ia sibuk berfikir obat apa yang harus ia resepkan. Lalu ia segera saja menuliskan obat-obatan di buku medical-record milik Anda, meski Anda belum selesai bicara. Alhasil, Anda merasa “coitus-interuptus” (senggama terputus). Andapun segera berhenti bicara, karena ia sudah menyuruh susternya, mengantarkan Anda ke kasir atau memberitahu Anda cara menebus obat atau pergi ke lab. Lalu Anda ganti dokter lain yang lebih bisa mendengarkan Anda. Itupun setelah gonta-ganti 5 dokter, baru Anda menemukan. Inilah yang disebut: “dokter bukan komunikator (pendengar) yang baik karena telinganya kecil.”
Sikaplah yang paling menentukan, apakah ia orang bijak atau orang keras kepala, sombong atau arogan. Orang bijaklah yang sering-sering mau mendengarkan suara hati, apalagi berkenaan dengan keluhan atau suatu kebenaran. Dari 10 komunikator, kita bisa dapatkan 1-2 pendengar yang baik. Dari 10 dokter, kita bisa dapatkan 1-2 dokter pendengar yang baik.
Adakah orang bijak itu? Tentu masih ada, hanya sedikit jumlahnya. Jika Anda ingin ngobrol sesuatu yang serius, carilah orang bijak di sekitar Anda. Temui dan mintalah ia untuk mendengarkan, maka ia akan rela berjam-jam mendengarkan obrolan dan impian Anda. Ia bisa jadi orang biasa-biasa saja, bukan pejabat, bukan pemimpin, bukan pula pengusaha. Jika Anda menemukan orang itu, tak salah jika kita sebut ia orang baik yang bijak. Jika Anda menuliskan status Anda hari ini, orang yang pertama-tama memberi response/komen dari 1.000 networks Anda, orang-orang itulah yang kita sebut sebagai bakal “teman” Anda. Karena ia cepat memberi respon. Pendengar yang baik pertama-tama adalah yang mau mendengarkan dengan kesungguhan, kedua mau memberikan response yang tulus dan ketiga mau bertanya.
Seorang anak yang rajin mendengarkan nasehat orang tuanya (telinganya besar), biasanya lebih disayang dan lebih sukses hidupnya, meski ia nampak bandel di luaran. Seorang suami yang mau mendengarkan istrinya (telinganya lebar), ia lebih berbahagia. Seorang atasan yang mau mendengarkan bawahannya dan rekannya (telinganya terbuka atau “open-doors”), ia pasti lebih dipercaya oleh organisasi (trusted leader), dengan demikian ia lebih sukses. Karirnya di depan matanya, tinggal menunggu “performance review” tiba.
Seorang Manager yang mau mendengarkan suara bosnya (“professional listener”), ia pasti lebih dipercaya ketimbang Manager lain. Pilihlah dia sebagai partner organisasi yang efektif. Manager ini sangat bisa diandalkan untuk menjadi saluran komunikasi dari atas ke bawah yang sangat efektif (komunikator yang efektif). Yang biasanya saluran itu selalu “mampet” justru di level Middle-Manager (organisasi yang tidak efektif). Jika Anda memilih Manager itu sebagai komunikator atau ambassador internal, maka apa saja yang Anda mau (visi, misi, goal, target, kebijakan, strategi, peluang baru) pasti sampai ke akar bawah, tanpa misleading. Ialah yang kita sebut: “professional listener (pendengar profesional).” Orang ini “mahal” nilainya, untuk menjadi partner manajemen dalam mencari solusi, mengambil keputusan penting dan membuat kebijakan baru. Karena, ia pasti bisa “mendengarkan” aspirasi dari bawah dan dari pelanggan eksternal juga (professional atau multi level-listener). Jika ia menjadi “board of director,” ia akan menaikkan kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, profit yang besar dan growth yang stabil. Orang ini kita sebut, “leader – listener.”
Seorang pemimpin yang mau mendengarkan rakyatnya (leader-listener), ia akan dipilih kembali untuk memimpin. Contoh-contoh ini kita temukan dari sikap mereka yang sukses, seperti Jokowi, Barack Obama, Jimmy Carter, Bill Clinton, Oprah Winfrey, Najwa Shihab, Kick Andy, dst. Steve Jobs, adalah salah satu pendengar fenomenal dunia. Ia berpinsip kuat untuk terus “stay foolish- stay hungry” untuk mencari terobosan baru, inovasi baru produk Apple. Maka lahirlah, Macbook, Ipad, Ipod, Iphone dst. Pembelajar adalah pendengar sejati.
Lalu dimana letak 100% keterampilan? Setelah orang mau (sikap) mendengarkan, barulah keterampilannya untuk mendengar kemudian bisa diasah (ditajamkan). Disinilah jam terbang menjadi komunikator pendengar (listener-communicator) menjadi penting. Keterampilannya bisa dinaikkan dari skala 1 sampai 10 misalnya, dengan banyak berlatih atau diberi kesempatan melatih diri. Forum latihan, mulai dari hadir dalam diskusi, melakukan presentasi kinerja, melakukan focussed-group discussion (FGD), melakukan interview, memimpin meeting/ sidang, menjawab email dan membuat laporan peristiwa (data dan fakta berbicara). Biasanya, dalam 1-5 tahun masa kerja sebagai Supervisor/ Manager misalnya (karena jam terbang), seseorang bisa menjadi “a good listener.” Ia bisa dipercaya oleh atasannya.
Terlebih lagi orang-orang kudus dan suci, mereka mampu mendengarkan dan melakukan suara dan kehendak Tuhan, maka mereka dipercaya Tuhan dan manusia. Mereka kita sebut para Nabi yang terkenal di zaman dahulu dan di zaman ini. Tapi tetap saja misteri, Nabi biasanya malah tidak didengarkan di daerah asalnya sendiri.
Bagaimana dengan “professional listener”? Professional listener (the person dan the new competence) adalah area kompetensi baru, orang dengan kemampuan baru. Ia bukan saja a good communicator atau a powerful speaker (one-way communicator), namun ia a good listener. Sebuah kombinasi kompetensi yang amat langka. Pandai berbicara tapi juga pandai mendengarkan suara orang lain (two-way communicator). Yang membedakannya dengan a good listener, adalah ia mampu mendengarkan “semua” suara dengan netral tidak memihak. Baik suara (aspirasi) dari atas (top management), bawah (staff), dari samping (peers), dari dalam (internal voice, internal customer) dan dari luar organisasi (external customer). Karena kompetensinya yang amat menonjol dari yang lain dalam mendengarkan (tangible indicator), ia tipe yang bisa dipercaya oleh bawahannya, rekan kerjanya, atasannya dan pelanggannya. Carilah orang yang bisa dipercaya oleh banyak level, maka dialah orangnya. Ia bukan hanya didengar (pro) oleh golongan tertentu saja, tapi oleh semua kepentingan. Ia mampu berdiri di semua pihak dengan netral, prejudice, impartial. Suara orang lain ia dengar baik-baik, maka suaranya akan didengar dengan baik oleh orang lain (stakeholders). Ia berkompeten (mampu) membuat orang lain (speaker, pembicara) merasa nyaman, senang, enjoy dan suka meneruskan pembicaraannya. Terlebih lagi, orang lain ingin terus berbicara dengannya, berulang kali, bahkan sampai lupa waktu. Tentu topik, relevan dengan organisasi, bukan gosip. Ia berkompeten (mampu) menjadi juru bicara atau juru runding atau negosiator handal bagi perusahaan/ organisasi. Ciri lainnya, ia tipe pendiam, banyak diam, bicara seperlunya (tidak dikenal orang secara formal). Temukan orang seperti itu, pasti ada dalam sebuah organisasi manapun. Kompetensi langka tapi ada. Hati-hatilah dengan jebakan orang pandai bicara! Semoga semakin banyak komunikator mampu menjadi a professional listener.
Bagaimana dengan nasib si pendengar buruk atau si kuping kecil (a bad listener) ? Orang bebal dan keras kepala kebalikannya. Mereka lebih sering menutup telinga dan mata terhadap sesuatu yang benar dan hal-hal baru (pembelajar yang buruk, pemimpin yang buruk). Karena mereka lebih senang menjalani kehidupannya yang sudah “deeply rooted”. Mungkin saja ada beberapa tipe orang seperti itu, di sekitar organisasi atau keluarga kita, bukan? Mereka bisa saja hobi sekali membuka telinganya kepada gosip, sinetron dan infotainment tidak berkelas. Sehingga jalan orang bebal dan keras kepala tak membawanya kemana-mana. Ia mandeg di tempat.
Sering orang bijak mampu menguraikan analisanya dengan tajam dan dalam, akibat kedalamannya dan kebiasaannya mendengarkan fata dan kebenaran (bukan gosip dan katanya). Bagi orang-orang bebal dan keras kepala (si kuping kecil), sulit. Seorang bijak pernah berkata: ” Jangan-jangan kebenaran yang kita percayai adalah keliru dan kesalahan orang lain itu malah benar,” Orang bebal dan keras kepala tak mungkin mau mengakui kebenaran ini. Mereka sangat percaya bahwa kebenarannyalah yang paling benar, padahal paling keliru. Mereka sering memegang mati dan kaku pikirannya sendiri, padahal total menyimpang dari akal sehat.
Kalau ia jadi guru, ia guru yang tidak disukai (killer). Kalau ia jadi dosen, ia dosen yang tidak disukai (sok tahu, sok pinter). Kalau ia jadi pedagang, ia pedagang yang tidak disukai (menang sendiri, sulit diajak bicara). Kalau ia jadi Manager, ia Manager yang tidak disukai (si penjilat muntah atasan). Kalau ia jadi tokoh agama, ia tokoh agama yang tidak disukai dan tidak punya teman (sombong dan arogan). Kalau ia jadi kepala keluarga, ia kepala keluarga yang tidak disukai anak-anaknya (pelit, banyak aturan, banyak perhitungan). Orang bebal dan keras kepalalah yang paling ditinggalkan oleh kemajuan zaman dan perkembangannya. Mereka seringkali “gaptek,” suka hidup sendiri, asosial dan minder. Mereka biasanya tak punya banyak teman dan hidup biasa-biasa saja. Sikaplah yang membuat mereka hidup biasa-biasa saja. Mungkin juga mereka kaya tapi tidak bahagia, mungkin juga sukses tapi tidak disukai, mungkin juga berpangkat tapi tidak dihormati. Lalu buat apa?













Tidak ada komentar:
Posting Komentar