Forces of nature. Tuhan menyediakan banyak pilihan. Alam semesta menyediakan segala kemungkinan. Manusia tinggal menjalani pilihannya, diantara banyak kemungkinan.
Des Moines, terdengar sangat Perancis. Ibu kota Iowa ini jarang terdengar, memang. Bali masih lebih terkenal. Kota ini teraman ditinggali diantara banyak kota di Amerika, dikelilingi hamparan kebun jagung [corn belt] khas Amerika Tengah. Sebelum menjadi state, ia dijajah Perancis sampai 1763, dan membekaskan banyak peninggalan bagi Iowa. Suku Indian telah lebih dahulu menghuni Iowa sejak 13.000 tahun silam. Suku-suku itu a.l. Dakota, Iowa, Meskwaki, Omaha dan Sauk. Dari tangan Perancis, pindah ke Spanyol, lalu ke pendudukan pasukan Napoleon Bonaparte th 1800. Baru kemudian dibeli oleh Amerika dan dijadikan state tahun 1803.
Salah satu county, Madison County di kota Des Moines, Iowa, kemudian ditulis kisahnya melalui sebuah jembatan tua, Roseman covered bridge, dalam novel laris "the Bridges of Madison County," tahun 1992 oleh Robert James Waller. Di filmkan, disutradarai dan diperankan oleh Clint Eastwood, tahun 1995. Filmnya yang dimodali dengan $ 22 juta berhasil box office dengan sales $ 182 juta. Meryl Streep mendapat Academy Awards dan Golden Globe Awards.
Dan salah satu soundtrack indahnya ialah "Doe Eyes" yang digubah oleh Clint Eastwood, diorkestrakan oleh sahabatnya Lennie Niehaus, saxophonist Amerika. Doe Eyes yang indah, baik orkestra dan versi pianonya bisa dinikmati di youtube, gratis. Novel itu berkisah tentang seorang istri Italia [Meryl Streep] yang kesepian di Madison County bertemu 4 hari dan membuat affair 4 harinya dengan Clint Eastwood. Clint sebagai fotografer National Geographic yang datang khusus dari Washington ke kampungnya Meryl untuk membuat serial foto-foto Jembatan Madison County. Novel itu berkisah tentang asmara 4 hari yang dibalut dengan jembatan Roseman covered bridge. Dibungkus dengan indah oleh music Doe Eyes menjadi sebuah karya drama yang menawarkan segala kemungkinan versi manusia. Novel sepenggal kisah sederhana bisa menjadi film drama full romantis yang sederhana pula. Dan hasil omzetnya meledak. Sebuah kemungkinan.
Sosok Clint Eastwood, 84 tahun, dikenal sebagai artis bintang dengan segala kemungkinan. Ia bisa membuat film, main film, mengarang lagu, composer, pebisnis dan politician. Tahun 1986 pernah menjadi Walikota di kota kecilnya di California. Clint adalah bintang satu paket serba bisa, multi talented, yang senang melihat banyak kemungkinan.
Yoga dan meditasi, seperti kisah indah "the Bridges of Madison County," juga demikian. Ia menawarkan segala pilihan dan kemungkinan yang tidak ada di dunia olah raga lainnya. Kita ikuti saja iramanya, kemanapun ia pergi. Jangan menentang dan jangan menolaknya, pagi-pagi. Jangan menghentikan kreatifitas dan sensasi darinya. Biarkan ia mengalir menjadi kisah-kisah kehidupan yang menarik dan layak dinikmati oleh siapa saja. Akhirnya alam semesta dan Tuhan yang akan menjadi wasit dan jurinya.
Andapun bisa menjadi seperti Clint Eastwood, bintang satu paket serba bisa, multi talented, dalam kehidupan Anda, yang senang melihat banyak kemungkinan. Open minded, tidak picik dan sempit melihat anugerah Tuhan dan alam yang datang kepada Anda, hari ini.
Beberapa question & answer dalam kaca mata pilihan dan kemungkinan.
1. Mengapa orang bilang yoga membosankan dan tidak dinamis ?
Life is a choice and a music. Yoga itu mirip musik klasik, lembut, tenang/ringan dan indah. Tiga aspek yoga itulah [lembut, tenang/ringan, indah] yang "membedakan" yoga dengan olah raga lainnya. Yoga adalah wellness dan wholeness, dari sisi kelembutannya, ketenangannya dan keindahannya. Orang yang memainkan yoga mirip memainkan musik klasik. Sulit namun indah mengalun. Not-not baloknya tidak umum. Yoga bukan dangdut Indonesia yang gemerlap sejak tahun 1960-an atau rock 'n' roll dari Amerika yang lahir sejak tahun 1940-an, dari ke 3 sisi pandang itu.
Musik klasik itu lambat mengalun, namun di moment khusus, ia sangat nikmat, menyentuh kalbu sanubari. Musik jazz yang dinamis juga sama, mampu menghanyutkan. Ya, ada olah raga gerak cepat, ada pula olah raga gerakan lambat. Dua pilihan minimal. Kita hanya memilih. Musik apa yang akan Anda mainkan atau dengarkan?
Renang dan senam termasuk olah raga lambat, kecuali dilombakan. Gerakan yoga masuk kategori olah raga sangat lambat, tidak cepat seperti fitness, sehingga bisa membosankan. Wajar saja. Apalagi meditasi, tidak bergerak sama sekali.
Itulah pilihan, sehingga hanya orang yang cocok dengan gerakan lambat akan senang beryoga. Misalnya, orang gemuk, orang yang kakinya sakit, orang sakit jantung, orang asma, orang yang over-stress, orang dengan cacat ringan dan orang yang suka gerakan lambat tetapi ingin olah raga berkeringat, akan cocok sekali. Selama wanita yang relatif pembosan, masih banyak yang gandrung/ cinta yoga, berarti yoga masih tidak membosankan. Itu indikator utamanya. Sejauh ini 80-90% yogi di Indonesia adalah wanita.
Ingat juga cangkir kopi atau cangkir teh Anda, bisa untuk menikmati segala macam drinks, mulai dari kopi jahe, teh panas, es teh, air putih hangat, sekoteng, wedang jahe, juice sampai madu dan jamu, bukan? Jangan stick hanya untuk kopi dan teh. Begitu juga dengan kehidupan Anda, banyak pilihan. Hanya tetap pakai prinsip. Cangkir kopi tidak boleh retak dan harus dicuci bersih setiap habis pakai. Itu prinsip, bukan? Hidup juga punya prinsip. Jika Anda belum bisa mencintai yoga, jangan dipaksakan, nanti cangkirnya retak. Jika Anda tidak suka olah raga gerakan lambat, jangan ikut yoga. Tak ada yang memaksa Anda untuk sekolah/ kuliah, bukan? Hidup adalah pilihan. Yoga dan meditasi pun adalah pilihan, seperti kita memilih genre musik buat hidup kita. Tidak semua orang senang musik klasik, bukan?
2. Apakah saya harus ikut yoga baru dibilang modern seperti yang lain ?
Love what you do, do what you love. Di dunia ini, lebih banyak tersedia pilihan dan kemungkinan dari pada keharusan [compulsory/ obligation]. Hanya dua keharusan, pertama patuh dan taat kepada Tuhan dan kepada pemimpin. Itu berarti following your heart [hati-nurani]. Kedua, patuh dan taat kepada peraturan/undang-undang/nilai-nilai baik.
Memang yoga sedang nge-trend sebagai next-gen exercise di Indonesia. Manfaat yoga memang rata-rata membuat praktisinya nampak lean, slim, lebih simple, lebih ringan, tapi berotot. Tak ada keharusan workout dengan yoga, bukan? Tak ada keharusan Anda harus suka soto ayam, musik klasik, langsing lean atau harus vegetarian, bukan? Sama seperti para yakuza, juga tak ada keharusan menato seluruh tubuhnya dengan warna-warni. Sama juga tak ada keharusan harus sekolah S-1. Juga tak ada keharusan sekolah di lembaga sekolah konvensional, karena ada alternatif home schooling [belajar berbasis rumah]. Yoga bukan make-over, langsung mengubah Anda dalam sekejap, cling.
Jika dikatakan masyarakat sudah jenuh dengan jenis olah raga yang gitu-gitu aja, ya benar. Yoga sedang nge-trend di kota-kota besar tahun 2014 ini, memang benar, itu karena ada trend-setter di publik dan di media masa. Yoga masih diminati oleh kalangan tertentu/ terbatas, seperti yang Anda lihat, kelas menengah atas, kelompok selebriti, kelompok pecinta hidup tenang, kelompok pecinta spiritual atau kelompok pecinta humanisme.
Jadi, janganlah ikut-ikutan beryoga ataupun berbisnis yoga, kecuali memang membutuhkan sekali. Janganglah sekali-kali, orang lain atau media massa mengatur tubuh kita atau kehidupan kita. Hanya kitalah yang punya kemerdekaan penuh untuk mengatur dibawa kemana hidup kita sendiri. Oleh karena itu sangatlah penting, memiliki tujuan hidup yang firm dan jalani tujuan itu sesuai panggilan masing-masing. Pada suatu hari kemudian, jika ternyata yoga memanggil Anda, barulah ikuti panggilan itu. Apa tanda dari panggilan itu? Kita sangat senang, gembira dan menikmatinya dan kedua belajar sedikit langsung bisa [talent/ bakat bekerja]. Nikamtilah apa yang Anda sedang kerjakan hari ini.
3. Saya dengar yoga itu mahal ?
Everything has a price and reward. Tak bisa dipungkiri lagi, wajah mayoritas yoga sudah sama dengan toko/ warung/ super market. Anda harus membuka dompet atau mentransfer dana Anda. Yoga seperti sepak bola, tak ada yang gratisan. Mahal murah tetap relatif bukan? Sebagai gambaran di Indonesia, tarif yoga berkisar Rp 400.000- 1.900.000/bulan/orang. Sekali latihan saja [drop-in] Rp 125-250.000/ 2 jam, tergantung lokasi. Untuk tahunan, berkisar Rp 5.000.000-12.000.000/ tahun. Untuk kelas private berkisar Rp 250.00-2.000.000/ latihan/ orang peserta/ 2 jam. Di bisnis bola lebih hebat lagi, bukan? Seorang Messi bergaji 20-24 miliar rupiah satu minggu. Itu adalah kemungkinan yang tak terpikirkan, oleh para profesor universitas atau dosen peneliti, yang mungkin bergaji antara 30-50 juta rupiah/ bulan atau 10-15 juta rupiah/ minggu.
Orang menginvestasikan dananya membangun rumah yoga, fitness center atau membuka kelas adalah untuk murni bisnis dan melayani kebutuhan Anda sebaik mungkin, bukan sosial amal. Kecuali ashram / vihara spiritual, kegiatan meditasi tertentu atau yoga gembira yang dikhususkan untuk tidak memasang tarif, namun hanya donasi suka rela. Yoga sudah menjadi profesi, bekerja, berbisnis. Orang bisa membeli mobil, membeli rumah, menyewa apartment dan menyekolahkan anaknya lewat yoga. Tak ada yang salah jika yoga dibuat untuk mencari nafkah, bukan? Sah-sah dan halal saja, selagi adil dan jujur. Memang tak ada Kegiatan yang murni spiritual yang tidak berbasis pada tarif/fee, namun donasi suka rela yang tidak mengikat.
Sampai hari ini memang, dari sisi biaya relatif sama atau lebih mahal sedikit dari fitness dan futsal, sebagai perbandingan. Bukan berarti ibu rumah tangga atau mahasiswa/i tak mampu membayar latihan yoga mereka. Kegiatan yang masih mampu dibiayai oleh ibu rumah tangga dari uang belanja atau uang sakunya, berarti masih "affordable." Jika melebihi, berarti kegiatan itu tak lagi terjangkau secara ekonomis. Work out "body-mind-soul" satu paket, realtif belum ada yang murah-meriah-sehat. Apalagi jika yang menyelenggarakan kelas yoga adalah bisnis murni. Anda harus tanya di depan terlebih dahulu atau check out their web dan call them first.
Sama seperti membeli baju ada yang 100ribu, tapi ada juga yang 100 juta rupiah. Ingat, memakai baju 100 juta rupiah, kegagahan/ kecantikan Anda tidak naik/ melonjak 1000 x lipat dibandingkan memakai baju 100 ribu rupiah. Sama seperti makan steak seharga 1 juta rupiah, tidak memberi nikmat di tenggorokan, seolah makanan lalu loncat-loncat kegirangan di leher Anda 100 x lipat lebih banyak, dibanding jika Anda hanya makan malam di warteg dengan 10 ribu rupiah.
Sesuaikanlah pilihan kelas yoga dengan daya beli dompet Anda.
4. Ada berapa macam aliran/style yoga? Mana yang paling cocok buat saya?
Follow your heart. Style/flow/shools adalah tentang taste. Selera orang berbeda-beda, ada yang suka juice wortel, es jeruk, kopi pahit, cappuccino atau wedang jahe dan bandrek. Benar-benar selera saja.
Praktisi yoga pada umumnya tidak stick pada satu style saja. Ada juga yang setia dengan satu style seumur hidup. Mereka pada umumnya juga tidak menetap di satu rumah yoga/fitness center. Mereka suka pindah-pindah tempat latihan, touring seperti pemain futsal atau praktisi fitness center. Perilaku mereka seperti shopping. Tak ada loyalitas di dalam yoga, kecuali para gurunya / instrukturnya. Jadi, please be open mind, open your eyes wide to yoga. It is unique. Just enjoy its uniqueness.
Anda bisa minta dikenalkan dengan segala gaya/tradisi/aliran dari guru / instruktur Anda. Mulai dari iyengar, astangha [atau power yoga di barat], hatha [part of raja yoga], sivananda yoga, kundalini, jiva mukti, power vinyasa, yin yoga, floating [flying] yoga, body combat, yoga jive, synergy yoga, vibrant living yoga, bikram, pilates, free-style, happy yoga, mindful meditation, healing meditation, walking meditation, drawing meditation, sampai hip-hop untuk anak muda, semua lengkap tersedia di berbagai kota besar di Indonesia. Anda bisa minta gerakan yang paling mudah/ sederhana, sampai yang paling sulit [akrobatik]. Jika tak cocok dengan satu menu, satu guru atau satu lokasi bisa pilih yang suka/cocok.
Anda juga bisa berpetualang dan bergoyang-goyang. Mau cari yoga jingkrak, yoga melayang, yoga terapung, yoga akrobat kepala dibawah, yoga mlungker, tangan ditekuk-tekuk membalut kaki dan sebaliknya, kepala bisa kebelakang kayak ular, yoga akrobatik 2-3 orang, semua ada, lengkap. Yoga for ladies, yoga for executives, yoga for teenagers, yoga for kids, yoga for the old, ada. Mau turunkan berat badan 5-10 kg, percantik lekuk tubuh, mengatasi "back-pain", memperbaiki postur tubuh [ "body alignment" ], menyembuhkan syaraf kejepit dengan pilates, juga ada. Tapi yoga tetap bukan obat, hanya bekerja sebagai pencegahan. Jika back-pain Anda bisa sembuh, bersyukurlah, Anda cocok dengan terapi [latihannya]. Jika tidak sembuh, memang yoga bukan resep dokter.
Yang berlatih bersama Anda, pada umumnya gabungan antara pemula, pembelajar dan advance. Mana yang paling cocok? Mengalirlah dengan berbagai pengalaman/ exposure/ kemungkinan terlebih dahulu, be open mind dengan banyak alternatif. Lalu pilihlah style/aliran yang paling sesuai dengan jiwa Anda dan kemampuan. Biasanya nanti yang paling membuat Anda benar-benar bisa merasa nikmat dan nyamanlah yang paling cocok. Ambil keputusan dalam yoga, sama sekali tak perlu terburu-buru. Sediakan waktu, make time for yourself. Sehingga tidak perlu ikut-ikutan dengan teman, milikilah prinsip sendiri dan bertumbuhlah.
5. Apakah yoga harus di luar ruangan atau pergi ke Bali dan India baru afdol ?
Peace is every where. Jika Anda yoga di Bali barulah merasa damai. Sedangkan yoga di rumah sendiri atau di kota sendiri, rasanya kurang damai. Hati-hati, itu damainya artificial [buatan]. Karena sepulang dari Bali, Anda akan stress kembali. Masalah Anda tetap muncul lagi, belum terselesaikan. Bali atau India memang tidak akan menuntaskan masalah Anda. Andalah sebagai "driver" yang harus menuntaskan masalah Anda sendiri. Memang benar Bali atau India memberi warna/ aura tersendiri bagi banyak orang. Lebih merasa spiritual, lebih merasa mistis, lebih merasa terangkat, lebih terhanyut, lebih retreat, lebih dalam, lebih in the good mood dst. Sama saja ketika Anda belanja di Centro akan merasa gimana, dibandingkan belanja di Tanah Abang.
Dasar filosofinya, yoga bukan ritual keagamaan. Kedua, rasa damai itu datangnya dari "dalam" diri [inner peace], bukan akibat "dari luar." Tak ada gunanya Anda yoga ke Bali dan India jika damai tak ada dari dalam diri, bukan? Faktor eksternal dan faktor latihan, berperan sebagai pendukung. Yang utama justru adalah diri sendiri. Jika kita sudah "beres" dengan diri sendiri, yoga dimana saja, semua menjadi baik. Latihan dan lingkungan keduanya sebagai faktor tambahan, bukan faktor penentu lantas kita otomatis merasa damai atau tidak damai. Dimana saja, indoor atau outdoor, di rumah sendiri atau di Bali, tidak menjadi soal. Jika diri kita sudah beres, maka dimana saja, kita akan merasa damai, bukan?
6. Mengapa wanita lebih banyak yang beryoga dari pada laki-laki ?
Yoga bukan sport sexist. Yoga bukan sportnya wanita saja. Juga dengan futsal, bukan milik lelaki. Hanya, praktek di lapangan, futsal dan sepak bola lebih ke lelaki. Tak berarti wanita berfutsal akan lebih maskulin. Praktek di lapangan, yoga memang lebih ke wanita. Tak berarti pula pria beryoga jadi kurang macho/ maskulin/ gemulai. Tak ada pengaruh sama sekali.
Secara statistik wanita lebih berumur panjang ketimbang laki-laki di seluruh dunia. Inilah "force of nature" dan "mystery of God," tak ada yang bisa menjelaskan, mengapa wanita diberi berkat usia lebih panjang dari pada pria. Hak prerogatifnya Tuhan, manusia tak mengerti. Lelaki nampaknya tak banyak punya masalah, tetapi umurnya lebih pendek. Ini juga tak terjelaskan oleh akal sehat. Itulah mengapa lebih banyak single woman dari pada single man, atau lebih banyak widow dari pada widower.
Namun ada tapinya, secara mental dan psikologis, disisi lainnya, wanita lebih banyak masalah dari pada lelaki. Seolah wanita selalu jadi sasaran empuk segala persoalan berkisar 2 hal itu. Lelaki juga punya masalah dengan itu, namun secara natural dan rasional, lebih dapat diatasi dengan caranya sendiri. Lelaki lebih mudah "let it go" dari pada wanita. Sehingga wanita lebih membutuhkan solusi yang sifatnya soft-solution, seperti pembinaan mental spiritual dan gerakan olah raga yang lembut dari pada lelaki. Ini juga tak terjelaskan, mengapa wanita lebih punya vitalitas untuk tahan goncangan dan badai, sehingga bisa survive lebih lama.
Tak heran, wanita lebih banyak yang datang kepada Tuhan dari pada lelaki. Begitu juga wanita lebih banyak yang ikut yoga. Barangkali secara anatomis dan gerakan, yoga lebih ke wanita. Guru/ instruktur yoga sebanding antara wanita dan lelaki. Bukan berarti para suami otomatis tergerak ikut yoga, jika istrinya ikut yoga lebih dahulu. Bahkan bisa sebaliknya.
Nantikan lanjutannya sambil menunggu Anda menghayal sendiri....tentang kisah novel itu dan kisah Anda....


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar