Minggu, 08 November 2015

The listener

“Listening will keep us alive. Listening is 100% attitude and 100% skill to live”
















© “Mendengarkan pertama-tama adalah 100% sikap, lalu 100% keterampilan hidup.”
Mendengarkan itu teramat sulit meski kita punya 2 telinga dan 1 mulut.  Tapi kebanyakan orang lebih suka bicara. Kalau bicara orang suka. Kalau mendengar kotbah, orang memilih topik dan pembicara.  Mendengar nasehat, bikin orang jenuh, bosan dan tertidur (sleeping medicine).  Kalau bicara gosip, betah sampai larut malam, malah ber-episode. Untung Tuhan menciptakan hanya 1 mulut, bagaimana jika 2 mulut dan 1 telinga? Dunia ini bisa sangat bising dan gemuruh dengan suara orang.  Dengan 1 mulut saja, orang sulit mendengarkan suara Tuhan. Ada pemikir dan pendengar yang bijak, berkata: “Kita ini suka memaki dengan suara amat lantang terhadap kejahatan dan setan, jangan-jangan diam-diam kita berkawan baik dengan kejahatan dan setan-setan?”  Mengapa? Karena orang dididik untuk “pandai berbicara” (pandai berdebat)  sejak di bangku sekolah dan dari rumah.  Banyak orang tidak dididik (dibentuk) untuk menjadi pendengar yang baik ( a good dan wise listener). Tak heran, orang awam lebih terkagum-kagum kepada ada orang yang pandai bicara (communicator), pandai meyakinkan orang (marketer), pandai berdebat (pengacara), ketimbang kepada orang yang tidak pandai bicara, tapi sabar mendengarkan. Inilah anomali dunia komunikasi dimana saja kita pergi.

Karena dengan sikap (an attitude), orang mendengar (listening, humility), bukan dengan telinga saja (hearing, ears to sound).  Apalagi jika Anda merasa lebih senior dari pada si pembicara. Banyak pembicara senior merasa frustrasi dan jengkel, ketika berbicara kepada anak buah atau anaknya sendiri, tidak ada yang mau mendengarkannya.  Masih lebih baik berbicara kepada tembok, kata seorang komunikator gagal.   Penyebabnya, tunggal.  Ia belum menjadi pendengar yang baik. Ketika anak buah dan anaknya sedang berbicara kepadanya, ia juga tak mau mendengarkan mereka. Ia sibuk sendiri menerima panggilan telp atau menjawab WA atau sering melihat ke jendela/atap (pura-pura sibuk).  Ia merasa sudah tahu semua apa yang ingin dibicarakan, maka komunikasi mandeg total (buntu).  Ia kini menerima upahnya.

Komunikasi atau berbicara (speaking atau public) sejatinya adalah sebuah keterampilan. Tapi  mendengarkan (listening) adalah 100% sikap, baru 100% skill.  Istilah “hearing” (dengar pendapat) bagi anggota dewan, mungkin bagi para linguist Indonesia kurang pas/ kurang setuju dan terjemahannya perlu diubah dengan “listening” (dengar pendapat juga). Karena seringkali hasil “hearing” tidak/kurang bermakna bagi  perubahan/ kinerja dewan, bukan?
 © “Jika Anda mau didengarkan, dengarkanlah terlebih dahulu.”
Mendengarkan pertama-tama tak butuh jam terbang, tapi jam kesadaran. Dengan sikap (mau mendengarkan), orang mendengar pesan. Karena orang tuli bisa mendengarkan pesan dengan jelas dan tidak miss-komunikasi, dengan bahasa isyarat (gesture, mimik, gerakan, tanda) asalkan dengan perhatian total, fokus total,  atau kesadaran penuh.  Pendekar buta dari goa hantu, bisa mengalahkan musuh dengan telinganya.  Kita juga masih bisa mengerti jalan cerita film kartun Tom & Jerry zaman dahulu (gerakan tanpa suara sama sekali). Karena gerakan mengisyarakatkan pesan-pesan  (non-verbal commnication).  Memang jarang orang tuli 100%, kecuali pendengar buruk.

Dengan dua telinga (mampu mendengar), orang mendengar suara saja, bisa jadi bukan pesannya.  Contohnya, telinga mendengar iklan tv atau radio sambil lalu, telinga mendengar orang sedang berbicara di kereta, dengan telinga orang mendengar suara pintu dibuka atau ditutup, dengan telinga orang mendengar suara mangga jatuh, dengan telinga pula orang mendengar jeritan atau tembakan pistol di sebuah rumah, mendengar news/ berita, mendengar gosip atau rumor, dst.  Ditambah indera lainnya, seperti: mata, sensor perasa, sensor peraba, feeling (multi-senses), barulah orang bisa menjadi pendengar yang baik ( a good listener).

Semakin bijak seseorang, ia tak membantah atau menyela ketika orang lain sedang berbicara kepadanya.  Ia mendengarkan untuk mengerti, bukan untuk membantah atau melawan (Stephen R. Covey, penulis terkenal the 8th Habit).  Menjadi bijak sebagai pendengar yang baik,  hanya membutuhkan kedewasaan dan kematangan.  Masalahnya, tak semua pendengar (komunikator dan pemimpin) dewasa dan matang.  Menjadi komunikator dewasa dan matang, tak harus menunggu tua dan sukses. Suami dewasa dan matang,  ia sungguh bersabar mendengarkan  celoteh dan curhat istrinya yang itu-itu saja.

Bertambahnya umur suami  tak otomatis membuatnya mudah untuk mendengarkan istrinya apalagi anaknya. Miskonsepsi listening adalah  semakin tua (katanya) semakin bisa mendengarkan, nyatanya tidak.  Miskonsepsi lainnya, perempuan (katanya) lebih bisa diajak ngobrol dengan nyaman, ketimbang pria, nyatanya juga tidak.

Miskonsepsi komunikasi berikutnya,  motivator, trainer, coach, konselor dan dokter (katanya) lebih bisa mendengarkan pasiennya atau kliennya dari pada orang awam, nyatanya tidak. Masih banyak coach, konselor dan dokter menutup telinga dan matanya terhadap keluhan. Mereka serba terburu-buru menutup pembicaraan dan langsung menuliskan solusi, rencana terapi atau resep.  Mereka hanya butuh perbaikan sikap fundamental untuk menjadi teman bicara yang enak nyaman,  agar tidak kehilangan pelanggannya. Problem dengan listening, bisa jadi penyebab menurunnya jumlah pelanggan.  Karena slogan “kami melayani dengan hati,” tidak serta-merta menjadi solusi jitu untuk mengembalikan pelanggan yang sudah kabur.  Jangan-jangan kita sendiri yang “keras-kepala” atau arogan? Itu pasti pernah terjadi pada diri Anda sendiri bukan? Ketika Anda berobat ke dokter jantung atau dokter internis, misalnya, ia sama-sekali tak melihat ke wajah Anda. Sudah 3 kali Anda ke dokter tsb., ia sama-sekali tak pernah melihat wajah Anda. Ia hanya memegang pulpennya dan mengambil buku resepnya, sambil telinganya mendengarkan keluhan Anda, namun ia sibuk berfikir obat apa yang harus ia resepkan.  Lalu ia segera saja menuliskan obat-obatan di buku medical-record milik Anda, meski Anda belum selesai bicara. Alhasil, Anda merasa “coitus-interuptus” (senggama terputus). Andapun segera berhenti bicara, karena ia sudah menyuruh susternya, mengantarkan Anda ke kasir atau memberitahu Anda cara menebus obat atau pergi ke lab. Lalu Anda ganti dokter lain yang lebih bisa mendengarkan Anda. Itupun setelah gonta-ganti 5 dokter, baru Anda menemukan.  Inilah yang disebut: “dokter bukan komunikator (pendengar) yang baik karena telinganya kecil.”

Sikaplah yang paling menentukan, apakah ia orang bijak atau orang keras kepala, sombong atau arogan. Orang bijaklah yang sering-sering  mau mendengarkan suara hati, apalagi berkenaan dengan keluhan atau suatu kebenaran.  Dari 10 komunikator, kita bisa dapatkan 1-2 pendengar yang baik.  Dari 10 dokter,  kita bisa dapatkan 1-2 dokter pendengar yang baik.

Adakah orang bijak itu?  Tentu masih ada, hanya sedikit jumlahnya.  Jika Anda ingin ngobrol sesuatu yang serius, carilah orang bijak di sekitar Anda. Temui dan mintalah ia untuk mendengarkan, maka ia akan rela berjam-jam mendengarkan obrolan dan impian Anda.  Ia bisa jadi orang biasa-biasa saja, bukan pejabat, bukan pemimpin, bukan pula pengusaha.  Jika Anda menemukan orang itu, tak salah jika kita sebut ia orang baik yang bijak.  Jika Anda menuliskan status Anda hari ini, orang yang pertama-tama memberi response/komen dari 1.000 networks Anda, orang-orang itulah yang kita sebut sebagai bakal “teman” Anda.  Karena ia cepat memberi respon. Pendengar yang baik pertama-tama adalah yang mau mendengarkan dengan kesungguhan, kedua mau memberikan response yang tulus dan ketiga mau bertanya.
Seorang anak yang rajin mendengarkan nasehat orang tuanya (telinganya besar), biasanya lebih disayang dan lebih sukses hidupnya, meski ia nampak bandel di luaran.  Seorang suami yang mau mendengarkan istrinya (telinganya lebar), ia lebih berbahagia. Seorang atasan yang mau mendengarkan bawahannya dan rekannya (telinganya terbuka atau “open-doors”), ia pasti lebih dipercaya oleh organisasi (trusted leader), dengan demikian ia lebih sukses. Karirnya di depan matanya, tinggal menunggu “performance review” tiba.
Seorang Manager yang mau mendengarkan suara bosnya (“professional listener”),  ia pasti lebih dipercaya ketimbang Manager lain.  Pilihlah dia sebagai partner organisasi yang efektif.  Manager ini sangat bisa diandalkan untuk menjadi saluran komunikasi dari atas ke bawah yang sangat efektif (komunikator yang efektif). Yang biasanya saluran itu selalu “mampet” justru di level Middle-Manager (organisasi yang tidak efektif).  Jika Anda memilih Manager itu sebagai komunikator atau ambassador internal, maka apa saja yang Anda mau (visi, misi, goal, target, kebijakan, strategi, peluang baru) pasti sampai ke akar bawah, tanpa misleading. Ialah yang kita sebut: “professional listener (pendengar profesional).” Orang ini “mahal” nilainya, untuk menjadi partner manajemen dalam mencari solusi, mengambil keputusan penting dan membuat kebijakan baru. Karena, ia pasti bisa “mendengarkan” aspirasi dari bawah dan dari pelanggan eksternal juga (professional atau multi level-listener).  Jika ia menjadi “board of director,” ia akan menaikkan kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, profit yang besar dan growth yang stabil.  Orang ini kita sebut, “leader – listener.”

Seorang pemimpin yang mau mendengarkan rakyatnya (leader-listener), ia akan dipilih kembali untuk memimpin.  Contoh-contoh ini  kita temukan dari sikap mereka yang sukses, seperti Jokowi, Barack Obama, Jimmy Carter, Bill Clinton, Oprah Winfrey, Najwa Shihab, Kick Andy, dst.  Steve Jobs, adalah salah satu pendengar fenomenal dunia. Ia berpinsip kuat untuk terus “stay foolish- stay hungry” untuk mencari terobosan baru, inovasi baru produk Apple. Maka lahirlah, Macbook, Ipad, Ipod, Iphone dst.  Pembelajar adalah pendengar sejati.

Lalu dimana letak 100% keterampilan? Setelah orang mau (sikap) mendengarkan, barulah keterampilannya untuk mendengar kemudian bisa diasah (ditajamkan).  Disinilah jam terbang menjadi komunikator pendengar (listener-communicator) menjadi penting.  Keterampilannya bisa dinaikkan dari skala 1 sampai 10 misalnya, dengan banyak berlatih atau diberi kesempatan melatih diri.  Forum latihan, mulai dari hadir dalam diskusi, melakukan presentasi kinerja, melakukan focussed-group discussion (FGD), melakukan interview, memimpin meeting/ sidang, menjawab email dan membuat laporan peristiwa (data dan fakta berbicara). Biasanya, dalam 1-5 tahun masa kerja sebagai Supervisor/ Manager misalnya (karena jam terbang), seseorang bisa menjadi “a good listener.” Ia bisa dipercaya oleh atasannya.

Terlebih lagi orang-orang kudus dan suci, mereka mampu mendengarkan dan melakukan suara dan kehendak Tuhan, maka mereka dipercaya Tuhan dan manusia. Mereka kita sebut para Nabi yang terkenal di zaman dahulu dan di zaman ini. Tapi tetap saja misteri, Nabi biasanya malah tidak didengarkan di daerah asalnya sendiri.

Bagaimana dengan “professional listener”?  Professional listener (the person dan the new competence) adalah area kompetensi baru, orang dengan kemampuan baru.  Ia bukan saja a good communicator atau a powerful speaker (one-way communicator), namun ia a good listener. Sebuah kombinasi kompetensi yang amat langka.  Pandai berbicara tapi juga pandai mendengarkan suara orang lain (two-way communicator).   Yang membedakannya dengan a good listener, adalah ia mampu mendengarkan “semua” suara dengan netral tidak memihak.  Baik suara (aspirasi) dari atas (top management),  bawah (staff), dari samping (peers), dari dalam (internal voice, internal customer) dan dari luar organisasi (external customer).  Karena kompetensinya yang amat menonjol dari yang lain dalam mendengarkan (tangible indicator), ia tipe yang bisa dipercaya oleh bawahannya, rekan kerjanya, atasannya dan pelanggannya.  Carilah orang yang bisa dipercaya oleh banyak level, maka dialah orangnya.  Ia bukan hanya didengar (pro) oleh golongan tertentu saja, tapi oleh semua kepentingan. Ia mampu berdiri di semua pihak dengan netral, prejudice, impartial.   Suara orang lain ia dengar baik-baik, maka suaranya akan didengar dengan baik oleh orang lain (stakeholders). Ia berkompeten (mampu) membuat orang lain (speaker, pembicara) merasa nyaman, senang, enjoy dan suka meneruskan pembicaraannya.   Terlebih lagi, orang lain ingin terus berbicara dengannya, berulang kali, bahkan sampai lupa waktu.  Tentu topik,  relevan dengan organisasi, bukan gosip.    Ia berkompeten (mampu) menjadi juru bicara atau juru runding atau negosiator handal bagi perusahaan/ organisasi.  Ciri lainnya, ia tipe pendiam, banyak diam, bicara seperlunya (tidak dikenal orang secara formal).  Temukan orang seperti itu, pasti ada dalam sebuah organisasi manapun. Kompetensi langka tapi ada. Hati-hatilah dengan jebakan orang pandai bicara!  Semoga semakin banyak komunikator mampu menjadi a professional listener.

Bagaimana dengan nasib si pendengar buruk atau si kuping kecil (a bad listener) ?  Orang bebal dan keras kepala kebalikannya. Mereka lebih sering menutup telinga dan mata terhadap sesuatu yang benar dan hal-hal baru (pembelajar yang buruk, pemimpin yang buruk).  Karena mereka lebih senang menjalani kehidupannya yang sudah “deeply rooted”.  Mungkin saja ada beberapa tipe orang seperti itu, di sekitar organisasi atau keluarga kita, bukan?  Mereka bisa saja hobi sekali membuka telinganya kepada gosip, sinetron dan infotainment tidak berkelas.  Sehingga jalan orang bebal dan keras kepala tak membawanya kemana-mana.  Ia mandeg di tempat.

Sering orang bijak mampu menguraikan analisanya dengan tajam dan dalam, akibat kedalamannya dan kebiasaannya mendengarkan fata dan kebenaran (bukan gosip dan katanya).  Bagi orang-orang bebal dan keras kepala (si kuping kecil), sulit.  Seorang bijak pernah berkata: ” Jangan-jangan kebenaran yang kita percayai adalah keliru dan kesalahan orang lain itu malah benar,”  Orang bebal dan keras kepala tak mungkin mau mengakui kebenaran ini.  Mereka sangat percaya bahwa kebenarannyalah yang paling benar, padahal paling keliru.   Mereka sering memegang mati dan kaku pikirannya sendiri, padahal total menyimpang dari akal sehat.

Kalau ia jadi guru, ia guru yang tidak disukai (killer).  Kalau ia jadi dosen, ia dosen yang tidak disukai (sok tahu, sok pinter).  Kalau ia jadi pedagang, ia  pedagang yang tidak disukai (menang sendiri, sulit diajak bicara).  Kalau ia jadi Manager, ia Manager yang tidak disukai (si penjilat muntah atasan).  Kalau ia jadi tokoh agama, ia tokoh agama yang tidak disukai dan tidak punya teman (sombong dan arogan).  Kalau ia jadi kepala keluarga, ia kepala keluarga yang tidak disukai anak-anaknya (pelit, banyak aturan, banyak perhitungan).  Orang bebal dan keras kepalalah yang paling ditinggalkan oleh kemajuan zaman dan perkembangannya.  Mereka seringkali  “gaptek,” suka hidup sendiri, asosial dan minder.   Mereka biasanya tak punya banyak teman dan hidup biasa-biasa saja. Sikaplah yang membuat mereka hidup biasa-biasa saja. Mungkin juga mereka kaya tapi tidak bahagia, mungkin juga sukses tapi tidak disukai, mungkin juga berpangkat tapi tidak dihormati. Lalu buat apa?

Selasa, 13 Oktober 2015

Harta non-materi

"Tiket termahal menuju Sorga adalah harta non-materi yang tidak kelihatan,
sedangkan tiket paling tidak laku adalah harta materi yang kelihatan"

Senin, 12 Oktober 2015

peace community Indonesia [peacecom]


peace community Indonesia [peacecom]
Peace, it does not mean to be in a place where there is no noise, trouble or hard work, it means to be in the middle of those things, but still be calm, tranquil, serene, restful and peaceful in our heart and mind.
Love, peace and happiness adalah tiga hal “hakiki” yang dapat menerangi kehidupan di dunia saat ini dan hidup yang akan datang.  Banyak jiwa-jiwa yang tidak lagi bisa merasakan calm, tranquil, serene, restful dan peaceful, karena berbagai persoalan, perjalanan, pengalaman, trauma, keinginan dan gejolak hidup.  Hanya tersisa sedikit damai di dalam diri, terlebih di luar diri.  Hidup semakin terasa menekan, sesak dan stressful bagi sebagian besar orang.   Namun,  setiap jiwa bisa menemukan dan merasakan kembali keteduhan,  ketenangan dan kedamaiannya, asalkan hidup ditata-ulang kembali. Menata-ulangnya membutuhkan cara-cara baru, kesadaran baru dan pola pikir baru.

Indonesia masih perlu menata-ulang cara hidup, pola pikir dan kebiasaan yang menjauhkan warganya dari kualitas hidup yang diidam-idamkan secara hakiki. Optimis,  Indonesia masih bisa menerangi warganya dengan berbagai-bagai gerakan kesadaran masyarakat yang fokus kepada pembangunan non-fisik selain fisik, yaitu menyegarkan kasih sayang, menghidupkan kedamaian jiwa dan merawat  kebahagiaan.  Terutama gerakan kesadaran dan perubahan pola pikir yang berfokus kepada keluarga demi keluarga.  Tak berarti institusi lain tidak berfungsi dengan baik.  Semua kemungkinan perlu dicoba dan jika menemukan jalan baru, itu perlu diperkuat.

Peacecom digagas untuk menghidupkan kembali institusi keluarga demi keluarga.  Lewat kekuatan dan kesadaran baru keluarga [elemen terkecil masyarakat],  sebuah corporate culture besar yang telah rusak,  bisa ditata-ulang, ditumbuhkan ulang dan mampu berbuah kemajuan-kemajuan baru.  Sehingga akan muncul lebih banyak orang, pemimpin dan keluarga yang suka dengan cinta damai.  Dengan cinta damai, kualitas hidup akan meningkat dan semua mahluk akan hidup lebih berbahagia.

Visi dan Misi
peace community Indonesia [peacecom] adalah jaringan sosial [social network], bukan gerakan politik, bukan bisnis/usaha, bukan perusahaan, tetap terbuka menjadi lembaga sosial jika dibutuhkan.
Peacecom, gerakan cinta damai sederhana dan universal,  lintas agama dan budaya, menganut kebenaran manusia paling universal di dunia, ialah cinta dan damai.  Semua ajaran kebaikan berpusat pada 2 hal ini.
peace community Indonesia [peacecom] membantu setiap keluarga demi keluarga Indonesia [berfokus pada keluarga-keluarga, bukan pada tataran masyarakat luas] apapun backgroundnya, untuk mempraktekkan gaya hidup cinta damai di dalam keluarganya masing-masing.

Objective
Menemukan dan mengalami “live a peaceful life” secara personal demi personal,  di dalam konteks keluarga.  Setiap pelaku cinta damai harus berusaha dengan penuh ketabahan dan ketekunan untuk memiliki pengalaman pribadi dalam hidup penuh damai dengan keluarganya. Jika individu mampu hidup cinta damai di dalam keluarganya, diharapkan ia akan mampu menjadi “agent of peace” bagi keluarga yang lain. Hidup menjadi lebih bermakna ketika mampu membantu orang lain menemukan jalan kedamaiannya.

Metode
Peacecom,  menerapkan cara/ gaya hidup “cinta damai,” yang universal,  disebut sebagai  “peace life skill” yang sederhana, dapat dipraktekkan, dapat dilatihkan dan dapat dikembangkan setiap saat pada tingkat individu di dalam keluarga.

Setiap individu harus berinteraksi dengan dirinya sendiri, sebelum dengan anggota keluarganya masing-masing.  Diri sendiri adalah arena perdamaian pertama/ dasar yang harus dibereskan dan dimenangkan.  Berdamailah dengan diri sendiri dan dengan Tuhan.  Bereskan arena pertama hari ini.  Menjadilah berhasil mengatasi kemelut diri sendiri, kenalilah diri sendiri dan ajaklah diri sendiri untuk hidup penuh cinta damai hari ini. Latihlah.

Arena kedua, adalah esok hari.  Pulanglah dan fokuslah untuk membangun keluarga sendiri.  Mulailah dengan dan dari keluarga sendiri [inner-circle yang terdekat], jangan keluarga orang lain atau keluarga jauh atau keluarga teman.  Ujian mastery di arena pertama ada di arena kedua.  Segala konflik, perbedaan, friksi akan dirasakan di arena kedua.  Jika berhasil di arena pertama, biasanya lebih mudah berhasil di arena kedua.   Latihlah.

Setiap keluarga, harus membuat gaya hidup cinta damai,  menjadi “how-to” yang mudah,  step-by-step practice,  meski hidup cinta damai itu nampaknya sulit dan abstrak.  Gaya hidup cinta damai harus mudah, sederhana dan bertahap sedikit demi sedikit.  Tidak diperlukan ambisi untuk menyelesaikan semua masalah keluarga dalam  semalam, tuntas.  Sebisa mungkin hindari hal-hal rumit, sulit dan kompleks.  Hindarilah jargon-jargon atau slogan-slogan yang manis di atas kertas atau di spanduk, dan gantilah dengan prinsip hidup sederhana yang mudah dipraktekkan. Gantilah mimpi-mimpi yang muluk, dengan tindakan kecil sederhana hari ini, misalkan: mendahulukan saudara lebih dahulu mengambil makanan/ baju,  mendengarkan curhat tanpa mencela,  mengalahlah dan dahulukan yang lain,  memberi salam, menegur saudara kita lebih dahulu, mencium/ memeluk anggota keluarga terlebih dahulu, membantu merapikan meja makan/ tempat tidur dengan senyuman, menyapu rumah/ halaman dengan gembiara, mencuci piring kotor di dapur dengan ikhlas, dst. Latihlah.

Berhentilah dengan teori, langsung praktekkan apa yang bisa/mampu.   Mulailah dengan yang mudah terlebih dahulu dan tunda yang sulit di belakang.  Jadikan gaya hidup cinta damai itu “applicable and practical.”    Jika “peace life skill” menjadi rumit atau terasa sulit, gantilah dan tinggalkan, misalkan: jika memaafkan itu masih sulit, cobalah dengan mengajaknya bicara baik-baik dan mendoakannya. Itu jalan lebih mudah.
Carilah cara-cara termudah.  Jika tidak menemukan cara termudah, cobalah cara lain sampai akhirnya menemukan cara paling cocok/ paling sesuai dengan konteks tiap keluarga. Kita semua tahu, setiap keluarga adalah unik, dalam pola pikir, latar belakang, tujuan, situasi dan masalah yang dihadapi.
[Keyword: mempraktekkan, gaya hidup cinta damai, mudah dan sederhana.]

Fungsi dan sebutan
Ayah dan atau ibu, anak tertua, single parent,  diharapkan berperan sebagai role model.
Setiap pelaku dalam keluarga dari peace community Indonesia [peacecom], disebut “peace maker.”
Setiap pelaku “peace maker” yang ingin membantu [mentoring] keluarga lain, disebut “peace mentor” pada level keluarga  atau “agent of peace” dalam skala lebih besar.
Pendiri atau pengurus kegiatan peacecom, untuk sekedar membedakan fungsi dan  sebutannya, akan disebut atau dikenal sebagai, “peace ambassador.”

Membership
Siapa yang bisa bergabung? Terbuka bagi siapa saja yang setuju dengan visi dan misi.   Semakin beragam dan berbeda-beda [Bhineka Tunggal Ika, pluralisme, majemuk] semakin baik untuk melatih dan mengelola setiap gesekan, perbedaan, debat, konflik, yang akhirnya/tujuannya hanyalah untuk saling menyayangi dan menciptakan lebih banyak lagi rasa damai, sama sekali bukan untuk menjadi musuh atau saling menjauhkan satu sama lain.

Accountability & transparency
Peacecom atau peace community Indonesia, adalah gerakan masyarakat biasa [lay-people], non-profit organization, nirlaba, NGO dan bebas melakukan kegiatan cinta damai yang penuh tanggung jawab.  Tanggung jawab personal dan sosial itu ditunjukkan dengan 2 hal utama:  Accountability dan transparency [open book management].   Setiap pribadi harus menjaga diri, mawas diri dan mempraktekkan gaya hidup cinta damai.  Tidak ada iuran.   Tidak ada ikatan atau kontrak dan semacamnya.  Jika ada yang tergerak untuk mendanai sebuah kegiatan, silahkan terbuka saja untuk didiskusikan dengan “peace ambassador.”

Tanda anggota peacecom,  hanyalah sebuah  identitas gerakan dan dibiayai oleh member sendiri.   Sifat keanggotaan,  volunteer [relawan], tidak ada sistim gaji atau honor.  Setiap dana/sumbangan/ inkind-donation yang masuk akan dikelola lewat sebuah rekening dengan dua penanda-tangan [double-signature account].
Dana yang masuk semata-mata untuk membiayai biaya operasional kegiatan, seperti: pertemuan rutin “peace sharing & learning,”  seminar/ convention, visit/ audiensi, training, dst bukan untuk gaji/honor/penghargaan/ reward/ hadiah/ bonus.

Setiap kegiatan harus bebas dari interest pribadi maupun organisasi, misalkan untuk ambisi politis, ambisi popularitas,  ambisi memperkaya diri sendiri, ambisi promosi sebuah produk/jasa dst.
Peacecom tidak ingin publisitas publik, beriklan atau memamerkan kegiatannya kepada publik. Komunikasi di media sosial terbatas untuk peace sharing dan learning.

Peacecom tidak untuk dikaitkan dengan aktifitas politik, partai atau pemilihan umum/pilkada.
Kerjasama dengan lembaga sponsor/ perusahaan korporasi akan diatur sedemikian rupa melalui SOP yang disusun oleh pengurus dan disetujui oleh pengurus.

Sebuat tim Internal Audit dibentuk untuk mengawasi seluruh kegiatan dan keuangan agar “clean management” dapat dipraktekkan dengan murni dan bersih.  Frekuensi audit 2 kali selama setahun.

Seven [7] “peace life skill” dari peacecom
Di setiap skill, akan diawali dengan “kata kerja” sederhana yang practical agar langsung dapat dipraktekkan.  Pertanyaannya,  apakah skill ini berurutan? silahkan direnungkan.

1.  Praktek pertama  |
Kata kerja pertama adalah : “dengarkanlah.”
Dengarkanlah  hati nurani, suara hati sendiri [suara Tuhan].  Hati nurani adalah pelita terang benderang dalam gelap, ketika harus memilih jalan.  Ia menerangi perbuatan baik dan mencegah yang buruk.
Menjadi baik dan benar adalah landasan fundamental menuju jalan penuh cinta damai. Dan itu hanya melalui jalan utama, rajin masuk ke dalam diri sendiri.
Sehingga apapun yang kita  kerjakan dengan baik dan benar, akan keluar sebagai kebaikan dan kebenaran. Ia membentengi diri  dari perbuatan tercela, jahat, benci, dendam dan permusuhan.  Sehingga hidup menjadi lebih baik dan menjadi lebih benar di mata Tuhan dan manusia.  Ia membangun legacy ke masa depan, melapangkan jalan pulang ke rumah Tuhan,  meninggalkan jejak kehidupan ke anak-cucu  dan  membangun  personal branding hari ini.  Hidup menjadi lebih bijaksana, dewasa dan matang.  Sumber kebijaksanaan, kedewasaan dan kematangan adalah suara hati, bukan usia.   Personal character dan moral / akhlak mulia dibangun di atas jalan ini. Pemimpin bijaksana, dewasa dan matang adalah yang sering berlatih mendengarkan suara hati. Ia timeless, suara Tuhan sendiri,  jalan Tuhan terbaik, jalan kebaikan dan jalan penuh berkat.
Inilah praktek pertama yang general/ fundamental bagi semua “peace maker.”   Dengarkanlah  hati nurani, suara hati sendiri [suara Tuhan] sebelum bertindak atau berniat melakukan aktifitas, misalnya:  mengambil keputusan, memilih sesuatu,  menentukan sesuatu,  bekerja,  berbisnis/ berdagang/ berusaha,  belajar, mengajar, berkarya, membantu/melayani orang lain, ibadah, mengendarai kendaraan, bepergian atau rekreasi. Singkatnya, kalau ingin menjadi orang baik dan benar, rajinlah untuk mendengarkan suara hati. Latihlah.

2.  Praktek kedua  |
Kata kerja kedua adalah : “terimalah.”
Bersyukur adalah aktifitas menerima.  Menerima adalah bersyukur, mensyukuri.  Menerima itu mengerti dan memahami.  Dengan menerima, ia dapat mengobati penyakit menang sendiri.  Dengan menerima, manusia tidak memaksakan kehendaknya, tidak ngotot, tidak hanya maunya sendiri, apalagi marah dan protes kepada Tuhan.
Bersyukur adalah nafasnya “peace maker.”  Bersyukur setiap saat di setiap keadaan, di setiap kondisi, baik atau buruk.  Give thanks at anytime, anywhere and anyhow.  Hal buruk menjadi baik, ketika bersyukur.  Baik dan buruk sama-sama sebagai hadiah jika diterima dengan lapang dada dan jiwa besar.  Pemimpin yang lapang dadanya dan besar jiwanya, adalah pemimpin yang banyak bersyukur.  When bad things happen to good people,  bersyukurlah.    Di setiap tarikan nafas dan hembusan nafas, sertailah rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.  Bersyukur yang sejati, bukan dengan membandingkan diri sendiri dengan keadaan orang lain.  Bersyukur adalah urusan setiap pribadi dengan Tuhan.  Sehingga bersyukur menjadi pusat ibadah, pujian dan penyembahan personal dengan Tuhan.  Latihlah.   Jika bersyukur itu sama dengan “menerima” segala sesutu,  maka kelegaan, keringanan, keterbukaan dan kerendahan hati akan mengalir secara alami dari dalam diri.  Hidup menjadi lebih tenang, kegelisahan dan kekhawatiran pergi menjauh.  Latihlah.

Mohon maaf kepada bapak/ibu/saudara, mohon bersabar, menunggu lanjutan materi, terima kasih
salam cinta damai,
Hub harry purnama WA/sms: 0821.3147.7119 untuk sinergy.

Sabtu, 06 Juni 2015

John 14: 6






John 14:6 New International Version (NIV)
Jesus answered, “I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through me.
New International Version (NIV) Holy Bible, New International Version®, NIV® Copyright ©1973, 1978, 1984, 2011 by Biblica, Inc.® Used by permission. All rights reserved worldwide.

Senin, 18 Mei 2015

Traveler

Lebih banyak orang suka main-main dari pada hidup serius, lebih suka tanpa aturan dari pada lurus pakai sistem disiplin, lebih suka njelimet dan muter-muter dari pada yang simple dan gampang, lebih suka kaya raya dari pada hidup cukup, lebih suka mengalir dari pada hidup dengan tujuan.  Mereka seolah-olah telah menghabiskan umurnya dengan percuma dan sia-sia.  Masih bersyukur mereka tidak terlibat bisnis "drug lord" dan mafia penyelundup kelas berat. Masih bersyukur mereka tidak berurusan dengan pasukan delta force, FBI, DEA agent atau KPK. Masih bersyukur mereka tidak jadi pesakitan tahanan polisi atau kejaksaan. Masih bersyukur mereka bukan napi kasus narkoba. Masih bersyukur, anak perempuannya bukan korban "kecelakaan," tembak lari lelaki liar atau pelaku "business-online." Masih bersyukur, suaminya bukan bandar judi.  Masih bersyukur  istrinya bukan jenis pelarian dengan lelaki lain. Hidup adalah pilihan, bagaimana kita hidup, menentukan cara kita mati, bukan? Perjalanan juga pilihan, kemana kita pergi, menentukan kita sampai dimana, bukan?

Di level yang lebih ringan, ada lebih banyak orang suka berjalan-jalan dari pada tinggal di rumah. Ada anak kecil 8 tahun teriak lugu dari luar rumahnya: " Mama, dede muter-muter sepedaan ya, bosan di rumah..!"  Anak kecil saja sudah bosan. Ada istri yang kerjaannya  kelayapan. Ada anak lelaki yang pemberontak. Ada anak gadis yang gelisah. Ada orang tua muda yang gila golf sampai kambuh jantungnya dan tewas seketika.  Ada suami yang hobinya selingkuh di tiap tikungan. Banyak istri yang suka gonta-ganti gadget dan tas dari pada ngurus rumah tangga.  Setelah diselidiki, ternyata mereka kesepian di rumah, tidak dikasihi oleh pasangannya, patah hati, tertolak, frustrasi, kecewa dan tidak punya tujuan hidup.  Inilah jenis traveler pejalan kehidupan yang kesepian ditengah keramaian, yang bosan ditengah kesibukan, yang ngap di ruang AC. Ada berapa banyak model yang begini? Anda yang simpulkan saja. 
Manusia badani suka menyenangkan hawa nafsu dan keinginannya dengan berjalan-jalan jauh, hingga  ke alam liar dan bahkan extreme gila-gilaan.  Ada yang suka ke mall atau pantai. Ada yang suka ke luar negeri dan melihat peradaban lain. Ada yang fanatik suka gunung dan lembah-lembah serta gurun pasir eksotis.   Tapi tak jarang, banyak suami  yang lebih betah di rumah dengan anak-anak. Kita menyebutnya orang rumahan.   Seorang pilot adalah traveler sepanjang waktu.  Tapi itu sejauh panggilan tugas.  Sesampai di rumah, ia bisa jadi 100% orang rumahan, lebih senang bermain dengan anak-anak.

Baik orang jalanan, orang yang hidupnya kesepian dan sia-sia maupun orang rumahan, semuanya disebut para traveler.  Toh semuanya akan pulang juga ke rumah, bukan?   Karena rumah adalah tempat dimana cinta sejati dibuktikan, bukan di perjalanan, bukan?  Karena rumah adalah tempat bertemu.   Tuhanpun tinggal di sebuah rumah nan indah. Itulah mengapa para "homeless" dianggap sebagai traveler sejati.  Beberapa orang atau sekte tak berniat punya rumah. Mereka  feel at home  dengan tinggal di kontrakan atau di caravan atau going into the wild camping di hutan.  Rumah di bumi hanya sementara,  "numpang minum, numpang ngombe"  kata orang Jawa. Toh pada akhirnya semuanya "pulang" kembali ke "basic origins," the Almighty God, our Holy Creator.   At the very end, teman, saudara dan sahabat akan berdoa: "Bye..bye..bye.. selamat jalan saudaraku, temanku, sahabatku yang kukasihi... Semoga jalanmu mudah lurus, menuju Sorga yang indah dan kekal, Amin."  Hanya itu saja, doa terakhir bagi semua traveler.
Tuhan memang tidak menciptakan rumah bagi manusia, tetapi Dia menciptakan manusia, si pembuat rumah, si pembuat tujuan. Rumah macam apa saja, ia adalah tujuan perjalanan.  Bumi dan planet lain sama-sama sebagai rumah bagi kehidupan.  Sorga, juga dipercayai sebagai rumah diatas rumah kehidupan. 
Perjalanan melewati ruang dan waktu,  akan menuju ke suatu titik, rumah.  Pohon kamboja, nyamuk, kecoa, laba-laba, kucing dan anjing juga punya rumah. Bahkan tupai dan burung kutilang juga berumah di pohon-pohon. Penjara adalah rumah. Sekolah adalah rumah. Tempat bekerja adalah rumah. Jalan raya adalah rumah. Rumah sakit adalah rumah. Mansion adalah rumah.    

Perjalanan yang biasa, adalah perjalanan keluar rumah. Ia hanya berpindah dari satu titik ke titik berikutnya. Itu sudah biasa dan jamak. Pulang jalan-jalan, biasanya badan capek dan psikis stress karena tagihan datang.  Orang demikian hidup dengan 100% badaniah.  Sifat badani antara lain, sehat, segar, fit, cepat capek, lelah, pegal dan stress.  Sifat psikis, antara lain, senang, gembira, antusias, sedih dan muram.  Jenis traveller biasa, mereka hidup untuk berjalan-jalan di berbagai ruangan.  Traveler jenis ini pasti akan haus untuk pergi ke tempat-tempat suci di tempat yang jauh. Semakin jauh, mahal dan sulit, semakin sakral.

Ini mungkin yang disebut "physical traveler."   Jenis traveler ini percaya sekali jika sudah pergi ke tempat suci beberapa kali,  pasti masuk Sorga.  Jenis traveler ini tak mungkin bertahan jika ada ancaman fisik yang berat, seperti: tubuh terbakar, disiksa, divonis hukuman mati atau suami/istri tercinta meninggal, dst.    

Sedangkan perjalanan yang tidak biasa adalah perjalanan tetap di tempat, tidak keluar rumah atau meninggalkan lokasi tertentu. Manusia rohani kita lebih suka diam dan tenang.  Kesukaannya adalah menyembah, memuji, membaca Firman Tuhan dan melakukannya. Itu makanan roh, makanan rohani, pemuas dahaga rohani. Itulah rumah rohani.

Pertapa dan meditator, silent rider, rohnya berjalan-jalan dalam ruang waktu, badaninya tetap diam tak bergerak.  Enam puluh tahun, 70 tahun, 80 tahun, 90 tahun, 100 tahun, waktu yang bisa memerangkap badani. Namun jiwa, roh, spirit, being, awareness,  tetap akan mengembara dalam alam roh yang tak terbatas, bukan?  Bagi pertapa, badannya tak lelah. Namun ia mengalami kepuasan rohani yang tak terkatakan dengan bahasa bumi. Orang demikian hidup dengan 50% badani dan 50% rohani. Ia tak butuh pergi ke tempat-tempat suci. Karena dimana ia hidup saat ini, adalah tempat suci.

Semakin hidup manusia ke arah suci, semakin ia menanggalkan keinginan dagingnya. Maka ia hidup dengan sesedikit mungkin kekuatan jasad ragawinya. Ia akan bertahan hidup dengan lebih banyak tubuh rohaninya. Lama kelamaan, tubuh imannya menjadi kuat. Ia bisa saja mendekati keadaan 100% rohani.  Dan pada suatu titik nanti, ia benar-benar akan 100% rohani penuh, roh adanya. Kapan? Ketika badan jasmaninya mati, selesai. Ini yang disebut orang, meninggal dunia. Yang meninggal hanya raganya. Rohnya tidak sama sekali. Rohnya akan terus melakukan perjalanan yang belum selesai. Kemana itu? Misteri adanya. 

Jasad memang ditinggalkan di bumi. Ia berhenti dibumi, tapi rohnya terus hidup dalam ruang yang berbeda dan dimensi waktu yang tak berbatas. Ini mungkin yang disebut "spiritual traveler" atau silent traveler.  Jenis traveler ini mampu melihat ke dalam dan menemukan cahaya keindahan bersama Tuhan Allah. Mereka mampu melewati batasan tempat.    

Doa-doa tokoh agama, menyebutnya " jadilah kehendakMu di bumi seperti di dalam Sorga. "  Tanpa berjalan-jalan jauh, roh bisa merasakan dan mencapai Sorga. Dalam hitungan detik dan menit, roh mencapai state of heaven.  Kita sering mendengar orang yang koma, mati suri, si aladin atau orang sakti, dalam kedipan mata atau second, sudah ada di kampung halamannya yang sangat jauh atau berada di Sorga. Jangan-jangan Sorga itu memang sudah ada disini, hanya kita tak bisa melihatnya dengan mata badaniah.

Alam Sorga bisa jadi alam yang sama yang dipakai badan dan tubuh di bumi. Saat ini juga disini, ada Sorga dan Neraka. Itulah mengapa penjahat yang rohnya bertobat, saat itu juga ia berpindah dari Neraka ke Sorga. Perjalanan roh bisa jadi adalah perjalanan di bumi ini, bukan ke galaksi lain.

Sebagian orang atau sekte berpendapat Sorga bukan "locality" atau menunjuk ke suatu tempat. Ada juga yang tak bisa percaya adanya Sorga dan Neraka, jika itu sebagai  " tempat. "  

Badan Andrew Chan [kini priest] dan Myuran Sukumaran [kini artist] dari Sydney, boleh dihukum mati dengan sadis dan shocking pada 29 April 2015 di Nusakambangan.  Namun rohnya tetaplah  akan terus berjalan-jalan menuju roh Allah Yang Maha Besar. Sebuah destiny baru, boleh dibilang dunia baru. Orang media, mengatakan dunia lain.  Hukuman mati hanya bisa "membatasi" hidup badani, tetapi tidak berkuasa atas roh. Dunia lain itu tak bisa dihukum mati. Perangkat hukumnya tentu berbeda. Itulah menjelaskan, mengapa Andrew dan Myu berani menghadapi kematian badani dengan gagah perkasa.  Karena yang perkasa adalah badan rohaninya, yang lebih besar dari pada badan ragawinya. Itulah mengapa, semua pejuang 300 Sparta tak takut mati, karena mereka tak hidup dengan 100% badan ragawi.  Ketika rohani lebih utama dari yang badani, mereka tak gentar oleh apapun, kecuali kepada Tuhan. 

Dimana manusia roh sebelum dilahirkan? Apakah kehidupan roh baru dimulai setelah dilahirkan oleh raga badani?  Jangan-jangan kita semua sudah ada sebelum dilahirkan, dalam bentuk pejalan roh.  Hidup di alam roh yang tak nampak oleh mata, karena tak memakai jasad badani.  Karena tak bisa dilihat, apakah itu berarti tak ada?  Tuhan juga tak nampak, apakah berarti juga tak ada? Ternyata ada. Tuhan dalam bentuk Roh Yang Maha Tinggi.

Selama dipenjara 10 tahun,  ke dua tubuh Andrew dan Myu boleh tak berubah, kecuali bertambah dewasa.  Roh telah berubah dari penjahat menjadi roh yang bertobat. Mereka kembali kepada Jalan Tuhan yang benar.  Dan kini roh mereka telah bebas menang menuju perjalanan selanjutnya. Keluarganya, politikus, media massa, akitivis hak azasi manusia, jaksa dan hakim, sipir penjara dan dunia yang mendoakannya, hanya tahu mereka berdua kini berjalan diantar Malaikat-Malaikat di alam roh.  Manusia pandai menggambarkan rupa Malaikat.  Malaikat itulah yang menyambut dengan gembira ke 2 roh kembali pulang kepada Tuhan yang membuat mereka berubah. Perjalanan  mereka masih panjang, demikian juga kita.

Namanya Gado-gado.  Ia adalah tokoh lelaki senior 70 tahun yang menurut kita pastilah ia sudah matang pohon. Benar ia jenis  " spiritual traveler " yang sudah melewati fase " bodily or physical traveler. " Ia tinggal bersama istrinya sedikit lebih tua, tante Kolak, orang Korea. Sebagai orang  Kawanua yang hidupnya seharusnya mewah, tapi ia memilih tidak sama sekali.

Om Gado-gado mengambil rute perjalanan berbeda dengan mainstream.  Ia memilih jalan sederhana di rumah lamanya.   Sudah 50 tahun mereka tinggal di kota itu dengan aman dan damai.  Mereka tidak ingin ke tanah suci.  Belum pernah berdua ke Amerika atau keliling Eropa, layaknya pensiunan swasta. Apakah mereka berbahagia? Jawabnya, ya.

Bagi mereka, tanah mereka tinggal adalah tanah suci. Air dimana mereka minum adalah air suci. Waktu dimana mereka hidup saat ini [the now, the present moment] adalah waktu yang suci/ sakral.  Yang mereka sadari sungguh-sungguh adalah bahwa waktu sekarang adalah penggalan dari "eternity"  [kekekalan].  Jika mereka hidup dengan benar & bijaksana sekarang, sebenarnya mereka sudah menikmati "sorga" seperti yang dikotbahkan oleh orang yang mereka pikir lebih tahu.  Tak disangka, para spiritual traveler  ini  ternyata sedang mengirimkan "bahan" bangunan anti karat untuk membangun rumah mereka di Sorga. Malaikat bertugas membangun rumah-rumah baru bagi mereka.

Celakanya yang lebih tahu, ternyata belum tentu lebih benar, bukan ? Om Gado-gado dan tante Kolak, jenis manusia pelaku Firman, bukan jenis orang pintar berbicara.  Dan ternyata benar, banyak pengkotbah dan tokoh agama, hidupnya berantakan. Dekat-dekat bergaul dengan mereka hawanya terasa panas. Spiritual traveler menyebut mereka jauh dari Sorga yang dingin dan sejuk.

Sebenarnya,  kota mereka kini sudah teramat ramai bagi seusia mereka, yang ber-KTP seumur hidup.  Pendatang berbagai suku dan agama tiap tahun datang berjubelan menghimpit penduduk asli.  Tujuan pendatang cuma satu, cari hidup.  Bukan berarti pendatang susah hidup. Rata-rata mereka sudah punya kompetensi minimal, baik sebagai tukang, pekerja dan pembantu. Penduduk asli kerap tersingkir oleh mulai berkuasanya pendatang.

Karena sikap awalnya sudah berbeda dengan para pendatang. Maka bagi om Gado-gado dan tante Kolak tinggal di kota itu bukan lagi dipandang sebagai masalah.  Mereka tak lagi mencari hidup.  Hiduplah yang datang mencari mereka. Kegembiraan hati mereka sudah jadi obat paling murah, paling efektif.  Ketenangan jiwanya sudah sama dengan suhu Kungfu dari Cina yang berlatih puluhan tahun. Om Gado-gado dan tante Kolak sendiri sebenarnya, sudah beres.  Mereka hanya ingin hidup tenang di usia seniornya, sampai Tuhan, the almighty being, memanggil pulang.  Semua ciptaan toh akan kembali pulang [coming back to the origins].

Salah satu doa mereka, adalah mendoakan kota. Dahulu, kota mereka sangat nyaman dan aman, meski minim fasilitas.  Kini, kota jadi semrawut tak karuan.  " Local traveler " pendatang, menguasai mayoritas perekonomian kota dengan gaya hidup dan budaya yang heterogen. Walikota dan aparat kota  umumnya dikuasai warga traveller.  Di dunia pendatang,  memang mereka dapat membuat ekonomi satu daerah tidak jenuh dan maju.   Namun sayangnya di kota om Gado-gado dan tante Kolak, hidup jadi tak nyaman dan tak aman lagi.  Bagi manusia pendatang, cara paling mudah cari uang adalah membangun banyak mall, ruko dan apartmen.  Namun,  mall membuat hedonisme bertambah dan jalanan macet.  Bangunan ruko membuat gersang karena hutan kota berubah jadi blok-blok semen.  Apartmen membuat kota jadi padat manusia. Kota menjadi terlalu banyak manusia.  Persaingan yang tadinya alami, kini mengeras.  Gesekan sosial jadi lebih sensitif tersulut.  Kriminalitas gampang meningkat. Meski rumah ibadah terus dibangun juga. Ia tak menjamin warganya hidup damai dan sejahtera.  Karena kedamaian dan kesejahteraan tak bergantung jumlah bangunan, bukan?  

Kampung kota yang mereka tempati, kini tak nyaman lagi. Apakah itu yang disebut pembangunan? Tentu bukan, hanya salah kaprah.  Kota, tanpa manajemen tata ruang,  tumbuh suka-suka, sesuka keinginan warga kotanya.  Apartemen, komplek perumahan, sekolah, rumah sakit dan mall berjamur tak karuan.  Ruko, pabrik dan rumah semua jadi satu di wilayah yang sama.  AC mobil berkurang dinginnya. Baju cepat bau karena udara kota kotor. Terminal semrawut, stasiunnya gelap dan jorok, angkotnya tak beraturan, sampah berserakan dimana-mana, kriminalnya melonjak dan jalanan rusak,  Air PAM dan listrik sering " byar-pet " semaunya.    Plus warga miskinnya sulit bisa sekolah dan berobat dengan layak.  Mereka berdua belum pernah merasakan kehebatan "medicare system" seperti di Amerika, Eropa atau Australia, negeri-negeri maju.  Tapi, radar mereka menangkap sinyal, ada yang keliru dengan cara manusia, pemimpin, membangun kota.  Warga miskin tertinggal jauh sendirian.


Menurut om Gado-gado dan tante Kolak,  mall, ruko dan apartmen tidak dibutuhkan oleh kota kecil ini. Common-sense mereka mengatakan,  hei pemimpin, yang  lebih dibutuhkan adalah pelebaran jalan, perbaikan fasilitas umum seperti jalan, jembatan, penyeberangan jalan, trotoar, jalur motor/ sepeda, terminal, stasiun, pasar, angkot, sekolah, rumah sakit daerah, puskesmas yang lebih layak dst.  Benahi saja yang sudah ada.  Dibuat bagus dan nyaman bagi siapa saja.  Arah pembangunan kota om Gado-gado dan tante Kolak sudah melenceng, suka-suka investor saja.  Pemimpin harusnya punya visi memperbaiki kesejahteraan warganya, bukan membangun gedung-gedung baru.  Tapi, suara mereka hanya suara pinggiran. Namun, doa mereka bukan doa pinggiran.     
.
Di kota itu,  hebatnya, hampir semua warganya, pegang handphone, yang seolah sudah jadi " nyawa " kedua.  Kualitas pendidikan jangan ditanya, semua kejar tayang asal lulus dan angka bagus.  Anak dididik mengejar jumlah, bukan nilai-nilai kebaikan.  Keluar malam sudah tak aman dengan begal membegal.  Rumah kost dan apartmen sudah menjadi ajang  "business on-line."  Tekanan hidup semakin keras.  Namun pesta dansa sampai mabuk juga banyak.  Anak mudanya senang main futsal, tapi rokok jalan terus.   Jika tak punya uang, orang tak segan-segan nekat.  Motor dikunci, hilang.  Itu sudah langganan.  Mau hutang tapi tak mau bayar, juga sudah membudaya.   Rumah petak kontrakan saling berhimpitan di gang-gang sempit.  Anak-anak kecil main bola di jalan raya, juga pemandangan biasa.  Yang jahat bertambah jahat.  Yang baik ikut-ikutan tak baik.   Inilah " broken city " di negeri miskin  [ " culture of  human poverty " ].  Pemimpin kota dan investor pikir, jika membangun lebih banyak mall dan ruko, itu artinya sudah maju. Keliru bukan?

Namun si Gado-gado dan si Kolak tak pusing dengan ulah pemimpinnya.   Mereka cukup "enjoy" dengan kondisi mereka.  Faktanya,  mereka beranak-cucu di rumah tua itu.  Dan memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dan di kota itu, meski kampung kini terasa pengap dan sesak.  Adaptasi genetikalah yang membuat mereka pada akhirnya, jadi terbiasa. Saking sudah biasa, masalah tak lagi dirasa masalah.  Hidup yang tak enak "as usual, " dengan radar imannya,  mereka sanggup melihat banyak  " amazing grace " yang tak terlihat mata biasa. Setiap hari adalah kemenangan dan hadiah adanya. Itulah hidup bahagia mereka. Enak bukan? Apakah mereka egois? Tidak. Mereka "gerah" dengan kekeliruan kota, makanya mereka mendoakan kota  dengan tekun.  Malahan, mereka punya "komunitas doa" yang sudah berjalan 10 tahun belakangan ini mendoakan kota. Hanya perjalanan doa mereka masih panjang, sepanjang kekeliruan yang terus dibuat.   

Sekadar mengingat-ngingat saja.   Dahulu ketika si Gado-gado masih aktif sebagai  bodily traveler, ia sering dinas ke luar negeri, tentu sendiri, tanpa istri. Ia menjelajahi kota dan negeri yang enak untuk dihuni.  Ia sudah pernah tinggal paling tidak satu minggu di negeri-negeri yang income per capitanya di atas USD 10,000.  Human Development  Indexnya [HDI] sudah tinggi diatas 0.8 seperti Australia, Canada, Inggris, Jerman, Swiss, Perancis, Italy, Amerika, Jepang, Singapura dan Korea Selatan.  Tour agency panen tiap tahun membuat produk jalan-jalan ke luar negeri yang laris manis sampai hari ini.  Jika teringat negeri-negeri nyaman itu, banyak orang ingin tinggal disana dan tak mau balik.  Mengapa mereka betah? Disana, hal-hal yang sulit dan rumit, dibuat mudah dan simple.  Namun si Gado-gado toh tetap mencintai negerinya sendiri. Ciri utama di negerinya sendiri, hal-hal mudah,  justru dibuat sulit dan rumit.  Dari modus ini,  orang-orang jahat bisa menghasilkan banyak uang untuk dinikmati keluarganya, bukan? Kita namakan saja, proyek akal-akalan.        

Salah satu "escape plan," justru mereka "tidak" mau pergi jauh atau melarikan diri dari  " broken city " mereka.  Yang masih bisa diperbaiki, mereka perbaiki. Yang masih bisa didoakan,  mereka doakan.  Yang sudah tak ada harapan, mereka terima dan nikmati saja.  " Acceptancenya " sudah terlatih tinggi.  Jam terbang kesabarannya banyak.  Hidup dengan kecerdasan spiritual yang sudah di frekuensi tinggi. Kesadarannya diatas rata-rata warga kota, tapi tak sombong. Buat apa sombong? 

Ia dan istrinya setia "merendahkan diri" untuk selalu datang kepada Tuhan.  Setiap pagi dan malam, mereka berdiri memandang ke langit sambil berdoa.  Rutinitas orang sederhana yang tahu siapa dirinya [ who am  I ? ].    Mereka tekun berjalan di belakangnya Tuhan.  Jalan teraman yang diambil adalah berjalan-jalan dengan Tuhan  [" traveling with God not with travel agent"].  Perjalanan mereka kadang jauh, kadang dekat. Tergantung dompet iman.   Setiap hari bersimpuh di kakiNYA.  Rajin bersyukur adalah nafas keduanya, bukan hanya berdoa.  Segala persoalan kota mereka bawa ke hadiratNya.  Saking dekatnya, mereka bisa mendengarkan suara Allah Maha Besar yang indah.   Sambil terus menjalin kasih sayang dengan semua anak cucu dan tetangga mereka.

Bagi mereka menambah kawan di jalan jauh lebih baik, dari pada memaki 1 orang.  Hidupnya sudah terbebas dari hutang bank [terlepas dari jeratan keinginan].  Apalagi, mereka tak punya rencana besar untuk mencari uang.  Buat apa lagi?  Mereka sudah selamat dunia dan akhirat.  Jaminan keselamatan sudah di tangan, buat apa lagi cari non-sorga.   Tak banyak orang yang hidupnya terus berpelukan erat dengan "jalan" Tuhan.  Maka, ada tertulis,  "jalan ke Sorga sungguhlah sempit. Dan lebarlah jalan ke dalam api." Mereka sadar, bukan Tuhan, bukan malaikat dan bukan jin. Hanya kesatuan  body, mind & being yang sudah berjalan masuk ke Sorga ketika masih di dunia [ a spiritual traveler ]. Maaf, mereka jenis traveler yang tak mempan lagi dengan jurus 10 tips atau 7 tips untuk hidup bahagia. Merekalah pelakunya, ahlinya.   

Mereka sekali lagi, bukan sufi,  tak punya gelar atau julukan the saint.  Hanya orang biasa dengan cara hidup yang tak biasa.  Manusia aneh dari Sorga.  Setiap memandang ke atas, selalu ada awan dan langit atapnya Sorga. Melihat ke depan,  selalu ada " travelling Guide " di depan mereka.  Ketika melihat ke bawah, ada pelita yang menunjuk arah jalan.  Ketika menoleh ke samping, selalu ada teman dan kawan-kawan yang baik.  Hidup mereka rasanya sudah amat cukup dan sempurna, bukan?

Ternyata belum...  Kita belum mendengar apa yang belum mereka lakukan lagi di sisa hidupnya...       

Tak ada yang namanya "sempurna."   Masih banyak yang mereka belum lakukan. Salah satunya,  ingin melihat Sorga dan Neraka sendiri, lalu berceritera kepada teman-temannya.  Diperkirakan oleh om Gado-gado sendiri, mungkin sebanyak kurang lebih 25% orang di bumi ini [ termasuk 12% atheis/ no religions, the World Factbook, 2013 ] yang bahkan  " tidak " percaya Sorga dan neraka.  Bagi yang tidak percaya, alasannya dua tempat itu hanya "state of mind, bukan locality or a place."  Dan hidup itu kekal dari kekal, tanpa ada hari penghakiman atau akhirnya.    Tapi Om Gado-gado sangat percaya, bahkan percaya adanya kiamat.  Bagi om Gado-gado, ia terutama penasaran apa dan dimana Sorga dan Neraka itu?  Ia ingin sekali tahu, dimana orang tuanya setelah meninggal ? Ia ingin berjumpa mereka. Dengan berjumpa mereka, ia pasti tahu seperti apa 2 tempat misterius itu?  Puaslah ia, jika sudah tahu.

Tapi....    Ia toh belum pernah merasakan bagaimana sesungguhnya mati dan hidup lagi? Tanda tanya besar ? Ia tak ragu sama sekali dengan imannya.  Hanya tak ada tokoh agama yang mampu menjelaskan dimana dua tempat itu berada? Seperti apa mereka?    Tapi, ia cukup puas, paling tidak sudah menemukan " siapa jati dirinya dihadapan Tuhan ? "   Karena masih banyak orang yang  belum  tahu  siapa dirinya?  

Ada orang tertentu yang beruntung.  Mereka tidak sempurna dan tidak layak, tapi dianugerahi kemurahan untuk bertemu malaikat atau Tuhan, ketika mereka koma atau mati suri.  Seperti ada beberapa orang yang dalam matinya itu, beruntung diantar malaikat atau Tuhan  untuk berjalan-jalan melihat dua tempat maha misterius itu.

Kata kerja yang dipilih mereka untuk menggambarkan dua tempat itu, adalah "terbang" seperti mimpi. Lalu dalam hitungan detik, sudah sampai ke Sorga dan Neraka.  Semuanya sangat indah untuk Sorga dan semuanya siksaan untuk Neraka.

Nampaknya ada "kesamaan" dari begitu banyak kesaksian orang yang berbeda-beda, yang pernah mati suri dan melihat Sorga dan Neraka. Sejauh ini tak ada yang tidak konsisten. Semua kesaksian itu mirip-mirip saja. Kesimpulan sementara om Gado-gado,  " heaven and hell are so real, not deceit. "  

Setelah mereka kembali dari perjalanan mistrius itu, mereka melukiskannya dalam buku atau kesaksian-kesakian hidup.  Om Gado-gado tahu itu dari  membaca buku-buku yang sudah beredar dan atau mendengar dari mulut ke mulut.

Namun sampai hari ini, itu semua pengalaman orang lain, bukan dirinya sendiri.  Ia masih sangat ingin merasakan sendiri, tapi waktuNya belum tiba. Saking penasarannya, ia bahkan  berdoa siang malam, untuk meminta kado spesial itu. Entah kenapa, ia begitu penasaran ?

Sayangnya, belum sempat, ia sudah dipanggil pulang.  Tinggallah tanda tanya besar hingga hari ini.  Tante Kolak pikir, ya sudahlah barangkali suaminya kini "sudah" bertemu Malaikat, Tuhan, Sorga dan Neraka sendiri.  Ia relakan suaminya pergi dalam perjalanan ke-kekal-an  . Kini terjawab sudah semua penasarannya. Semoga ia berbahagia sebagai spiritual traveler.  Makamnya masih dikunjungi anak cucunya hingga hari ini.  

Perjalanan om Gado-gado meninggalkan penggalan pertanyaan bagi kita,  " life is still a mystery journey ? "   Little people knows a little about it.   Sebagian orang sudah tahu.  Lebih banyak orang belum tahu.  Sebagian pemikir bilang,  eternity adalah juga melewati hari ini, the now.  Lalu setelah itu ke arah mana? dimana, kemana? bagaimana? tetap tak ada yang sesungguhnya telah tahu semua.  Buku-buku tentang kematianpun baru sedikit. Dan jika Anda membacanya, pada umumnya baru perkiraan penulisnya, bukan kisah nyata si penulis.

Kitab Sucipun menyisakan pertanyaan-pertanyaan itu bagi kita.  Para  spiritual travelerlah yang kini bisa menjawabnya untuk kita. Itupun hanya sebagian pertanyaan.  Tetap  suburlah profesi penasehat spiritual,  paranormal, orang pintar  dan segala perdukunan.  Hanya pura-pura bisa menjelaskan semua tanda-tanya.  Yang paling baik adalah bertanya langsung kepada Tuhan Allah.   Apakah Anda ingin menjadi  spiritual traveler atau  bodily or physical traveler?


Sabtu, 11 April 2015

High spot

Kepala langit atau Sagarmatha [Nepal] atau lebih dikenal dunia sebagai mount Everest [English terms dari nama Sir George Everest], puncak tertinggi 8.848 meter dari pegunungan Himalaya di Nepal / Tibet pernah didaki oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay tahun 1953.  Ketoprak dari Indonesia bukan pendaki gunung seperti Hillary dan Norgay, ia hanya ingin sekali ke puncak langit tapi dalam pengertian non-fisik. Puncak langitnya adalah pertama mendekati Tuhan,  "a spiritual journey " ala khas Ketoprak.   Kedua, menyayangi keluarga dan orang terdekatnya dengan " full-hearted. "   Ketiga, melakukan tugas hidup sebagai guru SMA yang adalah panggilan hidupnya sejak lulus S-1 di kotanya.

Ia terobsesi naik ke puncak tinggi, karena selama hidupnya beribadah di rumah ibadah [dibawah], ia tak menemukan dan merasa dekat dengan Tuhan.  Ceramah dan kotbah tokoh agama lewat mimbar hanya muter-muter disitu saja, tidak mencerahkan dan mengangkat.   Siapa tahu disana ia bisa mendekati Tuhan, sebelum terlambat, mati.  Ia mulai belajar mendaki kecil-kecilan dari sisa fisiknya sebagai pensiunan guru. 

Si Ketoprak tinggi langsing, berteman dekat dengan Sate, lelaki gemuk pendek sejak mereka bertemu di pemakaman seorang tokoh, tahun 1996. Ketoprak, penganut gaya hidup sederhana dan murah seperti halnya orang-orang maju, tinggal di rumah kampung sederhana. Rumahnya dekat sebuah kampus, berjarak 5 kilometer dari rumah sahabatnya, Sate. Kemana-mana, si Ketoprak pergi naik mobil tua, Toyota starlet tahun 1995 warna putih, yang ia peroleh dengan kredit. Si Ketoprak sebenarnya ingin sekali memiliki mobil asli Indonesia, tetapi tidak ada, terpaksa ia beli yang impor, Toyota.  Ia faham betul, itu hanya membuat Jepang tambah kaya.  Apa boleh buat, Indonesia belum bisa buat mobil sendiri, bisanya baru impor.

Sate, juga berambisi naik lebih tinggi lagi dengan menambah konglomerasi perusahaannya yang sudah beromzet 12 digit. Sate boleh bangga karena ia berhasil membangun konglomerasinya dari titik nol, modal dengkul. Di ruang tamu rumahnya, ia pajang beberapa bingkai besar saat berfoto dengan seorang presiden. Piagam penghargaan berjejer di bawahnya.  Dua lantai rumahnya, 500 meter2,  semua dilapisi karpet abu-abu, warna favoritnya.  Di basement rumahnya berjajar mobil mewah warna putih, minimum seharga 1M.  Semua plat nomornya bertuliskan B 8888 XX, sama dengan jumlah perusahaannya yang semuanya 88. Puncak tertinggi bagi Sate adalah bisnisnya lebih maju lagi.    

Setiap pagi, Ketoprak yang bersahaja hidupnya, memberi makan ikan-ikan di belakang rumahnya, menyirami tanaman di halaman, memberi makan kucing kesayangan anaknya lalu menyapu rumah. Diakhiri dengan jalan pagi dan sarapan bersama istri di meja makan mereka.  Setiap sore sebelum mandi, ia meditasi ringan 10-15 menit. Tak banyak masalah yang ia pikul  " setelah "  pensiun, hanya mengurusi anak cucu dan kost-kostan warisan orang tuanya.  Saat ini, relatif  ia tak banyak menemui badai dalam hidupnya dan karenanya less-stress.   Dunia akhirat sudah komplete [ "clear balance " ].  " Deep cleansing " luar-dalam sudah ia lakukan dengan sangat baik.   Sehat sudah, umur panjang akan, keluarga ada, secara ekonomi cukup, ia pikir mau apalagi? Ketoprak sudah mengalami 3E seperti yang diimpikan banyak orang di negerinya saat ini, tidur Enak, makan Enak dan sex Enak. Sebenarnya apalagi yang ia cari? Semuanya sudah cukup. Hidup di atas, tak ada lagi yang dikejar dan mengejar [ " living peacefully " ].   

Sate lain lagi, ia sulit tidur enak, meski sudah makan enak dan sex enak, karena hatinya dangkal.  Setiap lihat saingannya lebih maju, hatinya tak senang.  Maka siasat licikpun ia pakai.  Ia masuk ke bisnis pencetakan uang palsu, mengakali pajak, main dengan pejabat dan monopoli.  Rutinitas paginya, membuka laptop mengintip saldo rekeningnya lalu mengikuti pergerakan saham dan valuta asing.  Setelah itu, menelepon salah satu eksekutifnya untuk meeting malam hari.  Setiap sore ia harus menyempatkan main golf  untuk weight loss, karena obesitas berat.  Belum lagi kolesterol dan asam uratnya tinggi.  Rasanya semuanya belum cukup. 

Sate sudah lama terjebak dalam rutinitas " facial scrub. "   Pembersihan diri sebelah  "luar " lewat terlalu banyak ritual keagamaan belaka.  Ia tak sadar bahwa agama hanya membuatnya semakin jauh dari pembersihan diri  di bagian dalam.  Ritual agamanya selama ini, baru menyentuh kulit  luarnya  [rohani lahiriah].   Hidup di bawah, masih banyak yang harus dikejar dan mengejar, mirip adegan " fast & furious " atau  " death warrant. "  Baginya hidup selalu meresahkan dan  menggelisahkan.  Tak membuatnya nyaman dan tenang hidup  [ " living restlessly " ].

Keduanya suatu hari berhasil meraih apa yang mereka inginkan masing-masing.  Sate menjadi  "tycoon " kaya raya, " Big fatty rich Sate. "  Hanya kebahagiaan Sate berbeda jauh dengan Ketoprak.  Meski secara materi Sate jauh di puncak tangga, bergelimang harta dan wanita.  Namun tidur enak saja, ia sulit dapatkan. Mondar-mandir di bawah tangga, pasti hanya menemukan kebisingan dan hingar bingar kehidupan.  Semua serba pernak-perniknya. Ia tak menemukan " esensi " hidup yang sesungguhnya.  Kebahagiaan semu yang ada di bawah..  Ia sadari betul, ia lupa yang terpenting.  " Peace of mind " yang ia sering baca di literatur luar negeri, menjauh dari pikirannya. Boleh dikatakan ia hanya " half " sukses.  Kehidupan jenis ini dijalani oleh mayoritas, boleh dikatakan 80-90% populasi hari ini.  Materi menjadi serba jadi ukuran kesuksesan. Padahal tak ada kebahagiaan di dalamnya. Banyak orang  " tertipu " oleh sihirnya. 
 
Ketoprak naik ke puncak gunung tertinggi. Benar-benar tertinggi luar-dalam.  Di luarnya Ketoprak tetaplah khas Ketoprak.  Penampilannya kurus kering, mirip tahu goreng dan toge rebus murahan.  Namun, di bagian dalam, tersembunyi emas berlian sorgawi.  

Sedikit sekali orang menemukan kepuasan atau  " life achievement " seperti Ketoprak.  Jangan melihat namanya, tidak keren sama sekali. Kurang meyakinkan.  Namun, kualitas kedalamannya mengagumkan, bukan?  Ia tidak mau hidup di permukaan seperti Sate.  Sekali hidup, harus berarti.       

Sepulang dari   " long-journey-going-into high spot, " Ketoprak sharing kepada sahabatnya sesuatu yang ia cari selama ini.   " Ketika siang hari, langit terasa lebih dekat, sinar matahari lebih hangat. Jika langit mendung, ia lebih gelap dari pada di bawah.        Ketika malam, bintang di langit seolah lebih banyak.  Taburannya seperti dinding-dinding sorga yang menyala permanen.  Dan yang paling mengesankan, tak ada suara sama sekali di atas. Semua diam dan sepi.  Yang terdengar hanya suara gunung, seakan itu suara Tuhan yang berceritera. Di malam hari ketika tertidur, sinar bulan menemani bagai lilin di kakiku.  Tak ada music, internet dan film televisi. Yang aku lihat hanya bayang-bayang pesawat luar angkasa sedang mengorbit bumi dengan perlahan... Aku seperti mimpi...terbius oleh betapa dekatnya diriku dengan Tuhan..."
Sate mendengarkan pengalaman baru itu dengan penuh antusias: " Apakah kamu rindu makan enak dan mall...? " Ketoprak tersenyum  dan menjawabnya dengan mantap, " Sama sekali yang aku alami bukan hal-hal jasmani lagi, teman..."    " Lalu hal apa...? " sekarang Sate penasaran. "Aku merasakan Tuhan...! Aku telah menghirup aroma sorga yang wangi, tidak seperti yang dikotbahkan di mimbar-mimbar.  Di atas sana, aku lupa bagaimana bersedih, tak merasa kesepian,  lupa beban, tak ada basa-basi hidup, tak ada tetek-bengek,  tak ada yang menipu dan ditipu, tak ada rasa takut,  kata salam tidak diperlukan, semuanya hanya senyuman kedamaian... Seakan aku tidak merasakan apa-apa... terasa damai sekali....! "

Suatu hari Sate sakit berat karena kanker paru-parunya sudah menyebar ke otak. Jauh sebelum Sate meninggal, mereka berdua pernah berdiskusi lama, dengan cara apa nanti mereka dimakamkan.
Sate ingin dikremasi.  Semua abunya ingin ditebarkan oleh Ketoprak dan keluarganya di lautan Pacific dengan kapal pesiar milik Sate. Sate menuliskan surat wasiatnya 5 tahun sebelum ia meninggal di usia 70 tahun.

Di dalam suratnya, ia menulis, "...Papa mewariskan semua harta ke anak cucu papa dengan rata, setelah dipotong semua hutang-hutang usaha.  Setiap cucu, papa bagikan masing-masing satu perusahaan.  Setelah papa tiada dan akuntan papa melakukan tugasnya, papa ingin nanti dilahirkan kembali sebagai malaikat.  Jika tak ada malaikat di kamus reinkarnasi, papa ingin sekali menjadi bunga...Papa ingin menjadi hal-hal baik di kehidupan kedua nanti....Papa ingin menebus semua kekurangan papa saat ini.  Maafkan papa dan selamat tinggal semua anak cucuku...Love you all...."

Setelah 20 tahun, tak ada malaikat terlahir dari rahim manusia. Ketoprak terus menunggu keajaiban dari Sate. Tetap tak ada kabar malaikat telah lahir.  Yang ia dengar justru banyak tokoh meninggal dengan kesedihan dan air mata penyesalan. Semua berita di tv dan koran, menjual tontonan biasa dan  bayi lahir tetap sebagai bayi dengan tangisannya yang sama.  " No angel promised. "

Lalu Ketoprakpun meninggal dunia sebagai orang biasa di usia 95 tahun. Ia dimakamkan dekat kedua orang tuanya di kampung halaman, jauh dari kota.  Makamnya  sangat sederhana, hanya nisan dari batu bata dan gundukan rumput dengan gambar berbentuk " kunci. "  Kerabatnya dan teman-temannya banyak yang ziarah kesana. Ia meninggalkan seluruh kebaikannya dengan lega dan lapang dada.

Di detik-detik terakhir sebelum ia meninggal, bibirnya selalu tersenyum, wajahnya cerah bersinar. Di usianya yang mendekati 100 tahun, tak nampak kerutan kesedihan sama sekali.  Ia menatap kematian dengan  kegembiraan dan suka cita. layaknya seorang ibu yang baru melahirkan anak pertamanya.  Ia meninggal dengan penuh kedamaian.  Tak ada hutang, tak ada musuh, tak ada istri muda,  tak ada peliputan berita dan tak ada penyesalan. " a real-happy ending " kata banyak kerabat.  Hidupnya sudah bermakna!  Tak seperti yang diteorikan motivator,  dijalaninya langsung lewat kesulitan dan tantangan.  Ia matang  pohon dan  buahnya sangat lebat.

Ia menulis juga surat wasiat seperti Sate. "... Aku mewariskan tabunganku yang tak seberapa kepada anakku. Rukunlah satu sama lain. Uruslah kost-kostan yang aku tinggalkan secara bergantian dan hasilnya kamu bagi rata untuk semua cucu-cucu, buyutku dan anak yatim yang aku besarkan. Lalu makamkan aku dan taburlah bunga dengan penuh senyuman. Jangan menangis dan bersedih. Aku pulang ke gunung oase dan bertemu Tuhan disana.....Knocking on heaven's door. "

Setiap kali bunga ditaburkan di atas makam Ketoprak, Sate telah melakukan kebaikan yang ia tebus dari kehidupannya yang pertama. Bunga-bunga itu berwarna putih, kuning dan merah membentuk angka : "DUA"... Huruf  D   semua bunganya  berwarna putih. Huruf U bunga kuning dan huruf  A bunga merah...! Tradisi bunga berhuruf  DUA  itu lalu dilestarikan di makam ketoprak persis dibawah gambar "kunci" di gundukan rumputnya.


Ketoprak pergi ke tempat tinggi dengan "double smile," bertemu dengan Tuhan semasa hidupnya.
Kedua, " big smily in heaven. "
Sate pergi dengan satu senyuman, ketika menjadi bunga.
Satu pintu sorga untuk Sate dan satu pintu di sebelahnya untuk Ketoprak.
Kedua sahabat itu malah bertetangga lebih dekat di sana.
Sama-sama memegang kunci sorga.
"Two real smile, not faked smile..."
Sate telah mendapat "life smile" dari hidupnya ketoprak dan menjadi bunga bagi makam Ketoprak.
Ketoprak mendapat smile-back dari Sate,  dengan keyakinan tambah kuat bahwa
"happiness is not what you have, but what you... and not something outside.."
....Lanjutkan sendiri...







 
note: 

Dalam dunia kuliner, Ketoprak adalah makanan gerobak rakyat Jakarta dsk. Utamanya karbohidrat tinggi, potongan lontong, tahu goreng sedikit dipotong, toge rebus dan bumbu gula ulek pakai bawang putih dan cabe, ditaburi kerupuk, cocok untuk makan siang, orang jalanan atau mangkal di komplek perumahan.  Dijajakan bersamaan dengan gado-gado, hanya ditambahi potongan tempe goreng, kentang rebus, sayuran & emping.  Ketoprak & gado-gado rata-rata Rp 12.000/piring.   Sate,  sebagai makanan, semua sudah jelas, self-explanatory. Sate ayam bisa Rp 15.000 / 10 tusuk, Sate kambing Rp 18-20.000/ 10 tusuk.

Kebanyakan orang mengikuti jejaknya Sate.
Tak semua jalan sama dengan yang dilalui si Ketoprak. 
Jangan meniru naik gunung yang tinggi,  sangat  berbahaya.  
Namun,  benar jalan menuju sorga itu sempit.  
Sedangkan jalan ke neraka lebar sekali.
Laluilah prinsip-prinsipnya.
Sehingga Anda menemukannya sendiri,  original ala Anda sendiri.
Lalu bagikanlah dan berbahagialah.     

enjoy & pray
    
        

Kamis, 12 Maret 2015

life begins at 40, slows down at 50 and then stops whenever...














"Atheist says life begins at 40, slows down at 50 and then stops at my own destiny."   Agnostic says life begins at 40, slows down at 50 and then stops whenever it has to stop.   Believer believes that life begins at 40, slows down at 50 and then stops whenever God wants it."  

Semua kehidupan apapun itu pilihannya, selalu dimulai dan harus diakhiri.  Kehidupan itu sendiri adalah sekeranjang belanjaan pilihan-pilihan.   Ada mentega, ada telur, ada beras, ada buah mangga dan ada sayur bayam.  Menjadi mentega ataupun menjadi seperi bayam, itu hanya aneka barang belanjaan.   Keranjang adalah pembatas ruang gerak kehidupan, itulah yang kita sebut sebagai aturan atau etika bersama untuk hidup bersama. Menjadi  mentega  akan berakhir ketika ia disajikan untuk disantap.  Namun akan ada  mentega-mentega baru lainnya yang terus dibuat setiap hari [kehidupan baru yang dilahirkan].  Esoknya berakhir di meja makan, begitu terus.  

Menjadi atheist adalah pilihan pribadi. Menjadi agnostic adalah pilihan pribadi.  Menjadi believer [orang percaya] juga pilihan pribadi.  Orang beriman [monotheism atau henotheism] mengatakan: "....God is great, God is good..."  Orang yang memilih untuk atheist atau agnostic, akan berkata: " Ya, whateverlah..."  Semuanya itu adalah keranjang dari kehidupan.   Sehingga sejak semula,  pilihan hidup adalah hak azasi manusia yang melekat personal.  Sebenarnya tak boleh ada pihak manapun yang memaksakan seseorang untuk menjadi seperti mentega, jika ia memilih menjadi bayam.  Pilihan seseorang untuk menjadi seperti apa, adalah kemerdekaan hidup. Pada akhirnya,  semuanya hanya sebuah kehidupan,  mirip sebuah keranjang belanjaan. 

Pilihan itu sendiri bersifat terbuka dan bebas.  Sehingga hidup selalu bebas untuk memilih apa saja dan kapan saja.   Kematianpun, meski tak punya daya untuk memilih, namun ada sekelompok orang yang  suka "memaksakan" peristiwa kematiannya sendiri atau kematian orang lain.  Keduanya ini sama-sama "no choice" atau hilangnya kemerdekaan untuk terus hidup.  "Enough" adalah judul film drama-thriller America tahun 2002 yang dibintangi Jennifer Lopez sebagai Slim, istri yang mengalami  "physical abuse" dan "unfair affair" oleh suaminya, Mitch. Mitch memaksakan "open marriage" dengan memiliki "affair" diluar dan pada akhirnya ia "memaksakan" kematian untuk istrinya sendiri. Slim melawan dengan belajar "self-defense" dan berhasil mengakhiri kebrutalan suaminya, sebagai upaya "self-defense," menurut laporan kepolisian Los Angeles. Slim dan Gracie melanjutkan hak hidupnya di Seattle. Tentu plot film yang diambil dari novel laris "Black and blue" tahun 1998 ini sesungguhnya "nyata" dalam kehidupan manusia zaman ini.  Seseorang sengaja dengan niat jahatnya memaksakan kematian kepada orang lain. Dan karena "everyone has a limit," maka akan ada arus deras perlawanan atas segala bentuk pemaksaan kehendak, sampai tuntas, seperti dalam "Enough."  

Kita semua faham, setiap pilihan diikuti resiko. Kita akan dikenal oleh orang lain karena cara kita memilih sesuatu.  Jika kita memilih untuk atheist ataupun agnostic, maka kita dikenal oleh kerabat sebagai orang yang berbeda dari mainstream. Memang orang yang berbeda, tak banyak. Di dunia ini lebih banyak kita mengenal orang lain sebagai orang yang "mempercayai" adanya iman dan Tuhan, yang kurang lebih proporsinya 88% [the world factbook, 2010]. Populasi diluar mainstream kurang lebih 12% masuk sebagai "non-religious dan atheist" dari  total populasi 7 miliar penduduk.   Meski  "percaya" kepada Tuhan itu beragam interpretasi dan variasinya dalam keyakinan.  Lalu dunia ini penuh warna, karena aneka pilihan bebasnya. Ada yang menyebut Tuhan dengan Aten, He who is, I am that I am, Allah, Yahwe, Jehovah, Elohim, Adonai, Al-Elah, Brahman, Krishna, Baha, Waheguru, Ahura Mazda, dst. Lalu menciptakan agamanya dan beribadah kepada Tuhan yang diimaninya. Dunia menjadi penuh.             

Jika orang masih bisa memilih untuk mati, namun satu-satunya yang tak bisa dipilih adalah kelahiran. Kelahiran menjadi pembatas untuk memilih bebas.  Kapan dilahirkan, dari orang tua mana dan dimana dilahirkan, sepenuhnya manusia tak punya pilihan, bukan? Kelahiran telah melahirkan bangsa-bangsa yang beragam.  Cara manusia hidup di zaman tertentu melahirkan banyak kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Pada akhirnya, semuanya itu adalah bumi yang hidup.    

Atheist dan agnostic percaya bahwa kehidupan ini sepenuhnya adalah pilihan sendiri. Jika bisa sukses itu karena dirinya sendiri.  Dan jika gagal,  itu juga karena diri sendiri. Keduanya,  cenderung tak menghitung atau menyalahkan pihak-pihak lain.  Hidup adalah "murni" kebebasan dan kemandiririan diri sendiri.  Semua kesuksesan dan kegagalan karena kebebasannya sendiri. Dan itu mandiri, karena "tidak" bergantung sama sekali oleh adanya iman percaya kepada Tuhan. Tuhan bukan pihak lain yang menentukan sukses atau gagalnya. Menjadi bebas penuh dan full mandiri adalah resiko langsung dari jalan hidupnya. Sehingga ketika hidup harus diakhiri, keduanya percaya bahwa kematian adalah takdir dan memang harus berhenti.  Oleh siapa itu dihentikan?  Mereka percaya oleh hidup itu sendiri, bukan oleh Tuhan dan bukan oleh kerja alam semesta.
 

Sebaliknya,  seorang believer tidak sepenuhnya bebas dan tidak sepenuhnya mandiri.  Gerakan hidupnya ada yang membatasi, yaitu aturan Tuhan dan aturan yang dibuat manusia.  Mau tak mau, hidupnya diikat oleh aturan dan tata tertib pihak lain sesuai kepercayaannya.

Ia juga tidak seratus persen mandiri, karena sangat bergantung kepada campur tangan Tuhan [keterlibatan pihak lain, yaitu Tuhan].  Hidupnya ia gantungkan pada deity, the supreme being atau Godliness.
Inilah resiko langsung menjadi orang percaya akan adanya Tuhan.

Believer, percaya bahwa semua kehidupan berasal dari  Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Karenanya hidup adalah  "gabungan" antara pilihan sendiri dan rencanaNya.  Oleh karena itu, hidup tidak murni bebas dan tidak sepenuhnya mandiri.  Ia harus dikelola sedemikian rupa, sehingga serasi selaras dengan pathwaynya Tuhan.


Ada kemungkinan jika orang beriman sukses [bertabur black-forrest cakes], itu karena faktor gabungan usahanya dan pertolonganNya [campur tangan Tuhan].  Orang percaya yang sombong, bisa terperangkap bahwa jika sukses, murni karena jerih payahnya sendiri, dalam hal ini bisa mirip atheist dan agnostic.

Orang beriman yang gagal [banyak menyimpan anti-depressant pilss], percaya bahwa karena Tuhan belum merestuinya atau belum waktuNya. Namun orang percaya yang "kurang" percaya [kurang yakin], jika gagal, bisa-bisa ia menyalahkan pihak lain. Yang terdekat adalah Tuhannya.  Mengapa sudah bertekun dalam doa dan berusaha keras, masih gagal juga? Ia lupa bahwa Tuhan turut serta dalam segala hal hidupnya, baik maupun tidak baik.   Mengapa demikian? Karena ia tidak sepenuhnya bebas dan tidak sepenuhnya mandiri. Ia harus hidup sesuai rencana besar Tuhan. Bagaimana ia bisa tahu rencana Tuhan? Tentu dengan komunikasi intens dengan Tuhan, sesuai cara masing-masing.

Secara alami kehidupan memiliki siklus atau gelombang.  Ada kelahiran, menjadi besar, kemudian mengecil lalu mati.  Pada umumnya faham "life begins at forty" sejak tahun 1930-an di Amerika, masih "relevan" hingga hari ini, bukan?  Umumnya hidup beranjak sukses di usia 40-an tahun keatas, beberapa orang mulai di usia lebih muda 20/30 tahun sudah menjadi CEO dan memiliki perusahaan sendiri.  Beberapa orang mulai bersinar diatas 50 tahunan.  Pada umumnya kehidupan mulai menurun setelah 50/60 tahun, namun ada yang baru di usia 70-80 tahun.  Perkecualian yang dunia ketahui adalah Ronald Wilson Reagen dari Illinois, lahir 1911 dan menjadi Presiden Amerika ke 40 tahun 1981, pas di usia tua 70 tahun. Ia pernah menjadi gubernur California ke 33 tahun 1967 sampai 1975 di usianya yang ke 56-64 tahun. Reagen,  baru meninggal di usia sangat tua 93 tahun, di tahun 2004 di Los Angeles, meninggalkan 5 anak yang bahagia. Dunia ingin meniru Reagen seakan-akan tetap mau berjaya terus sampai tua, tapi sangat sedikit yang bisa meraihnya.  Reagen, salah satu exception dunia. Exception lainnya masih banyak sekali, baru di wisuda S-1 lalu meninggal, baru lahir sudah selesai, dst.

"The other side of equation"  akan mengatakan “life does not begin at forty…, it just slows down”  justru menurun mulai usia 40.  Penelitian terbaru dalam jurnal Neurobiology of Ageing, tahun 2008, menurut Dr George Bartzokis, profesor psikiatri di Semel Institute for Neuroscience dan Perilaku Manusia di UCLA, otak kita tumbuh tercepat sampai usia 39, setelah itu  menurun “pada tingkat percepatan.” 

Itu berarti bahwa reaksi juga melambat.  Hilangnya kulit lemak [sarung pelindung, protective sheaths], yang melapisi sel-sel saraf, yang disebut neuron, selama usia pertengahan menyebabkan proses perlambatan [ageing].  Lapisan sarung pelindung bertindak sebagai isolasi, mirip plastik yang menutupi kabel listrik, yang memungkinkan semburan cepat sinyal terjadi di sekitar tubuh dan otak.   Ketika sarung selubung memburuk, sinyal di sepanjang neuron akan melambat,  ini berarti waktu reaksi dalam tubuh juga melambat.  Ilmuwan di University of California, Los Angeles,  menemukan bahwa setelah usia 40 tubuh “kehilangan pertempuran” untuk memperbaiki sarung pelindung.


Mereka  menguji seberapa cepat laki-laki berusia 23-80 tahun bisa menekan jari telunjuk mereka dalam sepuluh detik.  Semakin cepat jari mampu menekan,  frekuensi muatan listrik semakin cepat pula. Inilah yang disebut sebagai proses potensial aksi dari neuron syaraf di otak (neuronal action potential atau AP).  Pengukuran integritas selubung myelin di lobus frontal otak, menggunakan scan MRI.   Hasilnya mencolok, semakin tua, kita mulai kalah dalam pertempuran perbaikan. Itu berarti rata-rata kinerja jaringan secara bertahap mengalami penurunan seiring dengan usia,  pada tingkat percepatan, an accelerating rate.
Proses kerusakan myelin tsb dimulai pada usia pertengahan dan “perlahan-lahan” mengikis kemampuan myelin untuk mendukung  frekuensi AP.  Itulah mengapa semua orang tua bergerak lebih lambat dibandingkan saat mereka masih muda.  Penelitian juga menunjukkan kerusakan myelin juga mengurangi fungsi otak lainnya yang membutuhkan koneksi cepat, seperti memori.  

Intinya, pada akhirnya semua kehidupan toh secara  perlahan, pasti meredup seperti lampu kehilangan cahayanya.  Ia terus “mengecil” baik dari sisi produktifitas maupun kontribusinya.  Lalu pada akhirnya toh mati juga.  Selesai sudah, game-over.

Lalu yang menjadi penting adalah apa yang sudah dilakukan dan belum sempat dilakukan semasa hidup.   Disitulah legacy masing-masing kehidupan akan dikenang oleh sejarah dan dituliskan, tak hanya meninggalkan batu nisan dan abu jenasah.  Semua kehidupan apapun itu pilihannya, selalu dimulai dan akan  diakhiri.  Ketika dimulai, dirayakan dan ketika diakhiri, juga dirayakan, apapun itu warna pilihannya.      


Sumber gambar: dailymail.co.ud & wikipedia.org